SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW DULU YA!
Hari hari sophia Jennifer Ochean benar-benar bebas. Memiliki watak keras kepala, dingin, emosional dan tomboy membuat ia tidak di sukai oleh beberapa laki-laki. Padahal ia nyaman dengan penampilannya.
Berawal dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aroma teh hangat menusuk hidung gadis dengan hijab rumahannya itu. Matanya terpejam menikmati hembusan angin yang bertiup sunyi.
Ia terdiam, memendam dan berpikir. Berusaha mengingat semuanya. Masa lalu, cintanya? Masalah hidupnya dulu? Dan bagaimana dia di masa lalu.
Kicauan burung sepintas membuat matanya terbuka lebar. Ia reflek membulatkan mata. Lalu meraih cangkur teh miliknya.
"Hai Sophia.." suara yang begitu familiar untuknya. Laki-laki itu. Aidan. Dia spontan menoleh lalu menampilkan senyuman manis.
Gadis itu menghela napas lega, lalu berdiri dari bangkunya. "Finally, udah beres kerjaan lo?" Tanyanya mengebu.
Aidan hanya terkekeh kecil, ia mengelus pelan kepala gadisnya itu. "Seperti yang lo lihat? Gue udah di sini." Ujarnya menjawab dengan tenang.
Sophia menatap jengah Aidan, lalu manarik tangan besar itu untuk duduk di sebelahnya. Sang empu tak menolak malah ia memasang wajah kesenangan.
"Batter than or nothing?" Sophia menggeleng pelan. Perlahan senyuman tipis itu hilang. Matanya menatap dalam Aidan.
"Nggak sekarang Sophia..."
"Aidan--gue butuh penjelasan.."
Tak meyangkal mata berbinar itu membuat hatinya tersentil dan ingin egois kali ini saja untuk jujur. Namun tidak mungkin.
"Boleh deep talk sekarang?" permintaan yang jelas tidak akan ia lakukan. Tetapi jika sudah mode merayu seperti ini terkadang hati dan otaknya tak sejalan
Aidan tak merespon apapun, ia memejamkan mata sejenak, lalu membuang napas dengan kasar. Tangannya mengelus tangan Sophia yang dingin.
"Cuman boleh dua pertanyaan," ujarnya memberikan tawaran, karena ia yakin gadis itu belum siap mendengarkan semuanya secara bersamaan.
Tak ingin lama berpikir, sang empu mengangguk dengan semangat. Ia tersenyum kembali. Aidan tak kuasa menahan diri agar tak kebablasan untuk memeluk gadis itu sekarang juga.
Bibi datang dengan nampan yang sudah berisi penuh cemilan dan satu cangkir kopi hitam yang masih mengeluarkan asap panas.
Ia perlahan meletakkan satu persatu toples dan satu cangkir kopi di atas meja. Sophia tersenyum, kemudian tak lupa ia mengucapkan terima kasih.
Aidan meraih gelas kopinya, lalu menyeruputnya sedikit. Matanya melirik Sophia yang dari tadi mengatur napasnya sebelum deep talk mereka itu di mulai.
"Kalau belum siap jangan di paksa.." tegurnya dengan nada begitu khawatir. Entahlah jika tak di turuti gadis itu maka akan merasa tak dianggap lagi.
"Gue 100% siap!" Pekiknya histeris. Ia tidak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Bahkan sudah di depan matanya.
Laki-laki itu hanya menggeleng pelan. Ia melepaskan jas kantornya, kemudian ia sampirkan di belakang kursi. Mata gadis itu tak lepas dari pergerakan Aidan. Ia benar-benar stuck di sana.