SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW DULU YA!
Hari hari sophia Jennifer Ochean benar-benar bebas. Memiliki watak keras kepala, dingin, emosional dan tomboy membuat ia tidak di sukai oleh beberapa laki-laki. Padahal ia nyaman dengan penampilannya.
Berawal dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari berlalu begitu cepat, Aidan kini sudah berada kembali di kantornya. Ia menghela napas pelan. 1 pekan ini energinya benar-benar terkuras.
Ia menatap langit Jakarta. Ingatannya kembali pada gadis tomboy yang bertemu dengannya kembali di bandara kemarin. Satu hal yang ia senang walaupun menahan rasa cemburu. Sophia menerima bunga darinya.
Pintu ruangannya terbuka, Amora memberikan satu berkas. Aidan kembali menatap datar berkas itu. "Permisi pak, ini ada berkas yang harus anda tanda tangan," laki-laki itu langsung mengambil penanya lalu menandatangani filenya.
"Terima kasih pak, sebelumnya mohon maaf pak, ada undangan makan malam hari ini bersama perusahaan Ochean." Sekretarisnya itu tahu bahwa perusahaan yang memberikan undangan adalah milik keluarga Sophia. Gadis yang memenuhi otak seorang Aidan selama beberapa hari belakangan ini.
Walaupun bahagia, ia tetap mendengarkan berita itu dengan wajah datar. Ia mempersilahkan Amora untuk kembali ke ruangannya. Aidan tersenyum simpul. Dirinya akan memanfaatkan hal ini. Ia yakin bahwa gadis itu akan datang juga.
Aidan menekan nomor vano, telpon itu tersambung. "Pesan buket bunga mawar, kirim ke restoran dinner malam ini," sang empu yang di suruh pun kaget. Bisa-bisanya langsung minta di pesankan bunga.
"Woy aidan kurang ajar, gue bukan asisten pribadi lo bangsat!" Makinya tanpa henti. Aidan hanya menghela napas kasar.
"Shut up Van, gue lagi minta tolong sama lo," ia berusaha sabar menghadapi sahabatnya ini. Aidan tahu bahwa Vano akan membantunya karena mereka sudah berteman lama. Walau mereka jarang bertemu sekarang karena waktu pekerjaan yang banyak.
Vano tertawa tipis, "gila ya lo, gue udah bagus jabatannya malah di suruh cosplay jadi kurir, yang benar aja lo," ujarnya semakin kesal dengan tingkah sahabat karibnya itu.
"Bisa diam nggak lo, kayak ibu-ibu ngomong mulu, mending ke ruangan gue," geramnya yang hanya di berikan deheman singkat oleh Vano.
Sambungan itu terputus, Aidan hanya mengangkat bahunya datar. Lalu kembali mengecek beberapa berkas yang harus di selesaikan hari ini juga.
Sekitar lima belas menit menunggu, Vano masuk ke dalam ruangannya. Ia hanya menyambutnya dengan tatapan sekilas. Tanpa di suruh laki-laki itu duduk di kursi tamu. Aidan meliriknya sekilas.
"Lo bucin makin ngadi-ngadi gue lihat," Ungkap Vano yang lelah. Walau hanya kali ini ia terlibat dalam perbucinan ini tapi dirinya sudah letih dengan satu permintaan laki-laki blasteran itu.
Aidan menutup berkasnya, "gue nunggu dia udah lama Van, lo tahu sendiri, pertama kali gue tahu bahwa dia Sophia, hati gue langsung ngejar dia, Sophia rumah gue.."lirih Aidan. Meski kita belum mengetahui pasti apa alasannya tapi gadis itu membekas di memori Aidan bertahun-tahun.
Vano menatap kosong pena di hadapannya. Ia tahu betul perasaan Aidan setelah kejadian itu mereka benar-benar seperti orang asing, bahkan untuk sekedar ingat tidak ada.