16. JEALOUS?

287 52 10
                                        

Happy Reading🫵🏻

Suara burung terdengar riuh untuk menyambut pagi hari yang cerah ini

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara burung terdengar riuh untuk menyambut pagi hari yang cerah ini. Sophia tersenyum hangat dengan mata yang sedikit terkena cahaya matahari. Kakinya berjalan pelan menghampiri nakas.

"Gue harus kasih sesuatu sebagai rasa terima kasih," gumamnya pelan. Ia rasa tak ada salahnya memberikan suatu hal pada laki-laki yang akhir-akhir ini memenuhi isi pikirannya.

Pintu terbuka, menampilkan sosok pria berumur yang sudah rapi dengan jas dan dasinya. Ia menghampiri Sophia dengan wajah teduh penuh kasih sayang.

Tangannya terangkat mengelus rambut Sophia. "Sayang, nanti kamu mau ikut rapat? Papa ada rapat penting hari ini di perusahaan Aidan." Matanya seketika membulat. Dadanya berdebar kencang. Ini kah yang di namanya takdir atau hanya kebetulan?.

"Serius pa? Aku baru aja berencana mau ke sana nanti, kasih hadiah ke dia sebagai ucapan terima kasih," ia tertawa tipis mendegarkan peryataan yang keluar dari mulut putrinya itu.

"Terlalu romantis sayang, tapi papa tetap dukung," ujarnya pelan lalu memberikan kencupan singkat di dahi Sophia.

Gadis itu tertawa kecil, "Terima kasih pa, udah sayang Sophia." Senyuman itu luntur. Sophia tetap tenang dengan wajahnya.

Tak ingin merusak suasana Sophia tertawa, "udah siang pa, nanti telat." Ucapnya yang membuat sang empu tersadar lalu berjalan keluar dari kamarnya.

Dia menatap jendela kamarnya kembali dengan mata memincing. Wajahnya kembali pucat. Matanya memanas. Dadanya sesak.

"Harusnya aku nggak dapat ini semua dari kalian pa, ma," entah apa yang ada di pikirannya sekarang tapi kepalanya kembali memutar suatu memori kelam.

.....

Aidan memutar kursinya dengan wajah kaku dan dingin. "Urusan kita sudah selesai." Gadis itu menatap jengah Aidan . Ia terkekeh kecil mendengarkan jawaban itu.

"Harusnya lo sadar, kejadian dua tahun lalu salah dia," ucapnya kembali dengan tajam. Emosi laki-laki itu terpancing. Tangannya menggepal kuat di atas meja.

Gadis dengan pakaian tomboy itu menggeleng heran dengan keras kepala Aidan. "Gue udah peringatkan lo, dia dan Sophia berbeda. Lo udah janji nggak bakal ungkit masalah ini lagi. Baik ke gue apalagi ke Sophia." Tegas namaun menusuk.

"Lo terlalu bodoh menutupi hal ini Aidan, Sophia harus tahu. Dia lupa ingatan karena dipaksa. Kalau lo lupa Sophia itu disiksa secara perlahan." Matanya memanas mendegarkan itu. Hatinya kembali retak. Gadisnya tak perlu mendengarkan hal yang seharusnya tetap di simpan dan tak di ungkapkan.

Ia berbalik badan, "Sophia sudah melibatkan banyak korban. Bahkan dia selamat karena orang tersayangnya sendiri yang rela pergi. Apa laki-laki itu sekarang nggak menuntut apapun ke cewek lo itu? Mustahil bukan? Lo harus hati-hati dari sekarang." Ia berdiri dari kursinya matanya tajam. Rahangnya mengeras. Badannya kaku.

NEVERLASTING IN HEART (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang