10. Unwillingness

980 44 0
                                        

-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-

‼️BE A SMART READER‼️

[VOTE SEBELUM LANJUT]

🌑🌑🌑

MALAM ini adalah malam Minggu. Baik Aelin maupun Marko sama-sama tidak memiliki kesibukan sama sekali. Maka dari itu Marko berinisiatif mengajak gadis itu pergi, hitung-hitung agar gadis itu tak bosan dengan kegiatan monoton nya yang tak jauh dari pergi sekolah dan kembali ke rumah serta anggap aja sedikit reward dari Marko karena gadis itu sudah tak banyak menyulut emosi nya seperti di awal-awal pertemuan mereka.

Marko 👿:
Udah siap?

Aelin:
tinggal pake parfume

Marko 👿:
Ya udah gua otw

Jangan tanya sejak kapan emotikon iblis itu tersemat disamping nama kontak Marko. Jawaban nya setiap kali Aelin merasa sebal dengan tingkah semena-mena laki-laki itu kepadanya. Kadang emotikon itu berubah menjadi iblis, terkadang berubah menjadi monyet, terkadang juga berubah menjadi emotikon kotoran. Seakan-akan emotikon itu akan menggambarkan semua sumpah serapah dari Aelin untuk Marko.

Aelin memasukan ponsel nya ke tas selempang berwarna dusty pink yang tentu saja pemberian Marko. Iya memang semua yang menempel ditubuhnya ada pemberian laki-laki itu. Termasuk parfume bermerek Dior yang ia semprotkan ke beberapa titik di tubuh nya.

Gadis itu melangkah keluar kamar untuk memilih beberapa sepatu miliknya yang berjejer rapi di rak sepatu di dekat pintu apartemen nya. Pilihan Aelin jatuh pada sneakers berwarna putih dengan charm berbentuk ceri yang ada di dekat tali sepatu nya.

Kini Aelin sudah benar-benar siap dengan setelan rapi yang terkesan sedikit lucu. Bagaimana tidak? Aelin mengenakan sweater rajut merah muda dengan motif stoberi dan juga kulot jeans yang ia kenakan sebagai bawahan. Aelin juga menyematkan jepit rambut berbentuk pita di surai nya. Entahlah apa yang membuat Aelin memilih warna-warna dan motif imut itu untuk menjadi outfit nya hari ini.

"Pink banget, sampe sakit mata gua." Marko masuk kedalam apartemen Aelin dan langsung melontarkan kalimat ejekan itu yang berhasil membuat yang diejek mengerucutkan bibirnya.

"Emang kenapa sih kalau aku lagi mau serba pink?" tanya Aelin balik.

"Ya ngga papa. Ayo jalan."

Aelin mengangguk. Ia mengikuti langkah Marko menyusuri lorong apartemen yang sepi.

"Kita mau kemana, Ko?" tanya Aelin kepada Marko yang hanya menatap lurus kedepan sambil melangkahkan kaki nya.

"Banyak tanya. Pakai!" titah Marko sambil memberikan sebuah helm kepada Aelin.

Bagai anak ayam yang menurut pada induknya, Aelin langsung memasang helm yang Marko berikan ke kepalanya. Dengan dibantu Marko, Aelin sudah nangkring duduk diatas motor besar Marko.

Marko langsung mengendarai motor kesayangan nya itu keluar dari basement. Mata gadis yang duduk pada jok belakang Marko mengedar melihat kondisi jalan raya pada malam hari. Tangan Aelin reflek melingkar di pinggang Marko saat tiba-tiba Marko menancapkan gas motor nya lebih kencang sehingga mau tak mau Aelin harus berpegangan pada pinggang Marko karena takut jatuh.

MARKO [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang