-Semua alur maupun tokoh yang ada di cerita ini, sama sekali tidak ada sangkut paut nya dengan kehidupan para cast di dunia nyata-
‼️BE A SMART READER‼️
[VOTE SEBELUM LANJUT]
🌑🌑🌑
AELIN menghela nafas nya lelah. Seharian ini, otaknya di gempur habis-habisan dengan deretan angka yang memuakkan. Belum lagi praktek olahraga yang mengharuskan nya untuk berlari mengelilingi lapangan SMA Lentera Buana yang terbilang besar sebanyak tiga kali. Ingin rasanya ia berteriak jika ia tidak punya malu.
Ah iya, jangan lupakan lagi kewajiban nya untuk piket tiap hari Selasa seperti ini. Mana bertemu dengan kelompok yang suka mengandalkannya untuk melakukan piket sendirian. Ada saja alasannya. Ada yang bilang ingin kerja kelompok, ekskul dan yang bahkan tak masuk logika nya; Ingin buru-buru pulang.
Hei semua nya juga ingin seperti itu. Ingin cepat-cepat pulang untuk nerehatkan tubuhnya sebelum menyambut hari esok. Tapi, dibanding mengeluh, Aelin lebih memilih fokus untuk menyelesaikan jadwal piket nya. Sisa membuang sampah lalu setelah itu ia bisa pulang.
Lantas Aelin langsung membawa bak sampah milik kelasnya menuju pembuangan sampah akhir yang berada di belakang sekolah. Aelin sebenarnya sedikit takut untuk berjalan menuju belakang sekolah, karena begitu sepi dan hampir tidak dilalui oleh siapapun. Bersyukur ia masih bertemu dua orang yang memiliki kepentingan sama seperti nya.
Setelah menyelesaikan kewajibannya. Aelin langsung menggendong ransel sekolah miliknya. Kaki mungil nya melangkah menuju depan sekolah sambil sesekali mengecek benda pipih di pegangan nya.
Marko 👺
marko
aku pulang nya gimana?
Aelin menghela nafas nya kecewa saat melihat hanya ceklis satu sesudah ia mengirim pesan itu kepada Marko. Memang ketara sekali ya bagaimana bergantung nya Aelin pada Marko. Tapi jangan salahkan ia, karena Marko yang lebih dulu sukarela untuk ia bergantung kepada laki-laki itu. Apapun yang Aelin lakukan kan harus dengan persetujuan Marko kan?
marko, ini mendung banget
kamu jadi jemput ngga?
marko
marko
udah gerimis
Masa bodo lah dengan nasib nya nanti jika harus di marahi Marko. Yang penting ia harus pulang sekarang sebelum air hujan semakin berlomba-lomba untuk turun. Lantas ia langsung menunggu angkutan umum yang akan ia gunakan untuk pulang.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit lamanya, Aelin kini sudah bisa masuk ke dalam unit apartemen milik Marko yang menjadi tempat nya untuk tinggal. Tapi, kening nya mengerut melihat keadaan apartemen yang serba terang. Seingatnya, ia tak pernah lupa untuk mematikan semua lampu saat keluar apartemen. Apa mungkin ada Marko disini?
"Ternyata kamu, perempuan yang numpang tinggal sama anak saya?" Seorang wanita paruh baya muncul dari kamar milik nya. Wanita itu adalah Anita—Ibunda Marko.
Ia tak pernah berjumpa dengan wanita itu sebelumnya. Namun, dengan mendengar ucapan nya, Aelin dapat menyimpulkan bahwa wanita di hadapan nya adalah Ibunda dari Marko, kekasih nya. Kekasihnya ya? Ah anggap saja seperti itu.
"S-saya Aelin, Tante." Aelin hendak menyalimi tangan Anita, namun wanita itu nampak tak sudi. Ia malah membuang muka tak ingin menatap gadis remaja di hadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARKO [On Going]
Fiksi Penggemar[FOLLOW SEBELUM BACA] Ini hanya tentang Marko dan obsesi gila nya pada gadis yang menjadi tawanan nya, Aelin. Entah apa yang ada dipikiran Marko hingga ia menginginkan Aelin yang notabene nya adalah kekasih dari sang musuh untuk menjadi hadiah dalam...
![MARKO [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/375793089-64-k789941.jpg)