SEBELUM BACA WAJIB FOLLOW DULU YA!
Hari hari sophia Jennifer Ochean benar-benar bebas. Memiliki watak keras kepala, dingin, emosional dan tomboy membuat ia tidak di sukai oleh beberapa laki-laki. Padahal ia nyaman dengan penampilannya.
Berawal dari...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Satu kali, dua kali, Aidan mondar mandir menatap pintu ruangan IGD itu. Rasa kalut dan takutnya menjadi satu. Penyesalan mencerita semuannya menjadi keset yang berputar terus di kepalannya sekarang.
Kedua orang tua Sophia hanya menunduk lemah, mereka tidak tahu harus berbuat apalagi, selain pasrah dan berdoa. Semua cara sudah mereka lakukan demi anak semata wayangnya.
Tatapan kosong itu menjadi arti ketakutan bagaikan berlian yang pecah beramburan. Vano beralih menepuk pundak sahabatnya. Bagaimana pun ide kejujuran itu juga berasal dari dirinya.
"Sorry, gue tau lo kuat.."ucapnya lemah. Rasa patahan sakit itu menusuk ke tubuh dirinya. Hati Aidan seakan menusuk menggunakan jarum tajam.
Aidan melirik sahabatnya itu sekilas. Lalu menggepalkan tangannya kuat. Emosinya tersalurkan begitu saja. "ANDAI KEJUJURAN NGGAK ADA VAN, GUE NGGAK BAKAL KEHILANGAN DIA UNTUK KE DUA KALINYA!" Jatung Vano berdesir sakit. Wajah amarah Aidan jelas menggambarkan rasa sakit dirinya untuk kedua kalinya.
Jatuh dan lemah. Air mata pun ikut mengetahui perasaan laki-laki itu. Seakan seirama air mata dan kelemahannya datang beriringan.
Ia terduduk lesu di depan pintu ruangan rawat Sophia. Laki-laki itu menghentakan kepalanya beberapa kali ke dinding. Lalu terdiam bisu, seolah-olah tidak ada ke indahan lagi.
Pintu terbuka lebar. Mata gadis itu masih tertutu rapat. Memori itu kembali hadir di kepalanya. Dua tahun lalu rasa sakitnya ada. Dua tahun lalu kehancurannya bermula. Kini ia menggulang kejadian itu lagi dan dengan kesalahan yang sama. Karena keputusan bodoh dirinya.
Brankar itu berjalan perlahan, meninggalkan kehancuran yang kembali mendatangi Aidan. Ia tertawa tipis. Air mata kembali jatuh. Rapuh. Itulah kata yang bisa menggambarkan keadaannya sekarang.
"Apa aku harus pergi untuk kedua kalinya Sophia?.." ujarnya lirih. Ia menghiraukan suara teriakan dari Vano yang sudah lebih dulu mengikuti arah brankar Sophia.
Vano berlari kencang, menahan badan lemah sahabatnya. "Dia kembali koma Van, dan itu karena gue lagi.."sesak. Dada dirinya menjadi sulit bernapas. Ia ikut merasa bersalah. Sulit di bayangkan bagaimana sakitnya. memori itu kembali mendatangi Aidan.
"Lo nggak salah, semesta yang belum bersahabat dengan kalian.." miris. Hubungannya memang tidak akan pernah ada. Seakan hanya mimpi di siang hari. Semakin kuat cintanya. Semakin dalam semesta menguji dirinya.
Gemetar. Ia kembali kepada kondisi dua tahun lalu. Setelah terpaksa meninggalkan gadis kesayangannya. Sophia. Seakan berharap pada dunia. Menginginkan kebahagiaan yang tiga tahun lalu harus hilang sirna karena kepingan yang menghilang.
"Gue harus pergi Van?" Ia bertanya untuk ke sekian kalinya. Sophia koma kembali membuat dirinya semakin hancur. Apakah memang takdir tidak menginginkan dirinya bersama Sophia?.