#17# Selalu ada

7 0 0
                                        

Mohon vote dan komentarnya

Terima kasih semuanya dan selamat menikmati.

Baca pakai hati dan imajinasi kalian yaa..

Yuk baca👇🏻👇🏻

💥💥💥💥💥💥💥💥

....

"Naren,"

Naya terkejut dan terpaku di tempat saat melihat Naren dengan wajahnya yang tegas dan matanya yang tajam fokus melawan sosok itu.

Namun fokus Naya teralihkan kala melihat Vina terkulai hendak terjatuh, ia pingsan. Naya pun dengan cepat berlari ke arah Vina sebelum ia benar-benar terjatuh, dengan cepat Naya memapahnya sekuat tenaga dan membawa Vina kembali ke kamar.

Sementara sosok itu kabur, menghilang entah kemana, tapi yang pasti.. ini bukan akhir untuk Naya.

Setelah menjatuhkan Vina kembali ke kasur, Naya pun menatap Naren yang terdiam di tempat di luar balkon itu.

"N-Naren?" panggil Naya dengan ragu, meremas bajunya seolah belum siap menerima kekecewaan dari Naren.

Naren terdiam, tak lama ia berbalik, menatap Naya datar. Wajah pucat khasnya, ditambah ekspresi datar itu benar-benar cukup membuat suasana canggung dan dingin.

"bodoh." satu kata itu terdengar menyayat hati Naya.

"Ma-maaf gue-" belum sempat Naya berbicara Naren mendekat kearahnya mengarahkan jari telunjuknya ke bibir Naya, membuat Naya terpaku menatapnya dan berhenti bersuara.

"Ceroboh sampai bikin lo hampir mati," dari sini Naya mengerti tatapan Naren terkesan ada kekhawatiran disana.

"Lu.. tau?" Naya memang tak pernah melihat Naren saat ia siuman, Namun Naya tak pernah tau, Naren selalu ada di rumah sakit itu tepatnya selalu ada di ruangan Naya saat Naya koma.

"gua emang cukup marah sekaligus kecewa Nay, gua ga nyangka bakal ada hubungannya sama seseorang yang bersedia nolongin gua. Gua mendadak menghilang karena gua gamau lepas emosi."

"Gue juga ga pernah tahu Ren, bahwa seseorang yang melahirkan gue kedunia ini yang menghancurkan kebahagiaan keluarga seseorang, sorry Ren" Naya merasa bersalah atas apa yang terjadi, sungguh hal ini tak pernah terpikirkan dalam hidupnya.

"simpan kata maaf lo itu, karena emang bukan lo. Emang ini kenyataannya." Naren menatap Naya dengan raut wajah yang penuh arti

"Anything okay? " Naren terlihat gengsi namun ia memang nampak sedikit khawatir.

Naya mengangguk mengangkat bahunya.
"Seperti yang lu lihat, gue bertahan dan kembali Ren, gue gatau Ren lu bakal ada selama gue ga sadar itu, gue pikir lu marah sama gue," ucap Naya ia pun berjalan ke depan menuju ujung pembatas balkon.

"Tch, gua bukan orang yang marah-marah gajelas." Naren mengikutinya berdiri di samping Naya.

"Teman-teman lu juga pada nanyain lu Ren, syukurlah kalo lu ternyata masih kayak gini, belum jadi kayak sosok tadi" candaan Naya membuat Naren berdecih kesal

"Ck, Jaga mulut lo. Siapa sih sosok tadi?" Sewot Naren, pasalnya sosok itu sudah mengancam nyawa Naya dan Naren tahu itu bahaya.

"Gatau Ren, dia pengen gue Mati. Menurut gue dia kiriman, tapi gue gatau siapa yang ngirim tuh sosok, dia udah beberapa hari datang ke mimpi gue yang bikin gue bangun keringat dingin Ren," Naya mengingat sejak awal sosok itu tiba-tiba hadir di mimpinya.

"Lo kemana?" Pertanyaan Naren membuat Naya mengerutkan keningnya, bingung. Apa maksud pertanyaan Naren?

"Maksud lu?" hal itu spontan terucap di bibir Naya

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 29 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The NayarenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang