09. Enemy Cage

1.6K 212 46
                                        

──── P r o o f ────
.
.
.
.
.

Chapter sebelumnya ...

[Name] berjalan ke arah jendela, keinginannya untuk membaca komik hilang begitu saja. Maniknya menatap awan hitam yang bergerak seolah menunjukkan tempat sang bulan yang sedari tadi bersembunyi.

Sepasang mata blueberry itu berbinar penuh kilauan, tangannya tergerak seolah ingin menggapai sang rembulan.

"Kaa-san ... do'akan aku, ya. Walaupun kau selalu mengomeliku saat tahu aku berkelahi ..."

🎐

Cahaya hangat dari matahari pagi sepertinya telah mengganggu tidur nyenyak seorang gadis kecil yang tengah berkelana di dalam mimpinya.

Dahinya mengerut, ia mengerjabkan matanya merasa terusik. Tangan kecilnya bergerak meraba sisi lain tempat tidurnya yang terasa kosong. Saat dirasa sosok yang ia cari tak ada di sana membuat gadis kecil itu sepenuhnya terbangun.

Gadis kecil itu bernama Aomi [name]. Kedua bola mata blueberry nya bergerak mencari di setiap sudut kamar yang ia tempati. Hingga [name] menangkap sosok sang ibu yang tengah duduk membelakanginya pada sebuah kursi dengan meja di hadapannya.

[Name] kecil turun dari tempat tidurnya secara perlahan, ia kemudian berjalan mengendap-endap, gadis itu ingin membuat satu kejahilan kecil. Namun, niatnya harus pupus saat melihat kedua bahu milik ibunya tampak bergetar seolah tengah menahan tangis.

Tanpa basa-basi, [name] segera menghampiri wanita itu dan meletakkan kedua telapak tangan kecilnya pada paha sang ibu. "Kaa-san ..." panggilnya pelan.

Wanita dengan surai panjang berwarna biru kehitaman itu tersentak kecil, ia dengan cepat mengusap kedua kelopak matanya dan tersenyum ke arah [name] tanpa mengatakan apa pun.

[Name] melirik sebuah kertas yang tengah sang ibu genggam, dirinya yakin itu adalah sebuah kertas foto yang tak ia tahu gambar siapa yang ada di dalamnya.

Dengan wajah penasaran, [name] mengarahkan jari telunjuk kecilnya ke arah kertas tersebut dan bertanya, "Kaa-san, apa itu sebuah foto? Boleh aku melihatnya?" pintanya dengan nada riang disertai cengiran lebar.

Wanita yang masih tampak muda itu tersenyum lembut, telapak tangannya bergerak mengelus pipi berisi milik gadis kecilnya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini, dirinya bimbang antara harus memberitahu [name] kecil atau tetap merahasiakannya sampai tiba waktu yang tepat untuk mengungkapnya.

🎐

Jejak sunyi amat terasa pagi ini, [name] telah beranjak meninggalkan unit apartemennya menuju tempat berkumpulnya ia dengan teman-temannya yang lain guna memenuhi undangan yang diberikan Togame untuk mereka.

Pelukan embun yang terasa sejuk memenuhi setiap inci tubuhnya yang terbalut dengan kaos putih dan gakuran Fuurin, surai pendek bak laki-laki itu berayun pelan mengikuti irama sang angin.

Perasaan gadis itu kini sangat sulit ditebak, sejak tragedi petang kemarin, ia benar-benar dibuat gugup semalaman. Kejadian seperti ini adalah hal yang baru untuk [name].

Terlalu dalam merenung di sepanjang jalan membuatnya tanpa sadar semakin dekat dengan tujuannya. Di depan terowongan itu terlihat enam pemuda yang tengah menunggu seseorang.

Mendengar ketukan sepasang kaki yang mendekat membuat mereka menoleh dan melihat seorang remaja dengan surai biru kehitaman tengah berjalan santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

𝙋𝙧𝙤𝙛𝙛 | 𝗪𝗶𝗻𝗱 𝗕𝗿𝗲𝗮𝗸𝗲𝗿Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang