"Jangan menilaiku dengan standar yang kau buat, aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Karena aku bukan orang lain."
Seorang remaja yang selalu disebut sebagai sebuah produk gagal yang terlahir di dunia, disepelekan, dan direndahkan.
Demi memenuhi p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
- a moment too late • • • • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku tak mau gagal lagi ..."
Napas sesak beradu dengan pelik yang mengekang, [Name] merasa waktu seakan melambat, menekannya dalam memori penuh luka. Tangan sang gadis terulur, berharap untuk cepat meraih tubuh itu dalam dekapannya.
"Kena kau!"
Teriakkan penuh senang yang baru saja ia dengar membuat [Name] menoleh cepat dengan mata membelalak.
Pada akhirnya [Name] sadar bahwa ia sedang dalam sengitnya pertarungan, bukan ada pada jalan luas penuh sepi dengan genangan darah di atasnya.
[Name] menarik kepalanya untuk menunduk, ia hendak berbalik guna menahan. Geraknya terlambat, tongkat besi itu berhasil mengenainya. Bukan pada kepala, melainkan punggung sang gadis.
Di saat yang seperti itu, [Name] tak dapat menahan tekanan yang diberikan. Tubuhnya ambruk membentur tanah dan terguling. Pemilik manik blueberry itu tergeletak tak jauh dari Nirei. Dengan penuh usaha, ia menopang tubuhnya menggunakan tangan dan merangkak dengan napas tersengal.
Perih dari bulir keringat yang membasahi mata seolah tak terasa, rasa remuk di punggungnya bukanlah apa-apa. [Name] berhasil meraih Nirei, gadis itu terduduk seraya menarik si pemuda ke dalam perlindungannya.
[Name] memejamkan matanya, ia berucap lirih, "Daijoubu ... Aku tidak akan gagal lagi."
Dalam dekapan itu, Nirei menyipit nanar. Suara lemah [Name] semakin membuatnya merasa pilu. Walau tak tahu apa maksudnya, ia dapat merasakan bahwa ucapan itu bukan sekadar kata, tapi juga luka lama yang masih basah dan belum sepenuhnya sembuh.
Di sisi lain, kerasnya pertarungan tak akan menunggu siapa pun untuk bersedih atas masa lalu.
Posisi [Name] dan Nirei saat ini adalah sasaran empuk untuk musuh. Tepat di belakang sang gadis, satu anggota Keel tengah tersenyum puas sembari mengayunkan tongkat, bersiap memukul.
Gadis bersurai biru kehitaman itu menyadarinya. Namun, ia enggan menyingkir atau sekadar menangkis. [Name] hanya diam meringkuk, membiarkan dirinya menjadi tameng untuk seseorang.