Pagi yang seharusnya menebar kebahagiaan, justru malah membuat seorang Senja menggerutu dari awal. Ini masih jam 06.30 tapi nyatanya ia sudah gerusak gerusuk sejak tadi.
"Ya Allah Senja, kamu ini maunya apa sih" Tuhkan, belum apa-apa tapi suara Bunda sudah menggelegar di sudut rumah.
Senja mengelus dadanya "Ya ampun bun, udah sih. Senja cuman nyenggol dikit doang. Suruh siapa juga si moli ada di bawah kan gak keliatan"
Jadi, moli ini merupakan kucing oren gendut yang mempunyai bulu panjang dan lebat. Senja tidak sengaja menginjak moli sampai moli bersuara "ngik".
"Makanya, mata itu dipake. Udah tau moli segede ini masih aja gak keliatan. Heran." Meskipun Sambil menggerutu sang bunda tetap saja menyiapkan sarapan Senja.
Senja diam saja. Sudah tau endingnya seperti apa. Meminta maaf salah, mengakui kesalahanpun lebih terlihat durhaka.
"Jadi gimana Nja acaranya? Udah balik lagi ke semula? Jadi sekarang udah mulai masuk kelas lagi?" Sang bunda menggeret kursi yang ada di samping kanan Senja.
"Iya. Udah balik ke kelas."
"Terus habis ini kamu ngapain aja? Ada acara apalagi?" Lagi-lagi sang bunda bertanya.
"Duh bun, senja pusing sumpah. Habis ini Senja ada lomba Porseni. Terus habis porseni Ada LDKS. Ya ampun kepala Senja mau pecah mikirnya, padahal acaranya masih belum sama sekali" dengan sabar dan telaten senja menjelaskan.
"Porseni? Mau ikut lomba apa Nja? Ldks kamu jadi panitia lagi? Gakpapa Nja mumpung masih muda kejar semuanya."
"Kemarin sama guru-guru Senja ditunjuk di pidato bahasa inggris sih bun. Yang di ldks panitia juga tapi Senja gak tau jadi bagian apa. Meskipun masih muda pun, tapi kepala trus badan senja sakit semua rasanya." Sambil Menjawab pertanyaan sang bunda, ia mencuci piringnya.
Mengambil tas yang ada di ruang keluarga, sambil membawa cardigan kesayangannya. Senja sudah siap untuk berangkat sekolah. Menjalani kedebak-kedebuknya Dunia.
Mengikuti putrinya yang sedang memakai sepatu di teras rumah, bundanya kembali berujar. "Masa muda gak bisa diulang kedua kalinya nak, buat dunia di tanganmu. Meskipun tangan kita cuman dua, genggam yang harusnya kamu bisa. Jangan sampai tangan kamu penuh, tapi yang kamu dapet ternyata gak berguna".
Berdiri menghadap ke arah halaman, Senja menatap langit di sepersian detik kemudian kembali menatap surganya. "tangan senja cuman dua bun, kalau Senja genggam semuanya apa nanti gak akan tumpah? kalau yang Senja genggam ngebuat Senja luka bernanah gimana? bukannya semua, harus sesuai porsinya kan?"
Ternyata, anak perempuannya masih sosok yang sama. Suka sekali memberikan beribu-ribu pertanyaan, yang padahal ia tau Senja sudah pasti bisa menumukan jawabannya sendiri.
"Jadi, jangan menggengam yang tak layak berada di tangan. Kalau yang Senja genggam ngebuat tangan Senja bernanah, Senja harus pastiin sampai kapan lukanya akan mengering. Dunia emang gak seberapa, tapi dunia yang ngajarin kita buat jangan pernah mau kalah sama hal-hal remeh temeh. Kalau dunia keras, kita harus lebih keras. Paham kan nak?" Bundanya mengelus kepala Senja yang memakai hijab warna biru langit.
Senja mengangguk, petuah Bundanya memang selalu masuk akal. Selain guru di rumah, ia belajar banyak dari sosok sang bunda. Anak perempuan yang tak hanya diberi doa, tapi juga diberikan tekad, nasehat, dan cinta kasih yang tak pernah kurang.
Senja berpamitan, mencium tangan sambil melambaikan tangan. Ojeknya sudah datang tepat 5 menit yang lalu. Perempuan remaja berusia 16 tahun ini berangkat sekolah dengan semua niat dan tekad yang sudah bulat. Tak akan mungkin ia berani, menghancurkan seluruh kepercayaan sang bunda.
.
.
.
"Selamat pagi dunia tipu-tipu" Suara menggelegar siapa lagi, jika bukan Senja pelaku utamanya. Datang dengan mimik wajah yang ramah tamah, Senja memasuki ruang kelasnya.
mengelus dada, teman sebangkunya berujar "Ya ampun Senja, kamu ini kalau pagi-pagi kalau gak bikin gebrakan gak bisa kah?"
Menaruh tasnya, Senja memberengut tidak terima. "Halah. Zul, kelas gak ada aku pastinya gak rame kan? ya kan? serasa hambar ibarat kata sayur tanpa garam."
Zulfa mengelus dada, melawan ucapan Senja yang selalu merasa percaya diri. "Dih. Malah, kelas gak ada kamu tuh tentram, aman, damai. Sejuk banget sumpah."
"ih! berarti kalau ada aku kelas ini jadi panas? udahlah mau ke ruang osis aja." Ancaman yang selalu Senja lontarkan tiap harinya. Ketika teman sebangkunya selalu menggoda Senja.
Zulfa menarik tangan Senja yang hendak pergi. "eits, tidak semudah itu ferguso. Lagian ya Nja, kamu ini gak bosen apa? MOS juga udah selesai Nja, ngapain kesana terus-terusan. Mau ngapelin Hilmi?"
Dengan kesadaran penuh Senja memelototkan matanya. "Amit-amit Ya Allah. ngarang banget."
Sedangkan sang sahabat tertawa cekikian. "Eh Nja, beneran kemarin ketemu Mas Fajar? soalnya dia kemarin duduk di depan kelas ini lama banget. Kayak nyariin kamu gitu"
Ini masih pagi, bisa tidak urusan apapun yang menyangkut nama satu orang itu jangan pernah keluar lagi dari mulut siapapun.
Senja menghela nafas, menganggukan kepalanya agar tidak melebar kemana-mana.
"Tapi Nja, fyi Mas Fajar ternyata udah jadian." Singkat, padat dan jelas informasi yang diberikan Zulfa padanya.
Tanpa adanya Jeda, tanpa adanya suara musik yang mengikuti alur cerita seperti yang sering ia lihat di layar lebar.
"Ha? orang gila mana yang udah mulai kisah baru padahal kemarin masih nemuin aku? serius zul? jadian sama siap emangnya?"
"ya mantanmu orang gilanya Nja. Tadi aku lihat di storynya Rianti, dia nunjukin kalau dia udah official sama Mas Fajar. Yang sabar ya Nja." mengelus lengan sang sahabat.
Senja menggelengkan kepala, tidak menerima kenyataan pahit yang menghampirinya. Meskipun tadi ia bilang tidak mau tau, ternyata ada linu yang kali ini menyerang rongga dadanya tiba-tiba.
Sepertinya, lagu Adrian khalif dan bernadya sangat cocok di dengarkan di situasi sekarang.
apalagi sepenggal lirik dari "Karena setiap ku coba mulai kisah baru rasanya aku, khianatimu"
Padahal, bundanya tadi sudah memberi nasehat. Padahal senja masih mencoba meraba lukanya. Mungkin jika ia memberikan pengampunan, Kisahnya akan kembali terajut.
"Naskah ku buat seribu, coba ku tak begitu" Nyatanya, lirik lagu Asumsi dari adrian khalif dan bernadya yang sering ia dengar sepanjang hari memang cocok untuk hatinya yang linu pagi ini.
"Gakpapa ya Nja, udah lupain aja. Masih banyak Mas Fajar yang lain di surabaya ini Nja" lagilagi perkataan dari sahabatnya, membuat ia mengelus dada. Zulfa memang benar, sayangnya Senja yang menolak kenyataan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tiang luka
Dla nastolatkówDiantara hal-hal yang dibuat oleh semesta, pertemuan mereka adalah salah satu hal terindah yang mereka terima. Luka yang menganga, tertutup dengan beribu cerita sederhana.
