putus?

155 20 11
                                        

Suasana di meja makan malam itu... aneh.

Windi duduk di seberang Laskar dan Queen. Di depannya ada satu piring cupcake hasil buatan tangan mereka. Tapi tangannya tidak bergerak, matanya hanya mengamati dua anak yang duduk di hadapannya—terlalu rapi, terlalu diam, dan terlalu... sopan.

Queen mencoba tersenyum sesekali, tapi cepat-cepat menunduk setiap Windi menatap. Laskar? Dia seperti kena hukuman tak tertulis. Duduk tegap, tatapan yang entah kemana, dan tidak berani memulai percakapan.

"Kalian kenapa diem?" Tanya Windi

Laskar menelan ludah dengan susah payah "G-gapapa, bunda"

Windi mencoba mengusir semua pemikirannya. Ia berdehem singkat "Mau teh hangat?"

"Aku buatin, Bun" Laskar berdiri, tetapi Windi menyuruhnya untuk tetap duduk.

"Bunda aja. Queen juga mau?" Tanya Windi dengan senyum ramahnya

Queen mengangguk samar "Mau, bunda..."

Windi memunggungi mereka berdua, memasak air di ketel uap dan pikirannya melayang kemana-mana selama membuat tiga gelas teh itu.

Kedekatan Laskar dan Queen memang sudah terjalin dari kecil. Tidak jarang juga Windi melihat mereka berpelukan atau saling berinteraksi penuh afeksi.

Seharusnya semua normal kalau tadi reaksi mereka berdua tidak seperti itu. Yang membuat Windi heran bukanlah kedekatan fisik mereka, hanya saja ada sinyal sinyal aneh yang enggan Windi tangkap dari mereka.

Windi tidak ingin percaya.

Beberapa detik kemudian, terdengar suara ketel mendesis pelan—panas, mendidih, seolah mewakili isi kepala dan hati yang belum reda.

Windi menyajikan gelas tersebut di meja yang sama, melihat Queen dan Laskar yang sama sekali tidak bersuara membuatnya tidak tahan untuk bertanya.

"Kalian nyembunyiin sesuatu dari bunda ya?" Tanya Windi

Mendengar itu membuat mulut Laskar dan Queen semakin rapat. Mereka tidak bisa menjawab apapun, dan hal itulah yang membuat Windi menyesap sedikit tehnya untuk menenangkan diri.

Windi menaruh gelasnya di atas meja, kemudian menghela nafas. Ia menimbang untuk bertanya, tetapi ia terlalu takut untuk mendengar jawabannya

"Kalian..." Windi menatap keduanya "... Pacaran?" Ucapnya dengan nada pelan namun menusuk.

Merasa ini satu-satunya kesempatan bagi Queen untuk menyelamatkan Laskar, ia mendongak "Eng—"

"Iya, bunda."

Queen langsung menoleh ke arah Laskar. Bahunya merosot seketika.

Laskar nampak tak gentar menatap Windi meskipun wanita itu kelihatan memikirkan banyak hal. Dari sudut pandang Queen, Windi kelihatan sedang menyaring yang akan ia sampaikan.

Tapi siapa sangka Windi malah berdiri. Mengambil wadah dari rak dapur, kemudian menaruh 4 cupcake di sana.

"Queen, tolong kasih ke mami kamu ya" Ucap Windi dengan senyum ramah

"S-sekarang bunda?"

Windi mengangguk "Iya. Sekarang. Besok lagi ya ke sininya."

Queen melirik Laskar sejenak. Kemudian ia mengambil alih wadah makanan tersebut.

"Y-ya udah bunda... Queen pulang dulu." Ucapnya dengan gugup, setelahnya ia hanya bisa saling tatap dengan Laskar.

Lelaki itu mengangguk samar, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja.

#2 From : LaskarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang