17. SIFAT MANJA?

172 31 11
                                        

Happy reading 🫵🏻

Bau khas kertas itu menguap dan menyelinap masuk ke penciuman laku-laki berjas rapi di ambang pintu ruangannya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Bau khas kertas itu menguap dan menyelinap masuk ke penciuman laku-laki berjas rapi di ambang pintu ruangannya. Ia menghela napas gusar. Kepalanya terasa berat sangat berat. Matanya terpejam sejenak namun selalu terlintas wajah teduh Sophia. Wanita yang sudah menjadi prioritasnya sejak beberapa tahun belakangan ini.

Belum sempat menutup pintu, ia di kagetkan dengan kedatangan Sophia. Matanya memincing tajam, lalu perlahan di gantikan dengan senyuman tipis di wajahnya.

"Boleh ngobrol sebentar?"tanyanya pelan nyaris membuat Aidan merasa sedikit berpikir pertanyaan apa yang akan keluar dari mulut gadis itu.

"Boleh, silahkan masuk," balasnya dengan lembut, namun wajahnya tetap tegas dan datar. Tak dapat di deteksi raut wajah yang sebenarnya.

Gesekkan hak sepatu berbunyi dengan tegas. Gadis itu berjalan pelan menuju sofa empuk yang sudah lama berada di sudut ruangan kerja Aidan.

Ia menimang kembali pertanyaan yang akan ditanyakannya. Sedikit beresiko membuka luka lama, namun ia berhak tahu sekarang.

Aidan melepaskan jasnya, dan melonggarkan sedikit dasi yang melingkar di lehernya. "Pertanyaan jebakan?" Ujarnya tetap dengan ekspresi datar tanpa senyuman.

Sophia hanya terkekeh pelan mendengarkan itu. Kemudian ia menghela napas pelan. "Gue siapa di masa lalu Aidan?" Seperti di hantam batu siang hari dada Aidan terasa sesak dan cemas. Hari yang ia bayangkan benar-benar terjadi sekarang.

"Bukan waktunya Sophia," nyaris seperti gumaman, namun tetap masuk ke indra pendengarannya.

Ia terdiam sejenak, lalu terkekeh kaku, "Gue siap Aidan, dan bakal tanggung resiko apapun," rahang laki-laki itu mengeras. Matanya tajam. Bahunya naik-turun menahan sesuatu yang ingin meledak.

"Kamu baru sembuh.."mata itu kembali berubah menjadi teduh. Sophia menggeleng dengan sifat keras kepalanya itu.

"Masa lalu kamu sudah selesai, jangan minta bahas suatu luka yang sudah membaik," bukan marah, bukan juga kesal. Namun ia peduli. Kesehatan mental Sophia nomor satu sekarang.

Gadis itu berdiri lalu menatap tajam mata Aidan pelan tapi menusuk. "Lo minta gue sembuh, sedangkan luka gue belum sepenuhnya gue tahu!" Bukan teriakkan tetapi sebuah suara lantang yang mengema di ruangan penuh tumpukan berkas itu.

"Gue cuman pengen tahu siapa gue, siapa sebenarnya Sophia, cuman itu.."badanya sedikit bergetar, ada sedikit sensasi emosional yang tertahan di sana. Matanya memerah, bukan ingin menangis namun menahan emosinya sekuat tenaga.

Aidan tetap Aidan. Ia kekeh dengan pendiriannya sendiri. Tidak berubah meski Sophia meraung. Karena ini demi kesehatan mental gadis di hadapannya.

Perlahan Sophia terduduk lesu di lantai ruangan. Ia lemah kali ini saja. Bukan marah melainkan kesal karena tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

NEVERLASTING IN HEART (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang