──── P r o o f ────
.
.
.
.
.
Chapter sebelumnya ...
Rasa panik dan takut memenuhi wajah Nirei kala itu. Tak ada pergerakan dari [name], remaja itu benar-benar dibuat babak belur.
Suo percaya jika sang pemilik manik blueberry itu belum kalah. Sakura menatap tajam ke arah panggung dengan kedua tangannya yang terkepal.
Ryu berdiri dengan penuh rasa percaya diri diiringi sorakan kemenangan para anggota Shishitoren.
Lelaki itu masih belum menyadari bahwa seekor harimau betina telah terbangun dari tidur singkatnya.
🎐
"Apa setiap perempuan adalah seorang Ratu?" Pertanyaan polos penuh ketidaktahuan itu keluar begitu saja dari mulut seorang gadis kecil yang tengah duduk dalam pangkuan sang ibu.
Bacaan dongeng sebelum tidur sudah menjadi rutinitas yang harus dilakukan wanita itu untuk menidurkan putrinya.
Dengan senyum penuh kelembutan, wanita bersurai panjang itu menjawab, "Tentu saja. Apa [name]-chan juga ingin menjadi Ratu?" Tatapan mata blueberry miliknya turun memandang salah satu sosok yang menjadi duplikat dirinya.
Manik penuh binar dari [name] kecil menatap kagum buku cerita dongeng bergambar yang ada di depannya.
Dengan girang [name] mengangguk. "Di sini dia tampak bahagia. Apa kaa-san juga bahagia?" tanyanya sembari tersenyum manis menatap sang ibu penuh harap.
Senyuman di wajah indah wanita itu perlahan memudar, binar matanya sedikit meredup seolah mengasihani takdir yang diberikan untuknya. Tetapi, dengan pasti ukiran bulan sabit itu kembali terukir kala melihat anugerah terindah yang telah terlahir membawa setitik cahaya di hidupnya yang gelap gulita.
"Kaa-san senang saat [name]-chan ada di sini," ucapnya penuh kasih sayang seraya membelai lembut pipi berisi milik putrinya.
Perlahan [name] kecil bangkit dari pangkuan ibunya dan merebut buku bacaan yang ada di genggaman wanita itu. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan berkata, "Kalau begitu aku tidak ingin menjadi Ratu!" ungkap [name] membuat sang ibu mengerut bingung.
"Aku akan menjadi penjaga yang selalu melindungi sang Ratu. Jadi kaa-san tidak perlu sedih lagi, karena aku akan melindungi kaa-san!" tegas [name] kecil penuh tekad. Suara kecilnya yang terdengar melengking itu mampu membuat sang ibu merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya.
Dengan gemas, ia meraih tubuh kecil putrinya dan mendekapnya dengan sayang. Kamar yang remang temaram itu menjadi saksi bisu dari tawa penuh cinta juga kasih seorang ibu dan anak dengan keistimewaan yang sama.
🎐
Sorak sorai teriakkan terdengar menggema di dalam ruangan luas itu. Lelaki bersurai keunguan tersebut masih merentangkan tangannya menikmati setiap pujian yang dilemparkan untuknya. Ia merasa gembira kala melihat wajah lesu dan kaku anggota Fuurin.
Sungguh, Ryu berlagak seolah dirinya sudah memenangkan pertarungan terakhir antara Fuurin dan Shishitoren.
Sifat meningginya benar-benar sudah tidak tertolong. Rasanya sangat menggelitik sampai-sampai pemuda itu ingin tertawa sekencang-kencangnya.
"Oi!" Seruan itu membuat suasana yang tadinya riuh tak terkendali perlahan membisu. Ryu melirik tak suka pada si pelaku yang mengacaukan pesta kemenangannya.
Di sana terlihat Sakura yang memandang Ryu dengan tajam sembari bersedekap dada. "Jangan kelewat senang dulu. Lihat apa yang ada di belakangmu, dasar bodoh!" pungkas pemuda dwiwarna itu secara sarkas.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿
Fanfiction"Jangan menilaiku dengan standar yang kau buat, aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Karena aku bukan orang lain." Seorang remaja yang selalu disebut sebagai sebuah produk gagal yang terlahir di dunia, disepelekan, dan direndahkan. Demi memenuhi p...
