18. Aelin, wait for me.

430 21 1
                                        

-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-

‼️BE A SMART READER‼️

[VOTE SEBELUM LANJUT]

🌑🌑🌑

SEJAK hari itu, Marko semakin tak terlihat dalam pandangan Aelin, tak lagi membalas pesan nya dan tak lagi muncul kehadiran nya di apartemen yang Aelin tempati. Bertemu di sekolah pun Marko cepat-cepat menghindar. Aelin juga tampak bak pengecut yang tak tau harus melakukan apa untuk menghilangkan keresahan di pundak nya selain mengirimi pesan ke laki-laki itu. Sekedar bertanya kabar ataupun kegiatan. Hanya itu.

Apa Marko sungguhan akan membuang nya? Apa Marko sudah mulai tak perduli dengan dirinya? Apa artinya Marko akan meninggalkannya? Lagi-lagi Aelin tak mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut yang ia harapkan hanya pikiran negatif yang hadir bukan sungguh betulan.

Ting!

Kamu baru saja mendapatkan kiriman uang sebesar xxx.xxx

Marko tak melupakan hal yang seharusnya tidak menjadi kewajiban nya. Marko tetap mengirimi nya uang bulanan seperti biasa dengan jumlah yang sama, tanpa lebih dan tanpa kurang. Aelin tersenyum tipis melihat notifikasi tersebut. Berterimakasih dengan segala bentuk bantuan yang Marko berikan. Tapi sungguh, kali ini ia hanya butuh Marko.

Kegiatan yang Aelin lakukan mengundang tatapan dari Disha. Ia menoleh dan memperhatikan teman nya yang hanya menunduk sambil memperhatikan ponsel nya yang masih menyala, menunjukan room history di e-wallet milik nya. Padahal hanya itu, kenapa Aelin seolah larut terhadap tiap kata di dalam nya?

Disha tak mau Aelin di tegur dengan guru killer yang mengajar di depan. Ia langsung menyenggol lengan Aelin yang berada disamping nya. Namun, reaksi yang Aelin berikan malah diluar dugaan nya.

"APA, SIH, MARKO?!"

Disha memejamkan mata frustasi saat guru yang mengajar di depan langsung menoleh ke sumber suara dengan wajah garang. Rules nomor 1 di kelas nya itu Tidak boleh ada yang berisik saat ia menjelaskan. Jadi kalian sudah bisa tebak konsekuensi yang akan Aelin terima.

"Siapa itu di belakang? Aelin ya? Silakan keluar daripada mengganggu pembelajaran saya!"

Aelin menghela nafas pelan. Ia tak ada hendak untuk membantah. Kondisi tubuh dan hatinya juga lebih cocok untuk di istirahatkan sekarang dibanding mengikuti pembelajaran saat ini. Kepala nya sedikit pusing dan tubuh nya terasa lemas. Lantas ia langsung berdiri lalu keluar dari kelas setelah mengucapkan kata maaf terhadap guru tersebut.

Kaki nya melangkah menuju ruang UKS. Ia berharap bisa mengistirahatkan sebentar tubuhnya agar hal ini tak terjadi lagi di pelajaran selanjutnya. Ayolah ini masih pagi. Masih ada beberapa mata pelajaran yang harus Aelin hadapi sebelum menyambut bel pulang nanti.

Sekolah pada jam pelajaran saat ini cukup sepi karena baik murid dan guru pasti sedang ada di kelas nya masing-masing, terkecuali kelas yang mendapat jam pelajaran olahraga. Matanya menatap ke arah lapangan. Murid-murid tengah mempelajari olahraga lari di sana. Kaki nya tetap melangkah hingga tak menyadari tubuhnya akan menubruk seseorang.

Brak!

Aelin baru tersadar saat mendengar bunyi bantingan tersebut. Ia menunduk untuk mengumpulkan kembali buku-buku milik orang yang ia tabrak.

MARKO [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang