11. Punches and Stares

1.7K 217 24
                                        

──── P r o o f ────
.
.
.
.
.

Chapter sebelumnya ...

"Tidak mungkin aku datang ke sana seorang diri, kan?" Gadis yang wajahnya terlihat lesu itu menghela napasnya kasar. Tujuannya saat ini adalah kembali ke unit apartemennya.

Dipikir-pikir, [name] seperti melakukan bunuh diri jika datang ke tempat musuh sendirian.

🎐

Kala matahari telah muncul untuk menggantikan tugas sang bulan, saat itulah waktunya manusia untuk bangun dari mimpi yang memeluknya setiap malam agar harapan yang diinginkan tak hanya terus mengawang di setiap bunga tidurnya.

Begitu pula dengan gadis bermanik blueberry yang kini tengah memakai sepatunya dengan malas. Perempuan bermarga Aomi itu harus terbangun dengan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat perkelahian sebelumnya. Beberapa plester luka masih menempel di wajahnya.

Tangan itu tergerak mengunci bilik apartemennya. Celana panjang serta kaos putih dan tak lupa gakuran Fuurin yang melekat di tubuhnya. Sekarang [name] telah siap menjalani hari yang baru.

Saat kaki itu hendak melenggang pergi, [name] justru terpanggil oleh suara pintu yang terbuka di samping bilik apartemennya. Terlihat sosok pemuda dengan surai dwiwarna yang terlihat rapi dengan gakuran Fuurinnya.

Tanpa sengaja netra unik keduanya saling bertubrukan. Sakura tersentak kecil kala menyadari sosok [name] yang berdiri di sana. Ia teringat jika remaja bersurai biru kehitaman itu kini adalah tetangganya.

Tanpa bicara sepatah kata pun, Sakura langsung beranjak pergi dari sana meninggalkan [name] yang masih berdiri dengan wajah bodohnya.

Semenjak pertarungan antara Fuurin dan Shishitoren, dua remaja berambut unik itu belum bertegur sapa─bertengkar─sama sekali.

🎐

Lalu lalang sedikit orang menjadi pemandangan yang terlihat di mata [name], langit cerah tanpa awan mendung di atas sana tak menghalangi semangat para pedagang di pusat perbelanjaan Tonpu untuk membuka gerai mereka.

[Name] berjalan pelan di belakang pemuda dengan surai monokrom yang dirasa tak keberatan jika gadis berkedok laki-laki itu mengekorinya. Mau bagaimanapun tujuan mereka kini sama, yaitu ke SMA Fuurin.

"Di galangan kapal Senkan, di sebuah pabrik bekas, di sanalah markas mereka."

[Name] menundukkan kepalanya, otaknya seolah tengah memikirkan sebuah keputusan besar. Ucapan yang Ryu katakan padanya satu hari yang lalu kini hinggap di kepala gadis itu.

"Aku harus mencari di mana tempat itu, aku akan mengendap-endap agar tidak ketahuan," pikir [name].

Tindakan beresiko yang gadis itu rencanakan belum sepenuhnya bulat, [name] saat ini dibuat meragu. Gadis yang kini tengah menyamar itu adalah seorang pendatang, ia tidak sepenuhnya tahu tentang seluk-beluk kota Makochi. Kemungkinan terburuknya, ia bisa tersesat dan tidak bisa kembali.

[Name] menghembuskan napasnya pasrah. "Seharusnya aku bertanya lebih detail tentang tempat itu pada si kepala imo ..." ucap gadis bermanik blueberry itu dengan lemah. [Name] menemukan panggilan baru untuk Ryu.

Saat sedang sibuk-sibuknya menyusun rencana, ujung mata gadis itu tanpa sengaja menangkap pemandangan yang cukup mengganggu. [Name] menghentikan langkahnya, kini ia telah menoleh sepenuhnya.

Tepat di seberang jalan ada seorang laki-laki yang tengah merangkul seorang gadis. Perempuan dengan rambut panjang sebahu itu terlihat menautkan kedua tangannya di depan dada seolah sedang ketakutan.

𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang