-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-
‼️BE A SMART READER‼️
[VOTE SEBELUM LANJUT]
🌑🌑🌑
MARKO menempelkan access card untuk membuka pintu unit apartemen dihadapannya. Laki-laki dengan tinggi 187 cm itu sudah rapi dengan baju seragam sekolah. Sudah siap untuk bersekolah, hanya tinggal menjemput Aelin saja.
Tak seperti biasanya. Unit apartemen yang Aelin tempati kini sepi. Biasanya gadis itu sudah repot-repot menyiapkan bekal atau tidak sarapan untuk mereka berdua mengisi perut sebelum berangkat menuju sekolah.
Tapi kali ini berbeda. Apartemen sepi tanpa keberadaan Aelin. Pikiran Marko langsung dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif.
Aelin pergi
Aelin kabur
Aelin kembali bersama Gavin
Namun semua pikiran itu langsung enyah tatkala manik legam nya menangkap siluet gadis yang ia cari-cari itu tengah berbaring menyamping, bergelung di dalam selimut merah muda nya.
Marko memandangi punggung sempit milik Aelin. Tak ada pergerakan dari sana. Lantas saja ia langsung mendekat untuk mengecek langsung apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya.
Begitu tangan nya mendarat di atas bahu milik Aelin, tangan nya mulai merasa tubuh gadis itu menggigil. Reflek ia langsung menyentuh wajah Aelin dengan punggung tangan telanjang nya. Suhu panas menyambut nya dan itu berhasil membuat Marko khawatir.
"Aelin," ujar Marko pelan berusaha membangunkan Aelin untuk bertanya langsung tentang apa yang gadis itu rasakan.
"Mama, tolong jangan kurung Aelin," racau gadis itu di dalam tidur nya.
"Aelin, ini gua."
"Papa, Aelin juga anak Papa." Sekali lagi Aelin masih meracau.
"Aelin."
"Mama, Papa jangan tinggalin Aelin sendirian. Aelin bukan anak haram. MAMA!" Aelin terbangun dengan wajah pucat pasi dan keringat berukuran sebiji jagung menghiasi pelipis nya. Marko juga bisa menangkap luka lebam di pipi gadis itu hasil dari tamparan yang ia berikan kemarin.
Aelin menoleh dan mendapati Marko di samping nya. Tidak tau apa yang menggerakkan hati nya, ia langsung memeluk tubuh tegap itu tanpa izin dan tanpa permisi.
Tangan Marko terulur pelan untuk membalas pelukan dari tubuh kecil itu. Tangan nya juga mulai mengusapi punggung sempit Aelin dengan perlahan. Berusaha memberikan ketenangan semampu yang ia bisa. Berharap dengan begitu tubuh yang ada di pelukannya bisa merasakan ketenangan juga.
"I'm here, Aelin," ucap Marko.
"Tolong jangan kaya Mama Papa, Ko. Jangan tinggalin aku." Kata-kata itu lolos dari bibir pucat Aelin.
Gerakan tangan Marko berhenti saat mendengar ucapan haus oleh perhatian itu. Satu fakta yang ia tau tentang Aelin, Aelin memiliki luka akan takut ditinggalkan. Apalagi ditinggalkan oleh dua orang yang seharusnya menaruh keamanan untuk putra-putri nya.
"Ngga, gua disini." Hanya itu yang bisa Marko ucapkan.
Setelah beberapa menit berada di posisi yang sama, Marko pun mengurai pelukan itu saat mendengar bunyi perut dari Aelin yang berarti gadis itu lapar.
"Lo lapar, ayo kita makan dulu."
"Ngga, aku ngga mau. Kamu jangan pergi."
"Gua ngga pergi, Aelin. Kita makan dulu abis itu lo minum obat," balas Marko lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARKO [On Going]
Fiksi Penggemar[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini hanya tentang Marko dan obsesi gila nya pada gadis yang menjadi tawanan nya, Aelin. Entah apa yang ada dipikiran Marko hingga ia menginginkan Aelin yang notabene nya adalah kekasih dari sang musuh untuk menjadi hadiah dalam...
![MARKO [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/375793089-64-k789941.jpg)