Suara dari jam yang berdetik menggema di seluruh ruangan. Senja menghitung langkah kepala sekolah yang sedang berjalan mondar-mandir tak tentu arah.
"Jadi gimana?" Ucapan pertama kali yang muncul dari kepala sekolah MA Ibnu Sina tersebut.
Senja mengernyitkan mata, tanda bahwa ia bingung dengan pertanyaan singkat sang kepala sekolah. Sudah dijelaskan panjang lebar titik permasalahannya, kepala sekolahnya hanya bertanya dengan nada singkat. Gimana? Ya gak gimana-gimana.
Gimana-gimana-gimana, ku harus mencari gimana. Ah, Senja jadi ingat lagu penyanyi dangdut yang terkenal dengan lagu "fake addres" tersebut.
"Yasudah kalian boleh pulang" loh heh? Loh heh? Ya ampun. Ini endingnya? Mereka semua boleh pulang dengan mudahnya, sedangkan tadi bersama Pak Ardan mereka harus kepanasan sampai seperti dipanggang. Sedangkan kepala sekolahnya dengan mudah menyuruh mereka pulang.
"Soalnya gak ada bukti yang valid Pak. Jadi daripada membesarkan masalah yang sepele, apalagi memperpanjang waktu yang singkat, lebih baik kita selesaikan semua sekarang." Pak Ardan sudah membuka mulutnya untuk menyangkal, tapi Pak Husain berbicara lebih lantang.
Alhamdulillah, punya Kepala sekolah yang waras.- batin Senja bersyukur.
Mereka pergi berpamitan, meskipun rasanya ingin memaki seorang Ardan pratama. Nama dengan sifat dijual terpisah.
.
.
.
Di tengah panas kota surabaya yang menyengat, karena Senja masih tidak diperbolehkan untuk memakai kendaraan pribadi. Dia sedang menunggu angkutan umum untuk pulang.
"Loh, sampean yang tadi kan?" Meskipun tak mengenal orangnya secara langsung, suara ini sudah Senja hafal sejak kemarin. Suara maskulin yang membuat Senja terbayang setiap malam.
Meskipun hatinya berdetak tak karuan, tapi Senja coba tahan sekuat tenaga. Meskipun akhirnya, bukan jawaban yang keluar dari mulut kecilnya. Tapi, anggukan kikuk.
"Belum pulang?" AllahuAkbar. Sejak kapan ia berubah menjadi seorang yang banyak bertanya? Yah, meskipun Senja tidak tau pribadi aslinya sepertinya apa.
"Ini nunggu angkutan Mas" akhirnya, suara yang seperti tikus kejepit itu keluar dengan sendirinya.
"Rumahnya mana?" Ya kann, bisa gak ya angkutan ini datengnya lebih cepat.
"Gak dibawa" Astagfirullahadzim Senja. Kamu bisa-bisanya ngelawak di tengah percakapan yang serius ini.
Dia melotot, seakan kaget dengan jawaban asbun Senja yang keluar tiba-tiba. Ia duga, Senja perempuan yang kalem. Ternyata, belum apa-apa sudah menjadi perempuan yang membuatnya tertawa lebar.
"Deket gak? Kalau deket aku anter" tawaran dari Mas satu ini memang menggiurkan.
"Kalau jauh emang gak mau?" Tanya Senja penasaran.
"Ya kalau dari sini ke surabaya selatan gak mau ya. Selain mahal di ongkos, capek juga nyetirnya. Kecuali kamu yang minta sih gak masalah. Mau ke Surabaya barat-timur-Selatan. Aku sih mau nganterin, asal ongkosnya pas aja. " ujar pria ini panjang lebar, kemana letak wajah cool yang seperti kulkas itu.
"Yah pamrih. Gak mau deh Mas. Takut mahal, aku kan masih anak sekolah yang baru nginjek bangku SMA. Lagian rumahku gak sejauh itu ya ampun. Tapi kalau sama sampean kayaknya aku harus ganti uang bensin, mending naik angkot aja deh. Makasih tawarannya"
Laki-laki ini tersenyum simpul, senyuman yang memunculkan lesung pipi yang langsung membuat Senja terkesima. Diam-diam Senja menghitung, akankah jantung terus berdetak kencang setiap pertemuan.
Tapi ternyata, tawaran yang Mas ini berikan bukan menjadi rezeki Senja. Angkot biru muda sudah melembai menandakan ia harus segera masuk, sebelum ia ditinggalkan begitu saja.
"Pulang dulu ya Mas, makasih tawarannya." Senja berdiri meninggalkan seorang Fajar sendiri di depan gerbang sekolah.
"Senja, nanti kalau aku tawarin lagi, kamu harus mau ya" teriakan dari Fajar sambil melambaikan tangannya ke arah Senja.
Dari dalam angkot, Senja benar-benar termenung dibuatnya. Dia tau namanya dari siapa? Senja katanya? Padahal, ia baru saja menginjak bangku SMA. Padahal, ia baru saja mengikuti kegiatan OSIS di beberapa bulan kebelakang. Mas itu bisa tau darimana namanya?
.
.
Setelah mengganti seragamnya dengan kaos rumahan Senja merebahkan diri di kasur empuknya. Momen sederhana yang mungkin tidak ada kesan apa-apa. Tapi membuat Senja kepikiran.
Ting
Handphonenya berbunyi, tanda pesan masuk. Senja dilarang membawa handphone ke sekolah, karena memang ada peraturan. Dia diperbolehkan ketika ada acara sekolah.
"Tadi ditungguin Mas Fajar ta?"
Pesan singkat dari Zulfa mengalihkan segala pemikiran tentang seorang Fajar.
Senja mengernyit, perempuan ini harusnya sudah pulang ketika Mas Fajar menghampirinya.
Senja membalas pesan itu dengan cepat sambil bertanya kenapa perempuan itu bisa tau.
"Iya tadi aku dikasih tau Mas Sai. Kamu diapain Mas Fajar nda?" Balasan dari Zulfa lagi-lagi membuat Senja mengetik balasan dengan cepat
"AllahuAkbar Zulfa gak diapa-apain. Mas Fajar cuman mau nganterin pulang. Kayaknya sih dia kasihan ngeliat aku nunggu angkot lama. Tapi ya Zul, dia bisa tau namaku darimana ya"
"Ya tau lah, dikasih tau Mas Sai. Orang Mas Fajar nanyain kamu terus tau Nja. Kayaknya dia penasaran deh. Mas Sai cuman ngomong gitu aja sih"
Zulfa membalas dengan cepat.
Senja kian mengernyitkan alisnya, bisa-bisanya seorang Fajar penasaran? Kok bisa. Padahal, Senja bukan manusia yang tertutup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tiang luka
Genç KurguDiantara hal-hal yang dibuat oleh semesta, pertemuan mereka adalah salah satu hal terindah yang mereka terima. Luka yang menganga, tertutup dengan beribu cerita sederhana.
