Bukan tanpa sebab Rakha menerima gadis asing untuk tinggal dirumahnya. Anak semata wayangnya, Rayzenㅡ ia memohon pada sang ayah agar membiarkan Hasna tinggal sementara dirumah mereka yang berada di Yogyakarta ini.
Awalnya Rakha memang tak mengizinkan, sebab para tetangga tentunya akan bergunjing, terutama istrinya Devi sangat sensitif. Akan tetapi, Rakha tak mungkin setega itu dengan gadis yang seusia dengan Rayzen. Bahkan, kondisi Hasna kala itu memang mengenaskan.
Larut malam Devi tak bisa tidurㅡ Rakha pun sama dengannya, tetapi sebenarnya kini mereka tengah berdebat. Dibalik pintu yang tertutup, terdapat perdebatan mereka yang dapat Hasna dengar tanpa sengaja.
"Mengapa kau mengizinkannya untuk tinggal disini!" Devi hampir membentak, benar-benar tak suka bila orang kampung seperti Hasna tinggal dirumah mereka.
Rakha tak mungkin membalas dengan nada berteriak, ini sudah malam dan tentu akan terdengar sampai luar juga. Daerah ini cenderung tenang.
Rakha menghela napas, ia memijat pelipis seraya memejamkan mata yang kini mulai terasa berat. "Kau tak lihat kondisinya? Anak itu sangat malang, tak mungkin kita membiarkannya diluarㅡ"
"Kau memang selalu mengkhawatirkan orang lain, bahkan orang kampung pun kau terima dengan senang hati." Devi menukas kalimat Rakha yang tak selesai.
Hening sejenak, udara disekitar mereka terasa pengapㅡ tidak, lebih terasa dingin yang menusuk. Mereka benar-benar berbanding terbalik, pikiran mereka pun memang tidak selaras.
Susah payah Rakha menahan sabar, kedua tangannya yang berada disamping tubuh kini menahan untuk tidak mengepalkan tinju.
Devi ingin marah, tetapi tak bisa. Terutama karena suaminya kini sudah menyorotnya dengan tajam. Wanita itu mengepalkan tangan, membuang wajahㅡ Menyembunyikan ekspresi geramnya yang menahan tangis.
"Sudahlah, perdebatan ini memang tak akan selesai." Putus Rakha, kali ini pun ia sama memalingkan wajahnya.
Rayzen mengambil langkah menuju pintu kamar, lebih tepatnya ingin menenangkan diri diluar untuk sementara waktu. Membiarkan perdebatan mereka menggantung tanpa kejelasan disana.
Tatkala Rakha menutup pintu kamarnya dan segera berbalik badan, ia mengernyit mendapati Hasna yang berdiri tak jauh dihadapan kamar Rakha dengan Devi. Mungkin perbincangan mereka sempat terdengar.
Hasna sontak melebarkan manik matanya. Mendadak panik, secara spontan mengangkat tangannya didepan dada, melambai-lambai sembari ia menggelengkan kepala. "MㅡMaaf, paman! Hasna tak bermaksud mengupingㅡ"
Rakha mengangguk sekali, "Tidak apa." Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah mencari keberadaan Rayzen.
"Paman mencari Rayzen? Ia berada didapur," celetuk Hasna, sedikit tersenyum tipisㅡ Sebisa mungkin ia menunjukkan sisi ramahnya.
Rakha menoleh sejenak, memasang mimik tak percaya pada wajahnya, hampir terkejut. Pria itu menaikkan alisnya, "Anak itu? Sejak kapan ia bisa memasak..." Celetuk Rakha, ia hendak berbalik untuk memeriksa
"Paman, terimakasih... Sudah membiarkan Hasna tinggal disini." Celetuk Hasna tiba-tiba, cepat-cepat ia utarakan rasa terimakasihnya ini. Merasa malu, Hasna menundukkan pandangannya, pun menautkan jemari-jemarinya sendiri.
Rakha terhenti, ia melirik Hasnaㅡ Sekilas ia dapat melihat bayangan Devi dimasa lampau, sama persis. Ragu-ragu tangan kirinya terangkat, ragu-ragu pula ia menempatkannya pada kepala Hasna, tetapi pada akhirnya ia tepuk lembut kepala Hasna disana.
"Kembalilah pada orang tua mu nanti, mereka juga mengkhawatirkan mu."
* * *
Mungkin sudah sekitar dua bulan Hasna tinggal disana. Memang pada awalnya canggung, tetapi Rayzen akrab dengannya, lelaki itu tak membiarkan keheningan terlalu lama mendiami mereka. Rakha pun tak keberatan, karena Rayzen memiliki teman sebayanya untuk berbincang layaknya anak remaja pada umumnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Rintangan Harsa { Perjalanan. }
Teen Fiction"Ayah... Ayo kita pergi dari sini, Fitri mohon..." Fitri memiliki ibu yang kasar, selalu menuntut, dan pemarah. Walaupun begitu masih ada sosok ayah yang selalu bersamanya, membuat hari-hari yang dilaluinya menjadi lebih cerah. Sang ayah seperti sos...