– next time, let's play again
•
•
•
•
•
"Kau sedang apa?"
Tangan kecil yang sibuk mencabut bunga di antara rumput itu terhenti, kepala dengan surai biru kehitaman yang dikepang menoleh. Kebingungan tergambar di wajah [Name] kecil.
Sementara, seorang anak perempuan yang terlihat seusia dengan [Name] ikut berjongkok di hadapannya. Anak itu memiliki surai hitam yang tergerai, poni menutupi dahinya, dan memandang [Name] dengan senyum lebar.
"Aku Mina! Ayo kita main, lihat aku punya bola!"
Mina, gadis kecil itu menunjukkan bola karet yang ia punya. Suaranya terdengar manis, sama seperti wajahnya.
[Name] kecil berkedip kaget. Tadinya [Name] sempat melihat Mina turun dari sebuah mobil yang terparkir di depan rumah utama. Mina datang bersama kedua orangtuanya, ayah dan ibu Mina terlihat akrab dengan ayah [Name].
Si pemilik manik blueberry menggelengkan kepalanya. Peringatan dari sang ayah untuk tak keluar dari rumah kembali mengusik, wajah dingin dan suara tajam pria itu membuat [Name] menunduk dalam. "Aku tidak boleh—"
Mina tak ingin penolakan, ia lekas menarik tangan [Name] dan membawanya ke halaman dekat rumah utama. Bocah berambut hitam itu berdiri dengan jarak yang tak terlalu jauh dari [Name], tangannya mengangkat bola, bersiap melempar. "Tangkap ini!"
[Name] kecil yang awalnya terlihat ragu pun ikut terbawa suasana.
Mina tak seperti bocah-bocah yang ada di sekitar [Name], ia tak melihat gadis Aomi itu sebagai sesuatu yang harus dijauhi.
Mina menerimanya tanpa syarat, tanpa pertanyaan.
Lingkungan tempat gadis bermanik blueberry itu tinggal tak pernah memberikan hal semacam ini. Sosok Mina adalah sesuatu yang baru di hidup [Name]. Kehadiran seorang teman benar-benar nyata.
Bola memantul dari sepasang tangan ke tangan yang lain, tawa riang kedua gadis kecil itu terdengar membahagiakan. Sampai [Name] melupakan peringatan dari sang ayah.
Lalu, tanpa sengaja [Name] menangkis bola cukup kuat hingga benda karet itu memantul melewati Mina dan berguling ke arah jalan beraspal.
"Akan kuambil!" Mina tersenyum, ia berlari ke arah jalan.
Di belakang, [Name] ikut menyusul.
Jalan tersebut terlihat sepi, gadis bersurai unik itu memelankan langkahnya, menghampiri Mina yang sudah mendapatkan bolanya kembali.
Namun, dunia tahu cara menorehkan tragedi.
Desingan angin tiba-tiba terasa menusuk kulit. Sebuah mobil yang datang entah dari mana melaju kencang, bunyi rem berdecit dan raungan klakson bagai teriakan maut. Lalu, semua terjadi begitu cepat.
Mobil itu menelan tubuh kecil Mina, menekan dan menyeret. Kemudian melarikan diri, sembari membawa jejak merah kematian di sepanjang jalan.
Di sisi yang lain, tubuh [Name] tergeletak, kepangan rambutnya terurai. Merah darah yang menetes dari kepala membawa rona ungu di rambut birunya. "Mina ...." Tubuh kecil itu terasa remuk sehabis terhantam kerasnya mobil.
Panggilan itu dicekat angin. Tangannya terulur, berusaha meraih walau sia-sia. Cahaya di mata biru itu lenyap, berganti ruang kosong.
Bola karet berwarna kuning yang mereka mainkan tadi, kini terpantul menghampiri [Name] dan berhenti di sampingnya, ikut bersedih.
Matahari sore masih menetes hangat, sinarnya terpantul lewat genangan merah berbau besi di atas jalan lapang.
Permainan hari itu tak pernah selesai.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿
Fanfiction"Jangan menilaiku dengan standar yang kau buat, aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Karena aku bukan orang lain." Seorang remaja yang selalu disebut sebagai sebuah produk gagal yang terlahir di dunia, disepelekan, dan direndahkan. Demi memenuhi p...
