SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW DULU YA!
Hari hari sophia Jennifer Ochean benar-benar bebas. Memiliki watak keras kepala, dingin, emosional dan tomboy membuat ia tidak di sukai oleh beberapa laki-laki. Padahal ia nyaman dengan penampilannya.
Berawal dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aidan menghapus air matanya. Ia beralih menatap wajah perempuan yang sungguh sudah dirinya rindukan. 3 tahun bukan waktu yang sedikit untuk bisa menatap dan sedekat ini dengan Sophia.
Laki-laki itu tidak memiliki tenaga untuk sekadar membuka suara. Hatinya bahagia dan sedih. Akhirnya setelah 3 tahun itu ia bisa kembali mendekap gadis cantik pujaannya.
"Sesakit itu ya? Maaf, gue benar-benar nggak tahu apapun.." sesak. Dada gadis itu terdengar sempit. Ia berusaha mengatur napas. Aidan ikut teriris. Tangan kekarnya mengelus kembali kepala gadis itu.
Sekuat tenaga Aidan menggeleng. Mengatakan semua ini tidak seperti apa yang gadis itu pikirkan. "Jangan pikir aneh-aneh.."lirihnya pelan. Suara beratnya mengisyaratkan bahwa dirinya sakit namun tetap di sini dan akan selalu seperti ini.
"Gue bodoh, pacar sendiri gue lupa, bahkan lo rela nggak ngungkapin apapun walau kita udah ketemu lagi, Hati kamu pasti sakit Aidan.." rasanya seperti di tusuk duri. Sophia tidak boleh menyalahkan dirinya. Bahkan kata bodoh tidak sepantasnya keluar dari mulut gadis itu.
Ia memeluk kembali tubuh lemah Sophia. "Stop, udah cukup, kata bodoh jangan pernah terucap lagi," sahutnya dengan tegas namun tetap lembut. Ia patut sedih dengan ungkapan pahit dari mulut sang empu.
"Sakit gue udah hilang, jangan bahas apapun lagi, gue lebih sakit kalau lo maki diri sendiri, dengerin gue, lo berharga dan tidak pantas di sebut orang bodoh.." tangan itu memegang wajah Sophia. Keduannya terdiam. Aidan meringis rasa rindunya begitu besar selalu.
Sophia menahan tangan Aidan, "lo masih ada perasaan sama gue? Gue udah terlalu dalam menciptakan luka di hati lo," ia sungguh gila karena menyiayiakan laki-laki seperti Aidan, walau apapun alasannya pergi tetapi di matanya luka Aidan lebih besar di bandingkan lukannya.
"Cinta gue udah habis di lo, jangan tanya tentang itu lagi," ia bukan kasar, tapi ini hal paling sensitif. Jangan kan kata cinta, apapun ia lakukan demi gadis manis itu.
Mata Sophia menatap datar wajah laki-laki di hadapannya. Sebesar apakah cinta Aidan untuknya di masa lalu sampai ia memberikan luka tetap cinta? Apa ia juga memiliki rasa yang sama dulu? Ia benci penyakit ini.
"Jujur lo gue butuhkan.."sahutnya tajam. Penjelasan dari Aidan sangat ingin di dengarnya karena menyangkut dengan memori. Ia ingin sembuh dari amnesia yang sudah melenyapkan seluruh kisah bahagianya.
Aidan menghela napas kasar. Sepertinya jujur memang memberikan dampak yang besar untuk kesembuhan Sophia. Ia akan melakukan hal itu.
"Di taman aja? Biar lebih segar udaranya." Ujar Aidan. Ia ingin merefreskan pikirannya sebelum menyampaikan seluruh luka terhebat dalam hidupnya.
Sang empu mengangguk setuju. Harapannya begitu besar dengan kejujuran Aidan. Jika berhasil ia sungguh menyesal melupakan laki-laki terbaik di ceritanya setelah sang ayah cinta pertamannya.