Alunan musik bernuansa pop - jazz terdengar begitu mengasyikkan di ruangan bernuansa putih dan abu tersebut. Terlihat 3 orang lelaki sedang fokus dengan laptop dan gagdet masing-masing di tangannya. Entah apa yang sedang mereka rampungkan. Kening nya sesekali terlihat mengkerut lengkap dengan beberapa gerakan bibir nya yang komat-kamit.
"Dav, kasus yang lo handle katanya udah naik Banding ya?" Tanya Rio tiba-tiba, tanpa mengalihkan pandangannya.
"Iya. Client gue keukeuh minta dijabanin si lawan nya." Sahut Dava.
"Gimana dong? Yakin menang lagi gak?"
"Harusnya sih menang, karena over all kalo gue liat secara data dan fakta, client gue lebih kuat." Timpal Dava lagi.
"Ya baguslah. Pokoknya lo atur aja jadwalnya, karena minggu depan udah pasti kita riweuh." Goda Rio seraya melirik ke arah Radito yang masih fokus dengan tablet nya.
"Oh jelas, gue gak akan lewatin momen berharga di minggu depan nanti." Jawab Dava seraya tertawa.
"Dit, lo lagi fokus ngurusin acara tunangan lo apa lagi balesin chat client lo?" Tanya Dava kepo.
"Client gue." Jawab Radito tanpa ba-bi-bu
"Dia minta berkas nya cepet limpah. Dia pikir kita penyidik apa." Lanjut Radito menggerutu.
Shit!
"Persiapan acara lo gimana? Udah aman?" Lanjut Rio bertanya sedikit panik.
"Aman. Gue pengen Salma yang urus aja biar sesuai dengan keinginan dia."
"Cincin lo udah beli?"
"Udah."
"Bucket bunga?"
"Tinggal ambil aja."
"Catering?"
"Aman."
"Fotografer?"
"Udah ready."
"Venue dan decor?"
"Aman juga. Kita milih dirumah Salma."
Dava dan Rio kompak saling melirik. Terbesit keanehan ditengah sibuknya aktifitas Radito dan Salma tapi untuk acara tunangan tetap maksimal persiapannya.
"HAHAHAHA."
"Malah ketawa lo." Protes Radito seraya tertawa
"Gini nih kalo orang-orang aktivis dan anak event pada disatuin. Apalagi ngurusin acara mereka sendiri. TOP!" Puji Dava seraya menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Dasar lo Dav." Sahut Radito.
"Gue sama Salma udah sepakat kalo acaranya dibuat sederhana aja yang penting khidmat."
"Itu gue setuju sih.""Lo gak deg-degan Dit?"
"Lumayan sih. Nervous ada karena ini momen pertama kali dan terakhir dalam hidup gue." Jawab Radito mantap.
Drrrt Drrrrt
"Hallo." Radito langsung mengangkat telepon nya.
"Oke, saya kesana sekarang ya." Jawab nya dengan suara rendah.
"Kamu tunggu di depan minimarket biasa." Sambungnya, lalu menutup telepon.
"Salma Dit?"
"Iya, dia minta jemput. Gue duluan ya gapapa?"
"HAHAHAHAHA"
"Lo kenapa malah ketawa?" Sahut Radito dengan tawa nya yang cukup renyah.
"Akhirnya mata belo gue ini menyaksikan sohib ambis nan idealis gue yang satu ini bisa langsung caw jemput cewek. Bangga gue Dit." Jelas Rio.

KAMU SEDANG MEMBACA
Workholic Lecturer
Teen FictionRadito Rama Wirayudha, seorang dosen sekaligus legal konsultan di perusahaan ternama yang sangat cinta akan profesi nya. Salma Putri Hadiwijaya, seorang mahasiswi pascasarjana sekaligus dosen tidak tetap alias diperbantukan di kampus almamater nya...