Halooo! Cus baca 😁
🌺🌺🌺
"Rom, Angga umur berapa, sih?" Rahma masuk ke kamar adiknya. Ia duduk di kasur lalu mengambil bantal untuk ia pangku.
Romi coba mengingat-ingat apakah Angga pernah bilang usianya. ""Nggak tahu, sih, Mbak. Kita mah nongkrong ya nongkrong aja. Nggak ada itu tanya ini itu soal pribadi. Kenapa emangnya?"
"Dewasa banget gitu lho. Kamu aja masih ada kek bocahnya."
"Ya awet muda kalau gitu."
"Dia kerjanya apa, sih?" tanya Rahma lagi.
"Barista."
Rahma mengangguk. "Ya wes lah." Ia pun turun dari kasur setelah menaruh bantal ke tempatnya.
"Gitu doang, Mbak?" Romi tak percaya dengan kelakuan kakaknya yang serandom itu. "Kirain kenapa lho, la cuma pengin tahu umurnya aja."
Rahma mengedikkan bahu. Bukan tidak ada maksudnya ia bertanya soal usia Angga, tapi sebagai pertimbangan untuk dia menerima ajakan pria itu untuk menjalin kasih. Dan kenapa harus tahu umurnya? Karena Rahma tidak mau dapat daun muda alias berondong. Ia cukup kenyang punya cowok berondong yang sangat-sangat menguji kesabaran. Bukannya Rahma yang dimanja-manja malah mereka yang harus ia manja. Ampun dah!
Sampai di kamar, Rahma mengambil ponselnya. Ia membalas pesan yang Angga kirimkan. Sebenarnya ia tidak sedang ingin menjalin hubungan dengan siapa pun saat ini, tapi entah mengapa Angga sangat ngotot ingin jadi kekasihnya.
Rahma:
Aku tuh matre. Kamu sanggup nggak beliin apa pun yang aku mau?"
Menurut Rahma, salah satu cara membuat pria mundur dengan sendirinya ya seperti ini. Ia tidak mau lagi jadi wanita bodoh yang membiayai pria.
Angga:
Insyaallah sanggup.
Emang mau beli apa?
Rahma mencibir jawaban Angga. Modus operandi kadal! Awalnya saja sanggup selanjutnya? Dia juga yang keluar uang.
Rahma:
Beneran sanggup?
Angga:
Insyaallah. Mau beli apa?
Rahma berpikir sambil berseluncur ke sosial media sebuah brand untuk sepatu yang cukup mahal bagi kantung kaum mendang-mending.
Rahma:
Flatshoes yg biasa dipake mbak-mbak SCBD.
Lama Angga membalasnya walaupun pesan itu sudah dibaca. Mundir juga akhirnya, pikir Rahma.
Angga:
Tory Burch?
Boleh. Beli aja. Nanti aku tf. Jangan lupa kirim rekeningnya.
Mata Rahma langsung melotot. Tunggu! Bukan ini yang ia harapkan! Ia pun langsung menelepon Angga.
"Ngga. Kamu serius mau beliin aku sepatu itu?"
"Serius. Pilih aja yang kamu mau. Nanti aku tf."
"Kamu nggak lagi mabok, kan?"
"Nggaklah. Kalau emang itu syarat jadi cowokmu, ya udah. Beli aja, ntar aku yang bayar."
Ini sih namanya senjata makan tuan! Rahma menepuk dahinya dengan keras. Astaga! Ngotot banget ini orang.
"Beneran ini?"
"Iya. Dah beli aja."
"Aku mau yang mahal. Nggak mau yang murah."
"Iya. Kabari aja. Aku tutup dulu ya. Waktunya kerja."
Ya Tuhan. Kenapa jadi Rahma yang takut sendiri dengan sikap Angga? Padahal kan bagus kalau memang pria itu bisa memenuhi semua maunya? Tapi masalahnya, sekarang ini Rahma sedang tidak ingin berurusan dengan cinta-cintaan! Bagaimana ini? Rasanya Rahma ingin menangis saja.
