12. BERTAHAN

338 59 20
                                        

Happy Reading🫵🏻

"Mau kemana?" Ucap Vano datar

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Mau kemana?" Ucap Vano datar. Aidan yang cukup lelah itu menatap senggit sahabat karibnya. Dengan perasaan kesal ia melempar mapnya ke atas meja.

Laki-laki dengan kaca mata hitamnya itu menghela napas kasar. "Rumah sakit." Lihatlah betapa angkuh dan dinginnya Aidan menjawab pertanyaan seorang Vano.

"Bisa panjang dikit ngomongnya? Gue kayak ngomong sama robot," Sang empu hanya menyerit aneh. Lalu berjalan menatap kaca jendela. Ia melirik mobil dan motor yang berlalung lalang.

Tangan kekar itu di masukan ke dalam saku celana, kaca mata hitam yang di pakai ia buka. Seketika suasa hening menjadi terisi dengan gelak tawa dari laki-laki random itu.

"Puas lo?" Vano menahan tawannya yang tentunya akan semakin keras. Sungguh miris sahabatnya itu. Penampilan mata yang sangat memprihatinkan. Sembab seperti lebam di pukul dengan balok berkali-kali. Secengeng itukah seorang Aidan?.

Ia menggeleng, mencoba menetralkan debaran jatung karena terlalu banyak tertawa. "Gila, lo nangisin apaan?" Tanyanya terheran-heran dengan mata yang memperhatikan setiap inci bagian mata Aidan.

"Menurut lo aja sempul!" Ia menutup mulut menggunakan tangan karena sifat asli laki-laki itu keluar. Ini sebuah fenomena dan sejarah. Karena Aidan akan random dan tengil jika kesal saja.

Sang empu hanya tertawa puas menanggapi tingkah Vano. "Keceplosan, larat," Demi apapun laki-laki itu jika sudah bagian gini memang membuat otak harus berpikir lebih cepat.

"Nggak bakal kayak tiga tahun yang lalu?" Tanyanya dengan mata yang mengitimidasi laki-laki di hadapannya itu.

Raynard mengangkat bahunya seolah tak tahu. "Terlalu pengecut gue kalau dua kali pergi?" Vano menyaukan alisnya, lalu mengangguk.

"Perlu penenanggan diri boleh, asal kembali," ia tertawa tipis. Menatap bingkai foto yang berisi foto dirinya dan Sophia beberapa tahun yang lalu. Walau sudah lama tapi masih tetap bagus tidak usang.

Tangannya mengelus foto itu, "gue di sini terlalu bahagia sampai nggak berpikir kalau bakal ada badai.." sahutnya lirih yang membuat Vano menunduk terharu. Ia benar-benar menjadi saksi cinta sahabatnya itu.

Ia berjalan menghampiri sofa kembali. "Kadang cinta butuh perjuang bukan hanya sekedar kata-kata semata." Raynard melirik sahabatnya itu dengan senyuman tipis.

"Kalau dalam berjuang gue capek, boleh berhenti kan?" Seketika jantung Vano berhenti sejenak. Apa maksud laki-laki itu. Hubungan tiga tahun yang ia jaga tidak harus di akhiri.

Sang empu menggeleng, "kadang gue berpikir, Sophia nggak bakal ingat gue, karena bukan gue jodohnya." Ia menunduk lesu, sesak rasanya. Berjuang sendiri tanpa memaksa. Ia bahkan tidak tahu harus bertahan atau pergi kembali untuk selamanya?.

"Lo pengecut, jangan terlalu naif, jodoh juga terlihat kalau lo berjuang, gue nggak kenal lo yang gampang nyerah!" Pungkasnya dengan mata memerah. Ia tidak mungkin membiarkan Aidan pergi dan tidak pernah kembali.

NEVERLASTING IN HEART (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang