-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-
‼️BE A SMART READER‼️
[VOTE SEBELUM LANJUT]
🌑🌑🌑
HARI ini bertepatan dengan satu minggu Aelin bekerja di tempat yang Disha berikan. Pada saat Marko melarang nya kala itu, ia tidak mempedulikan nya dan tetap bersikukuh untuk bekerja paruh waktu. Alhasil besok nya saat pulang sekolah, Aelin pergi dengan di antar Disha menuju restoran milik paman nya Disha—Om Banu.
Aelin sangat senang karena Om Banu langsung menerima nya setelah bertanya sedikit perihal alasan nya bekerja. Om Banu pun meletakan Aelin di posisi sebagai waiters yang tentu saja langsung di terima oleh Aelin.
Walaupun gaji nya tak sebesar UMR di kota nya berada, tapi setidaknya Aelin merasa lega karena ia akan memiliki penghasilan sendiri dan tidak hanya mengandalkan pemberian Marko saja. Ia bertekad untuk menabung dengan gaji nya tiap bulan nanti. Ia berharap uang nya cepat terkumpul, jadi ia bisa menyewa hunian nya sendiri.
Perihal masalahnya dengan Marko, Aelin tak tahu harus membenahi nya dari mana. Pulang sekolah ia langsung menuju tempat nya bekerja. Belum lagi dengan tugas sekolah yang membebani nya sampai rumah. Aelin merasa begitu lelah dengan semuanya. Marko juga tak seperti biasanya yang ingin langsung cepat-cepat membereskan konflik diantara mereka. Tak membiarkan konflik tersebut membuat mereka menjauh.
Namun sekarang berbeda. Sudah terhitung satu minggu Marko tak mengunjunginya di apartemen. Di sekolah pun jarang-jarang mereka bertemu. Sekalinya bertemu juga seperti orang tidak saling mengenal. Hal itu juga menjadi tanda tanya di pundak teman-temannya Marko.
Baik Dipta, Jerry ataupun Liam sama-sama tak menemukan jawaban atas keterdiaman dua sejoli itu. Yang mereka dapatkan hanyalah Marko yang lebih diam dan garang dari biasanya.
"Balik dari sini ikut ngumpul ngga, Ko? Si Gio ultah. Nyewa satu restoran," ucap Dipta yang berjalan bersisian dengan Jerry untuk menuju parkiran.
"Skip dulu." Marko mengenakan helm full face nya sebelum menaiki motor kesayangannya.
"Itu Aelin, Ko. Lo ngga ngajak pulang bareng?" tanya Jerry. Marko mengikuti arah pandang yang Jerry tunjuk.
Memang benar ada Aelin disana. Marko benar-benar merindukan gadisnya itu. Tapi ia tak boleh kalah pada peperangan ini. Jika Aelin bisa baik-baik saja tanpa berniat memperbaiki masalah mereka, Marko juga harus begitu.
"Aelin!"
Sialan!
Marko melirik sinis ke arah Jerry saat dengan lancangnya ia memanggil gadis yang berusaha Marko jauhi mati-matian untuk saat ini. Aelin yang merasa terpanggil pun mau tak mau mendekat ke arah empat laki-laki itu. Ia melirik sekilas ke arah Marko yang tengah mengenakan jaket nya dengan acuh.
"Kenapa, Dip?" tanya Aelin begitu sudah dekat dengan mereka.
"Mau ikut ngga? Kita mau makan-makan. Bocah ada yang lagi ulang tahun. Si Marko ngga mau ikut. Jadi anggep aja lo perwakilan nya Marko," terang Dipta panjang lebar.
Aelin terdiam. Marko masih tampak acuh. Ia kini sudah menaiki motor nya dan hendak menyalakan motor tersebut.
"Nanti malem, Dip?" tanya Aelin balik.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARKO [On Going]
Fanfic[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini hanya tentang Marko dan obsesi gila nya pada gadis yang menjadi tawanan nya, Aelin. Entah apa yang ada dipikiran Marko hingga ia menginginkan Aelin yang notabene nya adalah kekasih dari sang musuh untuk menjadi hadiah dalam...
![MARKO [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/375793089-64-k789941.jpg)