SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW DULU YA!
Hari hari sophia Jennifer Ochean benar-benar bebas. Memiliki watak keras kepala, dingin, emosional dan tomboy membuat ia tidak di sukai oleh beberapa laki-laki. Padahal ia nyaman dengan penampilannya.
Berawal dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini tepat setelah sore mereka bertemu. Aidan kembali mengajak gadis itu untuk menemaninya berkeliling kota jakarta di malam hari.
Sophia tersenyum simpul menatap laki-laki yang sudah berdiri menunggu kedatangannya di motor vespa yang baru ia lihat malam ini.
Ia perlahan berjalan mendekat, "Udah lama?" Tanyanya pelan yang membuat Aidan menggeleng.
Laki-laki itu memberikan helm kepada Sophia. Gadis itu menerimannya, namun Aidan kembali mengambilnya kemudian memasangkan benda itu di kepalanya.
"Bisa sendiri padahal," pungkasnya pelan.
Tak menghiraukan ucapan gadis itu Aidan menaiki jok motor vespa baru miliknya. Entah untuk alasan apa namun yang pasti vespa baru itu untuk menemaninya berpergian malam ini bersama Sophia.
Sophia ikut menaiki jok motor Aidan. Ia merasakan canggung yang luar biasa. Ini bukan untuk pertama kalinya namun terus terjadi jika sedang bersama laki-laki itu.
"Vespa lo baru ya? Kok baru lihat," tanyanya sedikit heran.
"Iya baru," balasnya singkat.
Gadis itu kembali mengerutkan keningnya bingung. Untuk alasan apa Aidan membeli motor baru ini.
Ia mengangguk paham, "Gue penumpang pertama atau udah yang ke berapa?" Sahutnya bercanda.
Aidan menggeleng tipis, ia menarik tangan Sophia agar memeluknya. Gadia itu tentu kaget, namun masih bisa menetralkan perasaannya.
"Lo penumpang pertama dan selamanya," siapa sangka pernyataan itu mampu membuat hati sophia terombang ambing.
Merasa sudah aman, Aidan mulai menjalankan motornya membelai jalanan kota jakarta.
Mulai hari ini keduanya kembali mengenal lebih dekat, meskipun Sophia belum terlalu mengingatnya setidaknya Aidan masih memiliki kesempatan untuk berjuang.
Aidan begitu mencintai Sophia, ia bahkan rela merelakan perasaannya demi gadis itu. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuknya menahan semua rasa rindu pada Sophia.
"Aidan, lo nggak marah sama gue?" Tanyanya secara mendadak, tanpa ada kesalahan yang di perbuatnya sendiri.
Laki-laki yang fokus mengendarai transportasi roda dua itu sangat heran di buatnya. "Marah dalam hal apa?" Sejujurnya ini sungguh membingungkan.
Kendaraan itu mulai sedikit lambat, Aidan sengaja mengurangi kecepatannya agar Sophia bisa berbicara padanya tanpa mengeluarkan suara yang keras.
"Karena ngelupain lo sampai sekarang," rasa penyesalan itu selalu Sophia pikirkan. Ia benar-benar benci semua ini. Kekasihnya ia lupakan.
Tawa tipis itu terdengar di telingganya. Aidan tertawa. "Masa lalu jangan di bahas lagi, lo cukup fokus ke masa sekarang." Bukan dalam hal menenagkan namun masalah itu sudah selesai biarkan itu menjadi sebuah memori yang harus di simpan.