SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW DULU YA!
Hari hari sophia Jennifer Ochean benar-benar bebas. Memiliki watak keras kepala, dingin, emosional dan tomboy membuat ia tidak di sukai oleh beberapa laki-laki. Padahal ia nyaman dengan penampilannya.
Berawal dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sophia tersenyum manis ketika melihat Aidan mendorong kursi rodanya menuju parkiran mobil.
Hari ini ia sudah di perbolehkan pulang, meskipun begitu, Aidan tetap menemaninya sampai menghantar pulang.
"Gue penasaran deh sama sikap lo dulu ke gue," ujarnya dengan mata yang melirik singkat laki-laki itu.
Aidan terkekeh kecil, "Nggak ada yang berubah," Sophia mendengus tak percaya. Mana mungkin perlakuan laki-laki itu padanya tak pernah berubah.
"Jujur aja deh," kekehnya masih tak percaya dengan ucapan sang empu.
Ia menginjak rem, lalu menatap lekat mata teduh gadis itu. Sophia sontak menjauhkan tubuhnya. "Lo selalu istimewa di hati gue," gadis itu merasakan debaran jantung yang lebih cepat.
Aidan memperbaiki posisinya seperti semula, lalu kembali menjalankan mobil menuju rumah Sophia.
Selama di perjalanan, setelah kejadian itu keduanya terdiam. Tak ada percakapan lanjut dari mereka. Hanys suara musik yang mengisi keheningan itu.
Laki-laki itu membuka pintu mobil, ia menuntun Sophia duduk kembali ke kursi roda miliknya. Di kejauhan mereka sudah di sambut hangat oleh kedua orang Sophia.
Tangan kekar Aidan mendorong pelan kursi roda. Ia tersenyum tipis ketika sudah mulai mendekat pada kedua orang tua gadis itu.
"Welcome home," seru mereka berdua dengan bahagia. Mereka bersyukur karena anak semata wayangnya itu sudsh bisa kembali menghirup udara segar tanpa tali infus yang menancap di tangannya.
Sophia terkekeh geli melihat kedua orang tuanya. "Kok bisa kepikiran bikin kayak gini sih," tanyanya masih heran.
"Hargain aja Sophia.." tegur Aidan pada gadis itu. Ia menatap tajam mata Sophia. Bisa-bisanya masih bertanya.
Ia tersenyum kecut. "Iya," balasnya dengan singkat. Mereka memasuki rumah. Aidan sebagai laki-laki yang jentle menghantarkan gadis itu sampai ke kamarnya.
"Gue pamit pulang dulu," Sophia menggeleng tak mau. Entah mengapa setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah kekasihnya ia menjadi manja sekali.
"Istirahat," ucapnya pelan.
Sophia kembali menghelah napas gusar,"Gue bosan di kamar mulu," laki-laki itu menyentil gemas kening sang empu.
"Aww," ringisnya dengan mengelus keningnya perih. Aidan tertawa tipis, kemudian meniup kening gadis itu secara perlahan.
"Batu banget lo, gue mau kerja dulu," ia mengangguk paham. Lagian mereka juga bukan sepasang kasih. Aidan belum kembali mengakuinya. Walaupun dirinya sudah mengetahui status hubungan mereka berdua.