Haluuu! Selingan dulu yak 😁
🌷🌷🌷
Sherin terkejut kala kursi di sampingnya ditarik cepat dan kasar lalu diduduki Erik. Posisinya yang membelakangi pintu masuk kedai makan membuatnya tak mengetahui kedatangan pria itu. Sherin menoleh sebentar, memasang ekspresi malas kemudian melanjutkan makannya.
"Kenapa pesanku nggak dibalas?" Erik meradang melihat Sherin makan siang bersama teman kantor yang kebetulan seorang laki-laki.
"Lupa."
Jawaban singkat Sherin membuat Erik meradang. Amarah begitu bergejolak sampai-sampai akan meledakkan dirinya. Namun, mengingat di mana mereka berada, ia hanya bisa menahan emosinya seraya menggeram marah. "Perlu aku ingatkan?"
Meskipun ada kegusaran dalam diri Sherin karena ucapan Erik yang mengandung ancaman, wanita itu berupaya menjaga riak wajahnya untuk tenang. "Nggak perlu. Lagian mau aku balas atau nggak itu urusanku, ngapain repot-repot ngurusin." Sherin meletakkan sendok, menyudahi makannya. "Mas Ar, balik yuk." Ia berdiri setelah mencangklong tas kecilnya.
Teman kerja Sherin itu mengangguk lalu meninggalkan kursi dan mulai menyusul wanita tersebut yang sudah lebih dulu keluar.
Erik menggepalkan tangan, memukulkannya pada meja hingga menarik perhatian pengunjung. Ia pun merentak berdiri lalu menyusul Sherin dengan langkah lebar. Pria itu segera berlari, mencekal tangan Sherin sebelum wanita itu masuk mobil.
"Kamu ini apa-apaan sih, Mas! Tanganku sakit tahu!" Sherin mencoba mengurai cekalan Erik yang begitu kuat di tangannya. Bukannya lepas, cengkeraman itu semakin kuat dan menarik paksa Sherin ke mobil Erik.
Pria itu berlari cepat masuk mobil sebelum Sherin melarikan diri. Erik langsung mencekal tangan wanita itu saat berusaha melarikan diri.
"Mau kamu itu apa sih, Mas?" sentak Sherin berapi-api, menatap nyalang Erik. Ia sudah sangat-sangat muak dengan sikap Erik yang main tarik ulur begini.
"Kamu balik ke rumah." Erik tidak bisa kalau tidur tanpa Sherin. Mungkin ia sudah terbiasa mendekap wanita itu saat tidur.
Sherin tertawa sumbang. "Buat jadi pelacurmu?" ujar berapi-api saking emosinya. "Pernah kepikiran nggak di otak kamu itu kalau aku ini manusia yang punya perasaan dan hati? Bisa lelah mentolerir sikapmu selama ini. Aku bukan Mbak Kia yang sabar sama kelakuan Mas Bagas. Aku akan balas sesuai dengan yang kudapat. Ibarat kata 'lo jual gue beli' jadi daripada terus-menerus sakit hati lebih baik aku mundur dari hubungan ini. Oh ya, aku udah hubungi Mas Bayu buat urusin surat cerai kita. Baiknya kita sendiri-sendiri daripada barengan tapi saling nyakitin."
"Aku nggak mau kita cerai."
Sherin tersenyum kecil, senyum yang mengandung ejekan. "Aneh kamu, Mas. Nggak mau cerai tapi kayak orang lain. Di mana ceritanya coba." Ia mengeluarkan ponsel lalu menghubungi Ari untuk mengabari kalau dirinya tidak kembali ke kantor. "Sampai sekarang aku tuh bingung sama kamu, Mas. Apa alasan kamu ngajakin nikah tapi nggak bisa jadi suami yang bener? Cuma butuh teman tidur ya Mas? Jadi kalo lagi pengin buang sperma tuh aman tempatnya."
CK. "Ngaco kamu."
"Ya siapa tahu kan? Oh aku tahu, buat manas-manasin Mbak Oliv karena dia nikah duluan, ya?" Cuma itu motif besar yang membuat teman abangnya itu mengajak nikah. Ya memang ia mencintai Erik tapi ia tidak bodoh untuk pasrah dengan sikap pria itu.
Mungkin benar yang dikatakan Sherin tapi saat bersama wanita itu semua alasan tidak masuk akal dan ngawur itu pun buyar. Erik tidak mau berpisah dengan Sherin, tidak, sebab ia sudah mulai mencintai istrinya tersebut.
###
"Mas Ari bisa anterin aku pulang nggak?" tanya Sherin. Ia memang dekat dengan rekan kerjanya itu, bahkan banyak yang salah paham dengan hubungan mereka padahal aslinya mereka benar-benar sebatas teman, bisa dikatakan adik ketemu gede (besar).
