11. BIMBANG

387 63 14
                                        

Happy Reading🫵🏻

Aidan melirik jam arloji yang di gunakannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aidan melirik jam arloji yang di gunakannya. Matahari menembus wajahnya. Laki-laki itu akan menjenguk gadisnya. Sesuai perkataan sebelum ke kantor ia akan mengunjungi Sophia.

Ia menghela napas pelan. Membereskan perlengkapan yang akan di bawak. Lalu menghidupkan mesin mobilnya.

Sampai saat ini, Aidan tetap menyelahkan dirinya, walau banyak kata penenang yang memenuhi otaknya. Kata penyesalan selalu menutupi semua itu.

Semesta memang banyak cara untuk memberikan bahagia, namun kenapa smesta tidak memberikan cela dirinya kembali dengan kebahagiaannya?.

Merasa tidak fokus. Ia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu memejamkan mata sejenak untuk menetralkan kembali pikirannya.

"Sophia, kalau aku pergi, apa kamu tetap bahagia?" Gumannya pelan. Rencana untuk kembali menghilang di kehidupan Sophia itu terlintas begitu saja.

Ia menggeleng lagi, berusaha menepis pikiran itu berkali-kali. Merasa tak berguna jika terus meratapi semuanyaa. Dirinya kembali menjalannkan mobil menuju ke rumah sakit.

....

Gadis itu tetap terpejam, ia begitu tenang. Entah kapan akan sadar dan melihat dunia. Namun semua orang berharap secepatnya.

Knop pintu terbuka lebar. Terlihat jelas wajah panik Haga. Ia tidak akan pernah terpikir akan menjadi seperti ini. Tubuh kekar itu berubah menjadi rapuh. Laki-laki itu menangis.

"Piaa, kok lo tidur lagi? Katanya mau jalan-jalan lagi bareng gue, lo pengecut banget," orang pendegar juga butuh di dengar. Ia bingung dan kecewa. Andai saja kejujuran tidak ada. Dirinya pasti akan selalu menutup semua itu rapat-rapat.

Kedua orang tua Sophia hanya terdiam lesu. Tatapan kosong itu terlihat jelas. Semua orang menghawatirkan gadis itu. Termasuk sampai kapan ia akan seperti ini?.

"Haga kangen Sophia.." sahabat satu-satunya kembali tidur lagi. Ia baru saja melihat wajah bahagia gadis itu tapi sekarang apa? Hanya ada ketenangan tertera di sana. Jika ia tidak baik. Ia akan egois untuk berbohong.

Untuk kesekian kalinya Haga memeluk tubuh Sophia dalam keadaan yang sama. Air mata itu terus jatuh. Seakan mengerti jika harus keluar. Mereka membasahi semua titik wajah tampan laki-laki itu.

Sophia berharga. Sophia anugerah. Penderitaan yang di alami gadis itu sudah banyak. Walau menjengkelkan tapi Haga tetap sayang. Sampai kapan pun rasa sayang dan cinta sebagai sahabat akan selalu ada untuk gadis yang terbaring lemah itu.

"Gue nggak tau sampai kapan, tapi lo harus ingat gue selalu menunggu mata lo terbuka dan memanggil nama gue dengan rasa bahagia.." ucapnya lirih, tangan kekar yang tidak bertenaga itu menghapus air mata yang sudah menganggu.

NEVERLASTING IN HEART (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang