28: Tengil

322 29 0
                                        

YOU POV

Setelah membersihkan diri dan mengenakan pembalut di tubuhku, aku keluar dari kamar mandi dalam kamar Niki untuk menemui sang empunya kamar yang sedang melamun di pinggiran kasurnya. Menyadari keberadaan ku, anak itu langsung memberikan olokan, "Sunoo, i love you!" yang sukses memecah tawaku penuh rasa malu. Aku pun menghampiri Niki yang masih duduk dalam posisi yang sama untuk berdiri di hadapannya, "Sunoo, i love you!" Kembali, Niki berikan olokan padaku dengan wajah menjengkelkannya itu. Memancing diriku mencubit pelan pipi Niki di hadapanku, "Niki, i love you!" ucapku sengaja ingin menggoda anak itu.

Kau tahu bagaimana ekspresi Niki selanjutnya? Terlihat sangat terkejut, sampai membuat ia membesarkan kedua mata dan bibirnya yang menyerupai bibir bebek menggemaskan. Sukses memecah tawaku penuh rasa menang, "Kenapa sih, dari tadi terus mengungkit itu?!" tanyaku sambil mengelus pipi Niki di hadapanku.

Niki yang sadat atas ketidak seriusan ku pun perlahan kehilangan senyuman di wajahnya, "Apa nuna memang begitu mudah mengatakan i love you?" tanya Niki yang langsung aku pahami. Dengan senyuman yang terukir di wajahku, berusaha aku berikan penjelasan dari ucapanku tersebut. "I love you memiliki arti yang luas. Namun, ungkapan yang nuna berikan padamu dan Sunoo memiliki kesamaan, yaitu nuna sangat-sangat tulus saat mengungkapkannya pada kalian berdua." ucapku berusaha mencari cara agar lelaki ini tak sakit hati atau sekedar kecewa dengan kenyataan tersebut.

Entah, saat bersama Sunoo rasanya ungkapan yang aku berikan benar-benar mewakili perasaanku saat itu. Sangat-sangat mencintai lelaki itu, sementara bersama Niki hanya karena aku ingin menarik perhatiannya. Berharap ia memperlakukan aku berbeda dari kebanyakan anggota lain dan sepertinya anak ini memang benar dapat di andalkan.

Tatapan polos dan pelukan tiba-tiba yang ia berikan di tubuhku, menandakan kalau ia benar-benar percaya atas ungkapanku.

"Bagiku, i love you atau aishiteru (dalam bahasa Jepang) merupakan ungkapan yang sakral dan aku tak pernah mendapatkannya dari siapapun, termasuk kedua orang tuaku." gumam Niki pelan. Aku elus belakang kepala Niki dengan lembut sebelum melepaskan pelukannya untuk menangkup wajah Niki menggunakan kedua tanganku, "Kalau begitu, nuna akan terus mengungkapkannya padamu karena kamu layak mendapatkan cinta yang sangat besar dalam hidup ini Niki." ucapku.

Niki yang mulai mempercayai ucapanku pun berkata, "Benarkah? Bukan karena nuna tak enak denganku setelah mengatakan i love you pada Sunoo?" tanya Niki yang langsung aku respon dengan memberikan kecupan di dahi, kedua pipi, dan bibir tembam Niki. "Nuna harus seperti apa agar kamu percaya pada nuna?" tanyaku sukses menciptakan blush natural di wajah Niki yang amat tampan. Bahkan matanya dan bibirnya itu terlihat sangat menggemaskan ketika bergumam pelan, "Percaya kok nunaa~" dengan suara yang sangat imut terdengar.

Aku yang mendapatkan reaksi sangat berharga dari anak ini pun berkata, "Kamu pantas mendapat banyak cinta dan hal baik di hidup ini Niki. Kau sangat berharga." ucapku perlahan memancing air mata menggenang di pelupuk mata Niki. Lelaki itu pun merubah posisinya menjadi duduk bersandar di sandaran kasur sebelum menuntun tubuhku duduk di atas pangkuannya. Awalnya aku berniat menolaknya karena selangkanganku masih terasa sakit, ditambah lagi posisi itu membuatku tak nyaman saat kedatangan tamu bulananku, namun setelah melihat ekspresi di wajah Niki yang sangat berharap, aku telan seluruh rasa sakit ku demi menyenangkan lelaki itu.

Aku duduk di pangkuan Niki yang terus menatapku memohon, "Nuna berat!" ucapku yang langsung Niki jawab dengan gelengan kepala. "Tak berat ah, buktinya aku bisa mengangkat nuna kemana pun nuna pergi sejak awal bergabung dalam lingkungan ini." ucap anak itu tanpa sadar membuatku tertawa pelan. "Bahkan sejak awal nuna sudah merepotkan mu, maafkan nuna ya Niki." ucapku yang langsung dijawab Niki dengan anggukan pelan.

"Jadi, umurmu berapa Nik?" tanyaku begitu penasaran saat Niki singkirkan helaian rambut yang menutupi wajahku sambil membawa rambutku berada di belakang tubuhku, "19 jalan 20 tahun, desember nanti." jawab lelaki itu.

HARIUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang