13. Rise to the Occation

1.2K 169 49
                                        

──── P r o o f ────
.
.
.
.
.

"[Name]-chan tidak boleh menyebut mereka seperti itu lagi, ya."

Jemari ramping milik wanita itu menyusuri setiap helai panjang rambut milik gadis kecil yang duduk membelakanginya. Ia dengan telaten mengepangnya menjadi satu.

[Name] kecil merengut, ia memainkan ujung bajunya. "Tapi ... mereka marah saat aku memanggil mereka dengan namanya," ungkap [Name] dengan suara rendah. Suasana hati gadis kecil itu sangat murung, sama seperti langit mendung di luar sana.

Tak menjawab, wanita itu menyelesaikan kepangan pada rambut [Name] dan beralih duduk di hadapan gadis kecilnya. Memandangi duplikat dirinya dengan senyum lembut di wajah indahnya.

"Tetap saja tidak boleh." Wanita tersebut—ibu [Name]—meraih wajah cemberut putrinya. Suaranya tenang, bagai angin di musim semi. "Di setiap nama itu terselip do'a dan harapan untuk seseorang yang memilikinya, begitu juga dengan [Name]-chan."

"Jadi ...." Sang ibu mengarahkan jari kelingking [Name] ke arah jari kelingking miliknya, menautkan keduanya, membentuk sebuah ikatan. "Ayo berjanji, [Name]-chan harus menyebut nama mereka dengan benar, ya!"

Senyuman itu adalah senyuman paling indah yang ada di dunia, seperti terang yang hadir di ruang hampa. Dan [Name] berjanji akan menjaganya, ia akan melawan apa pun yang berani menghancurkan keindahan itu dengan tangannya sendiri.

🎐

Awan tipis berarak mengikuti udara yang membawanya pergi, gemerincing lonceng angin di bawah langit biru membawa rasa damai di tengah ramainya pusat perdagangan Tonpu.

Sakura, Suo, Nirei, serta Kiryu dan Tsugeura berjalan bersama setelah tak ada lagi yang bisa mereka lakukan di sekolah. Kali ini tidak ada jadwal patroli untuk Tamon, jadi mereka bisa bersantai saat jam pulang.

Perjalanan santai itu diiringi perbincangan ringan antara Nirei dan Tsugeura, sementara tiga pemuda lainnya hanya mengamati interaksi keduanya.

Di sela-sela keterdiamannya, si pemilik manik dwiwarna tersentak kala ia melihat tiga orang asing dengan jaket yang mencolok tengah berjalan dengan tingkah mencurigakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di sela-sela keterdiamannya, si pemilik manik dwiwarna tersentak kala ia melihat tiga orang asing dengan jaket yang mencolok tengah berjalan dengan tingkah mencurigakan. Dengan jiwa kepemimpinan, Sakura melangkah maju. Ia berucap dengan wajah penuh tanya, "Apa kalian mencari sesuatu? Mungkin kami bisa membantu."

Tiga sosok asing itu terhenti, kehadiran mereka disadari. Mereka tidak masuk terlalu dalam ke kota, tapi mustahil tidak bertemu dengan anggota Bofuurin yang ada di setiap titik kota. Belum lagi kehadiran ketiganya yang seperti membawa ancaman.

"Wah, kebetulan sekali kami mencari orang seperti kalian," ungkap salah satu dari ketiganya. Netra cokelat itu berpendar mengamati anggota Fuurin yang ada di sana. Nada kecewa menguar bersamaan dengan senyum ambigu, "Tapi, mereka tidak ada di antara kalian. Sampai jumpa."

𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang