"Jangan menilaiku dengan standar yang kau buat, aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Karena aku bukan orang lain."
Seorang remaja yang selalu disebut sebagai sebuah produk gagal yang terlahir di dunia, disepelekan, dan direndahkan.
Demi memenuhi p...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bunyi kaki yang menapak di atas jalan beraspal memecah sepi, pada malam saat [Name] lebih memilih pergi daripada menemui Sakura. Tidak ada yang salah dengan kehadiran Kotoha, yang salah hanya perasaan aneh [Name] kala itu.
Malam yang semakin larut membuat sang gadis memilih beranjak dari taman. Persoalan janggal di hati [Name] sedikit berkurang saat perutnya sudah terisi penuh oleh taiyaki.
[Name] memandang lurus jalanan pasar Tonpu yang senyap, kepalanya menunduk, lampu jalan membuat bayangannya nampak memanjang. Udara terasa sejuk saat gadis itu menarik napas dan mengembuskannya lagi.
Saat semua kedai yang [Name] lewati tertutup rapat, ada satu tempat yang masih terlihat terang, sebuah kedai yang menjual macam-macam cendera mata. Manik blueberry itu menangkap seorang lelaki tua yang tengah berkutat dengan sebuah meja, bersiap untuk menutup kedainya.
Tak lama setelah sibuk diam dan melihat dari jauh, [Name] berjalan mendekat sembari menggulung lengan gakuran-nya. "Biar kubantu," ujar sang gadis. Tangannya mencengkeram satu sisi meja, kemudian menarik benda itu masuk sampai ke depan pintu.
Sementara, si pemilik kedai tersenyum lembut, kehadiran salah satu murid Fuurin meringankan pekerjaannya. [Name] datang tepat waktu, jika tidak, mungkin punggung tua milik lansia itu akan semakin bengkok.
"Terima kasih, Nak. Bisa tolong aku untuk menyusun kotak-kotak di sana?" pinta si pemilik kedai, jari keriput itu menunjuk beberapa kotak yang berserakan di dekat jendela.
[Name] menyanggupinya. Selama beberapa menit, sang gadis bolak-balik menumpuk satu kotak di atas kotak yang lain. Setelah selesai, ia mengusap peluh di dahinya dengan lengan, lalu tersenyum tipis seraya berucap, "Sudah selesai, Ojii-san."
Detik berikutnya, [Name] berbalik dan hendak melangkah pergi. Tetapi, sebuah tangan yang terasa rapuh menggenggam pelan lengannya. Gadis berkedok laki-laki itu menoleh, sedikit memiringkan kepala dengan satu alis terangkat, kebingungan.
Si lelaki tua lantas melepas genggamannya dan tersenyum. "Tunggulah sebentar."
[Name] mengamati tubuh bungkuk yang menghilang di balik pintu. Ia terdiam, menunggu di luar sana. Angin dingin menusuk kulitnya, [Name] mengangkat kepala, ia dapat melihat bulan yang tenggelam di balik awan.
Selang beberapa saat, si pemilik kedai cendera mata menghampiri dengan menenteng sesuatu. "Ambillah .... Aku senang kau sudah membantuku," ungkapnya. Tangan keriput itu terulur, memberikan benda yang ia pegang pada remaja di hadapannya.
[Name] sempat terpaku, usai itu, tangannya bergerak menerima dua benda tersebut.
Bunyi denting lembut terdengar kala tanzaku bergerak disapu angin. Sang gadis terpegun, ditatapnya sepasang fuurin yang ia genggam.