Kelasnya berada di lantai atas, bahkan bisa melihat para awan yang sedang menjalankan tugasnya. Panasnya surabaya tak bisa dibandingkan dengan panas kota yang lainnya. Senja menghadap ke jendela, teman-temannya sedang keluar kelas karena jam istirahat.
Apa benar ya, kisah mereka sudah tak bisa diulang? Apa bener ya, kata semesta jika dua orang sudah dipisahkan, mereka berdua gak akan bisa bertemu dikebetulan manapun. Tapi, ia dan Mas Fajar masih sering bertemu tapi bukan itu yang ia mau.
Ia kira Mas Fajar bisa sabar, ia kira mungkin Mas fajar mau berubah tapi ternyata Senja salah. Mungkin sosok beberapa tahun yang ia kenal memang sudah berubah, bukan lagi sosok yang selalu sabar menunggu seorang senja yang serakah.
Mungkin benar kata Mbak fat di setiap masa selalu ada kenangan yang muncul tiba-tiba. Atau mungkin benar kata Hilmi bahwa gak semua manusia punya rasa sabar yang sama.
Di ruangan yang sepi ini tiba-tiba terlintas beberapa percakapan diantara ia dan Mas fajar dulu.
.
.
.
.
Flashback
Di tengah lapangan, di siang hari yang panas kelas 10 IPA 1 sedang dijemur karena mendapatkan hukuman.
Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah seorang berandal kelas yang melakukan aksi contek.
"Pak, saya loh gak salah apa-apa. Ngapain kena hukuman juga?" Senja mawardi, perempuan yang akan membela dirinya mati-mati jika ia memang tidak bersalah.
"Tapi kamu kan yang nerima kertas?"
Senja mencebik "saya gak tau kalau itu contekan pak Sumpah, orang Saya mau buka tapi bapak tiba-tiba ngerampas. Terus nuduh lagi. Padahal buktinya juga gak valid"
"Udah sih Nja ngaku aja biar gak lama kita disini" sautan dari Diana, teman sebangkunya.
Yang jadi masalah adalah Senja tidak melakukan aksi contek-mencontek. Dia saja mati-matian belajar dari pagi sampai malam demi mendapatkan nilai yang cemerlang.
"Bapak nih, kalau nuduh yang jelas ah! Bukti gak ada bisa-bisanya nuduh saya. Mentang-mentang itu kertas jatuhnya di depan saya!" Gerutu Senja dengan wajah yang memerah.
"Senja! Kamu ini lagi ngomong sama saya! Saya ini guru kamu. Kalau bukan nyontek terus apa? Kamu itu gak pinter-pinter amat. Barusan masuk di sekolah ini udah banyak tingkah kamu" ujar Pak Ardan yang sepertinya sudah muak dengan tingkah dan ocehan Senja.
Pak ardan guru olahraga yang baru Senja temui dalam 3 kali pertemuan di kelasnya. Guru muda yang masih mengenyam bangku kuliah di universitas negeri di daerah surabaya barat sana.
Senja menekuk alisnya dengan tajam, raut mukanya sudah tak bersahabat. Sudah menjelaskan panjang lebar tapi seorang Ardan ramadhan ini mana mau perduli sama sekali.
"Ngaku aja Nja, meskipun kamu gak salah. Bisa-bisa gosong kita disini" Diana berbisik, takut jika ucapannya dapat terdengar oleh telinga mungil pak Ardan.
Senja sudah mau membuka suaranya, tapi ternyata para pelatih pencak silat sudah berdatangan untuk menggunakan lapangan.
Dilihatnya dari jauh ada satu pria yang beberapa hari ini menarik perhatian seorang Senja mawardi. Laki-laki yang mungkin berusia 20an, potongan rambut bergaya mid fade yang rapi. Laki-laki dengan tinggi 180an berwarna kulit cerah dengan lesung pipi yang menghiasi wajahnya ketika tersenyum itu sontak mengalihkan fokus Senja.
Lirikan mata Senja yang selalu mengikuti kemana langkah kaki pria itu pergi. Dan ya, baru Senja sadari bahwa ia mem-fokuskan dirinya pada pria itu selama 15 menit tanpa memperdulikan lagi dirinya dan para teman-temannya yang sedang kepanasan di tengah lapangan.
"Pak, ini ada apa ya?" Suara yang agak berat ternyata muncul dari seorang pria yang kagumi itu.
"Loh Mas Fajar. Mau latihan ta? Sebentar ya Mas, ini ada yang ketahuan nyontek tapi gak mau ngaku jadi terpaksa saya hukum di sini." Penjelasan dari Pak Ardan menimbulkan genderang perang bagi Senja yang sedari tadi diam mendengarkan.
"Dari tadi ta pak? Soalnya sekolahan udah se-sepi ini. Kalau masih gak mau ngaku, gakpapa pulangin mereka sekarang. Tapi besok pelakunya gak boleh masuk ke ruangan dan gak boleh ikut ulangan. Daripada bapak bingung kayak gini gak bakalan ada yang ngaku pak" Saran dari seorang Muhammad Fajar utama yang membuat pak Ardan akhirnya menemukan titik terang. Kenapa ya, dirinya tak memikirkan ide tersebut dari tadi. Kenapa juga, ia harus tarik urat demi menghadapi para siswi yang baru saja menginjak remaja ini.
"Senja, kamu dengerkan? Kamu pulang sekarang. Nanti saya kasih tau kepala sekolah kalau kamu besok gak bisa ikut ulangan" ujar Pak Ardan sambil menatap kearah Senja.
Senja berdiri, memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang "Pak ayo. Tapi kalau saya gak terbukti bersalah, Bapak yang keluar dari sekolah ini ya?" Tatapan matanya tajam seakan dirinya tak gentar. Yang Senja hadapi sekarang cuman sebutir dari kisah masa lalunya yang usang.
Sosok manusia yang berada dihadapannya sekarang bukan masalah besar. Senja sudah terbiasa menghadapi para manusia yang punya sifat dan sikap yang memang tak bisa dirinya takar. Tapi, dari dulu Senja diajarkan jika ia tak bersalah, dirinya harus berani untuk melangkah.
Karena, manusia suka berubah-ubah. Banyak topeng yang mereka kenakan untuk menghadapi dunia yang hanya sekedar tempat singgah. Jika ia di injak, seharusnya Ia injak balik. Apa gunanya punya kaki jika hanya saling meneriak dan memaki?
"Loh ya gak bisa gitu dong. Saya kerja di sini. Kamu gak berhak ngatur saya! Saya ngasih ilmu buat kamu, sedangkan kamu?" Pak ardan kembali menyanggah omongan Senja.
"Saya juga cari ilmu di sini pak. Jangan lupa, gaji bapak yang kerja di sini itu dari hasil uang yang orang tua saya keluarkan. Saya gak mau basa-basi pak saya sudah bilang dari awal selama saya tidak bersalah saya tidak akan pernah takut dengan tuduhan yang bapak layangkan. Saya menyanggupi apa yang bapak sarankan, sedangkan bapak menolak apa yang saya tawarkan! Ikut saya ke kepala sekolah, atau bapak akan malu karena dipertonton para pelatih pencak silat" Senja melangkahkan kakinya ke ruang kepala sekolah, di ikuti para teman perempuannya yang berdiri di belakangnya.
Anak perempuan pertama tak akan pernah gentar oleh tipu daya manusia. Keras kepalanya menggambarkan bahwa dia memang harus melawan apa yang dihadapannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tiang luka
Teen FictionDiantara hal-hal yang dibuat oleh semesta, pertemuan mereka adalah salah satu hal terindah yang mereka terima. Luka yang menganga, tertutup dengan beribu cerita sederhana.
