8. Validasi

1.1K 48 2
                                        

-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-

‼️BE A SMART READER‼️

[VOTE SEBELUM LANJUT]

🌑🌑🌑

HARI ini Aelin mulai bersekolah lagi setelah menghabiskan satu hari untuk nya beristirahat. Sebenarnya Marko belum mengizinkan untuk ia bersekolah hari ini mengingat semalam demam nya belum hilang sepenuhnya. Namun, Marko kalah dengan tatapan maut Aelin yang menatap nya memohon. Alhasil kedua insan itu pagi ini sudah tiba di parkiran sekolah.

Aelin turun dari jok motor milik Marko. Marko lantas membantu Aelin untuk membuka pengait helm yang Aelin kenakan. Punggung tangan nya mendarat di kening Aelin setelah meletakan helm yang Aelin kenakan tadi di spion.

"Aku udah ngga demam, Ko," ujar Aelin dengan nada lelah karena ini sudah terhitung 5 kalinya dalam pagi ini Marko mendaratkan punggung tangan nya di kening ataupun di pipi Aelin.

"Tetap aja. Suhu tubuh lo masih lebih hangat dari suhu normal lo biasanya." Marko turun dari motornya sambil membenarkan tas yang hanya ia sampirkan di satu pundak nya.

Oh iya. Perihal ekskul, Aelin tidak ada kehendak untuk menolak perintah Marko yang memerintahkan ia untuk keluar. Aelin sempat menawar untuk setidaknya ia menyelesaikan lomba artikel dulu sebelum keluar dari ekskul karena amanat lomba itu yang sudah terlanjur diberikan untuk dia dan tim nya. Syukurlah Marko sedang berbaik hati sedikit, jadi laki-laki itu menuruti tawaran gadisnya.

Marko menggandeng tangan Aelin untuk berjalan menelusuri lorong sekolah menuju kelas mereka masing-masing. Marko tak menghiraukan bisikan-bisikan dari sekitar dan juga tatapan tak mengenakan yang sebenarnya ditujukan oleh gadis di sebelahnya. Lain dengan Aelin. Gadis itu menunduk karena merasa terintimidasi dengan sekitar.

"Angkat kepala lo." Marko berbisik pelan di telinga Aelin.

Laki-laki itu tersenyum puas melihat Aelin menuruti ucapan nya untuk mengangkat kepala nya. Menatap lurus kedepan tanpa menghiraukan bisikan dan tatapan dari sekitar.

"Nanti ke kantin bareng. Tunggu gua samper," ucap Marko saat tiba di kelas Aelin sebelum ia pergi meninggalkan gadis itu menuju kelas nya sendiri.

Aelin mendudukan diri disamping teman sebangkunya, Adel. Adel tampak sibuk membaca novel di tangannya sebelum menyadari kehadiran Aelin.

"Hai, Lin. Gimana? Udah sehat?" tanya Adel kepada Aelin.

"Syukurlah, Del. Aku udah sehat," balas Aelin sambil tersenyum.

"Oh iya lusa kemarin lo ngga jadi ikut kumpul jurnalistik ya?" tanya Adel lagi membuat Aelin terpaku. Tak mungkin ia berkata sejujurnya. Dibanding jujur dan akan membuat semua nya tau kejadian yang menimpa nya kemarin, Aelin lebih baik berbohong.

"Iya ngga jadi, Del. Aku ada urusan mendadak."

Adel hanya mengangguk mendengar jawaban Aelin sebelum kembali sibuk dengan novel di tangan nya lagi.

Aelin berharap tidak ada yang tau kejadian nya kemarin. Ia tak mau dipandang dengan tatapan kasihan atas apa yang menimpa nya kemarin. Sebenarnya Aelin juga masih diliputi rasa penasaran. Siapa dalang dibalik semua nya? Ia saja baru masuk sekolah ini satu bulanan, itupun hidupnya di sekolah hanya tentang belajar dan mengikuti ekskul. Mana sempat ia mencari musuh.

MARKO [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang