reda

144 20 13
                                        

Begitu Laskar melangkah masuk ke rumah Haikal, ada sensasi aneh yang langsung menyergap.

Aromanya masih sama, perpaduan khas antara pengharum ruangan dengan hint melati dan bau lantai yang baru dipel. Tapi rasanya ada yang berbeda. Bukan karena tempatnya berubah, tapi karena satu orang di dalam rumah itu tidak menyambutnya dengan senyum.

Biasanya, Queen akan muncul entah dari dapur, ruang tengah, atau bahkan dari tangga dengan dandanan ala kadarnya. Tapi hari ini, tidak ada tanda-tanda keberadaannya.

Rumah itu terasa asing. Terlalu sepi, meski penuh orang.

Langkah kaki Laskar terasa ragu saat menuju ruang tengah. Ada sedikit harap di hatinya, bahwa Queen akan keluar, sekadar melempar tatapan sinis atau komentar dingin. Tapi tak ada, keheningan ini terlalu nyaring.

Laskar duduk tanpa suara, tubuhnya ada di sana, tapi pikirannya terus tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat itu.

"Bisa main ga sih lu?!"

Pekikan Nalendra membuat Laskar sadar dari lamunannya. Netranya bergerak pelan, menatap layar TV yang sedang menampilkan game fighting yang sejak tadi dimainkan berisik oleh Nalendra dan Mahen. Tapi semua terasa seperti suara latar. Bising, tapi tidak mempengaruhi apa-apa di dalam dirinya.

Ia mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Sunyi. Tidak ada langkah kaki yang ia tunggu-tunggu. Laskar mengusap wajahnya pelan. Ia sudah jauh tenggelam dalam rasa bersalah dan kebingungan.

Ia ingin menjelaskan. Ingin bicara. Tapi Queen sepertinya enggan untuk memberikan kesempatan.

"Lu pada mau makan apa?" Tanya Haikal, sudah siap dengan aplikasi pesan antar nuansa hijau putih di ponselnya.

"MAKAN NIH TANGAN API!" Nalendra tiba-tiba memekik keras, seiring dengan karakter game nya memukul karakter milik Mahen hingga K.O.

"Wah... Lagi?!" Mahen tidak percaya dengan hasil pertarungan ini, sudah tiga kali ia dibuat babak belur oleh Nalendra.

Jevano sudah menduga hasilnya akan begitu "Dari kecil dia udah rajin ke rental PS bang"

"Emang kalian ga punya ps sendiri?" Mahen mengerutkan dahinya

"Punya. Dibeliin sama bunda, tapi gue main sama siapa coba? Jevano dari kecil kerjaannya belajar doang. Semua ilmu dan taktik ini gue belajar dari para ahli!" Nalendra tersenyum jumawa

"Iya siap ahli rental, sekarang jawab dulu mau makan apa" Ucap Haikal yang sudah pegal menunggu

Nalendra berpikir sejenak, kemudian menoleh ke arah Haikal "Gue apa aja, asal bukan sayur. Atau makanan sehat yang ga ada rasanya." Ucapnya dengan wajah setengah jijik

"Ya siapa yang mau makan gituan?" Haikal mendelik sambil scroll menu dengan malas.

"Eh, lo jangan salah," potong Nalendra  "Jevano suka gituan! Dulu waktu kita masih SD, dia bawa bekel salad!"

Jevano langsung menoleh dengan tampang datar. "Itu gara-gara Bunda. Gue gak punya pilihan."

Nalendra menepuk-nepuk bahu kembarannya. "Dan sekarang lo punya. Jadi tolong pilih makanan yang gak daun semua."

"Burger, kentang, cola" ucap Jevano cepat, perutnya sudah lapar.

"Setuju!" sahut Mahen. "Paket cheat day all in!"

Haikal mengetik pesanan sambil geleng-geleng. "Lu lu pada ini emang paling ribut kalo laper."

"Belum laper aja udah berisik" gumam Laskar pelan, masih setengah ngelamun, tapi cukup keras untuk membuat mereka semua menoleh.

#2 From : LaskarTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang