11. Kidnapping

1K 45 3
                                        

-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-

‼️BE A SMART READER‼️

[VOTE SEBELUM LANJUT]

🌑🌑🌑

MUNGKIN terlalu banyak menangis semalam menjadi alasan rasa pening menjalar di kepala Aelin sekarang. Kepalanya terasa berat disaat ia mencoba untuk bangkit dari tempat tidur nya. Matanya juga mengabur dan dengkul nya terasa lemas sehingga ia beberapa kali hampir terjatuh.

Maka dari itu, Aelin putuskan hari ini untuk mengambil absen dari sekolah. Namun, sialnya saat Aelin hendak mengabari Marko agar tak menjemput nya untuk ke sekolah, Marko malah sudah tiba.

"Kok ngga siap-siap?" tanya Marko begitu mendapati Aelin yang masih membaringkan tubuh diatas ranjang berwarna merah mudanya.

Aelin menoleh ke arah sumber suara lalu meletakan ponsel yang semulanya ia pegang ke atas nakas disebelah nya.

"Kepala aku pusing, Ko."

"Makanya jangan kebanyakan nangis!" sungut Marko dengan kesal.

Marko langsung bisa menebak apa penyebab dari sakit Aelin pagi ini. Apalagi Marko bisa mendapati mata Aelin yang masih sembab dan sedikit bengkak. Membuat rasa kesal Marko bertambah sekian kali lipat. Ia semakin tak sabar untuk menghabisi Gavin di ring malam ini.

"Aku lagi sakit, ngga usah diomelin mulu," balas Aelin dengan nada lemah nya. Sungguh sama sekali tak ada tenaga untuk menghadapi omelan-omelan Marko pagi ini.

Selain karena rasa pening yang semakin menjadi di kepalanya, sakit hati nya juga belum pulih sepenuhnya. Ibarat ia masih sibuk mengumpulkan kepingan-kepingan hati yang berkali-kali dirusak itu. Namun, sialnya ia tetap tak bisa membenci si pelaku yang telah mencabik habis hati nya. Iya. Gavin pelaku nya.

"Kalo ngga mau di omelin makanya nurut!" balas Marko lagi.

Aelin hanya menghela nafas pelan lalu memejamkan mata nya kembali. Ia diam saja amarah Marko masih akan terus meluap, apalagi jika ia membalasnya. Maka ia biarkan saja Marko meluapkan kekesalannya dulu. Toh sebentar lagi Marko akan berangkat sekolah juga.

"Ya udah gua ngga masuk sekol-"

"JANGAN!"

Marko menatap ke wajah Aelin dengan tatapan mengintimidasi. Apa-apaan gadis itu berani melarangnya dengan nada tinggi?

"Kenapa?!" balas Marko tak kalah sewot.

"Lo mau bawa cowo kesini? Atau lo ng-"

"BUKAN, KO!"

"Terus?" Alis Marko naik sebelah sambil menatap ke Aelin dengan bertanya.

"Kamu kan semalem bilang kalau hari ini ada ulangan harian. Sayang kalo kamu ngga masuk, nanti mau nyusul sendirian di ruang guru?"

Marko terdiam mendengar ucapan Aelin. Ada benar nya juga gadis itu. Jika ulangan hari ini, ia ada kemungkinan bisa mencontek dengan temannya yang lain. Namun, bila ia memilih tak masuk, maka ia harus melewati ulangan susulan di ruang guru seorang diri. Membayangkan nya saja Marko sudah bergidik ngeri. Lebih baik menghadapi musuh seorang diri daripada menghadapi ulangan sendirian.

MARKO [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang