13. BERJUANG KEMBALI?

321 63 16
                                        

Happy Reading🫶🏻

Kakinya kaku, wajahnya pucat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kakinya kaku, wajahnya pucat. Aidan membuka pintu ruangan itu dengan tangan yang semakin gemetar. Ia sangat takut.

Pintu terbuka lebar, semua orang di sana menatapnya bingung. Laki-laki itu melangkah cepat menuju brankar Sophia.

Gadis itu membuka matanya. Senyuman tipisnya kembali, wajahnya tetap sama. Aidan menghela napas gusar. Tangannya bergerak menyalami kedua orang tua gadis itu.

Sophia melirik laki-laki yang menampakan wajah datarnya itu. Ia hanya menampilkan senyum tipis. Matanya tak pindah, selalu menatap Aidan.

"Aidan?" Ia menunduk lesu, air matanya jatuh kembali. Benarkah itu suara Sophia. Ini terlalu halusinasi untuk kenyataan yang begitu menyakitkan.

Haga menatap jengah laki-laki berjas itu. Masih bisakah ia datang ke sini padahal ucapannya terlalu munafik.

Ia mendongakkan kepalannya kaku. Tangan kekarnya meraih diary di atas nakas lalu menatap wajah pucat Sophia. Gadis itu tersenyum manis.

Merasa bukan hal untuk di tonton, kedua orang tua Sophia dan Haga memutuskan untuk memberikan pasangan itu ruang. Bukan hal yang mudah untuk Aidan menemui kembali sosok yang sudah lama hilang.

Aidan duduk di samping brankar Sophia. Gadis itu sontak kaget. Ia bukan menolak hanya saja sedikit kaku dan canggung kembali berdekatan dengan laki-laki itu.

"Ini diary gue untuk lo," ujarnya lalu memberikan buku bertuliskan nama gadis itu.

Ia terkekeh kecil, lalu menerima benda yang di berikan oleh Aidan. Matanya memincing melihat buku itu sangat rapi dan cukup tebal.

"Maaf, gue belum sepenuhnya mengingat lo," Aidan tersenyum kecut. Bukankah cinta itu butuh perjuangan? Tapi mengapa ia harus berjuang begitu lebih banyak.

Laki-laki itu memgangguk paham. Lalu berdiri dan berpindah duduk di kursi. Membiarkan gadis itu beristirahat dengan nyaman di atas brankar.

"Kenapa lo masih percaya gue?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Aidan membuat Sophia menggeleng tak tahu apa alasannya.

Ia meraih tangan kekar Aidan. "Karena gue tahu ketulusan cinta lo buat gue." Sesak sekali rasanya. Kenapa bisa ia berpikiran untuk meninggalkan gadis ini.

"Gue terlalu berengsek buat lo," ia menggeleng keras. Laki-laki itu sudah cukup sakit dengan semua yang ia perbuat selama tiga tahun, biarkan sekarang dirinya mencoba menerima kembali.

Tatapan mata Aidan kosong. Tak ada satu pun sorot mata penuh arti di sana. Hanya ada kekosongan yang entah apa isi sebenarnya.

"Lo udah cukup sakit selama ini, jangam bikin hati lo semakin sakit untuk kedua kalinya." Telujuk Sophia menujuk pelan dada laki-laki itu dengan melontarkan kata-kata penuh penekanan.

NEVERLASTING IN HEART (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang