rapotan

143 23 7
                                        

Kalau biasanya Laskar berangkat ke sekolah bersama ayahanda tercinta, kali ini datanglah masa di mana ia harus melangkah bersama sang raja terakhir. Ia harus siap dihakimi, harus siap dimarahi, dan harus siap menerima semua konsekuensi atas nilainya.

Siapa lagi si raja terakhir itu kalau bukan bunda?

Bunda ini lulusan IPB, anak tekpang yang lulus cumlaude, terus ketemu sama ayah Chandra yang lulusan akuntansi UNTAR. Standar pendidikan bunda tinggi banget, dan Laskar harus nurut karena anak satu-satunya.

"Iya, jadi sebenarnya nak Laskar ini bagus banget loh Bu kalau diliat dari segi kesenian dan bahasa. Cuma memang yang harus ditingkatkan itu Fisika dan Kimianya." ucap Bu Esther, selalu wali kelas Laskar

Laskar melirik bundanya, wanita itu menatap setiap nilai pengetahuan dan keterampilan di rapot miliknya.

"Tapi nilainya Laskar itu bagus kok Bu, tidak ada yang di bawah KKM" Sambungnya karena Windi terlihat diam saja.

"Anak saya peringkat berapa Bu?" Tanya Windi akhirnya

Laskar menunduk, jantungnya sudah berdegup dengan tidak beraturan.

"Laskar peringkat 6 Bu. Masih 10 besar" Ucap Esther

Windi melirik anaknya sejenak, Laskar sudah tau apa yang akan disampaikan oleh Windi ke depannya. Ia sudah hafal.

"Kira-kira anak saya ini harus bagaimana ya Bu supaya nilainya naik?" Tanya Windi

"Karena kategori nilai Laskar masih tergolong baik bu, Laskar tidak bisa ikut les tambahan yang disediakan sekolah. Tetapi mungkin jika ibu mau, ibu bisa memberikan les di luar sekolah." Ucap Esther

"Memangnya yang berhak mendapat les tambahan di sekolah hanya siswa siswi di bawah 10 besar Bu? Kalau ternyata anak saya membutuhkan bagaimana?" Windi berseru

"Sudah menjadi kesepakatan Bu, tetapi jika nanti masih ada kapasitas dari sekolah, saya akan menginformasikan pada ibu." Ucap Esther

Windi menghela nafas "Baik Bu, saya tunggu kabarnya. Oh iya-ini sebagai tanda terima kasih saya sudah membimbing anak saya selama satu semester" ucapnya sambil memberikan parsel buah kepada Esther

"Saya terima ya Bu, terima kasih" Ucap Esther

"Terima kasih kembali Bu, kami permisi" Windi berdiri, disusul Laskar yang menyalami Esther dan mengekor bundanya keluar dari kelas

Sesampainya di luar kelas, Windi berhenti melangkah. Ia membalikan tubuhnya menghadap Laskar, kemudian menaruh tangannya di pinggang

"Ekspektasi bunda tuh kamu 3 besar ya, Laskar." Ucap Windi yang langsung melemparkan panah ke jantung Laskar

"I-iya bunda... Laskar juga udah berusaha-"

"Bunda tuh heran sama kamu. Pulang sekolah langsung pulang, jarang main keluar. Tapi nilainya masih jelek aja!" Windi menyerukan keresahannya "Oh bunda curiga sih, kamu pacaran ya?!"

Laskar memejamkan matanya sejenak, bingung harus menjawab apa.

"Engga bunda..." Laskar menggeleng samar

"Kamu tuh masih SMA udah pacar-pacaran! Sekarang liat nilai kamu! Jelek semua! Bunda ga suka ya! Kalau kamu bisa masuk top 3 baru tuh pikirin pacaran! Nilai masih pas-pasan aja kamu udah berani-beraninya pacaran!" Windi kembali memarahi Laskar, meskipun tidak jarang ada yang menatapnya, Laskar sudah terbiasa

"Iya tapi Laskar ga pacaran, bunda..." Laskar berseru "Lagian apa hubungannya pacaran sama nilai jelek?"

"Ya karena kamu ngehabisin waktu buat hal-hal ga penting! Tugas utama kamu tuh belajar, Laskar! Emang bunda pernah nyuruh kamu jadi dokter? Nyuruh kamu jadi profesor?! Ga pernah kan! Bunda cuma mau kamu belajar yang bener, dengerin gurunya, kerjain ujian yang bener! Gitu aja loh, Laskar! Susah kah?!" Ucapan Windi membuat Laskar menghela nafasnya berat.

#2 From : LaskarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang