Soraya

2.8K 277 76
                                        

Halooo! Lama kagak up cerita timit di sindang wkwkw. Dan moga suka dengan cerita ini 😚

💔💔💔

"Om, mau nggak nikahin aku?" Soraya menopang dagu dengan kedua tangannya di meja. Mengerling genit pada pria dewasa tersebut. "Pengin banget ada yang urusin soalnya," ujarnya manja. "Mau ya, Om?" Soraya menggerakkan kedua alisnya naik turun.

Refleks Danta menoyor kepala Soraya. "Kawin muluk mikirnya."

Soraya berdecak, melirik sengit pada kawan om-nya itu. "Nikah, Om. Dikira kucing apa kawin," ujar Soraya merengut. "Nikah itu enak, Om. Mau tidur ada yang ngelonin, makan bisa sepiring berdua. Bikin anak bisa tiap hari. Sehari 3x malah. Gimana? Mau, kan?" Senyum Soraya lebar, selebar daun jati.

"Nggak." Danta mendorong mundur kursinya sebelum berdiri. Sungguh tak habis pikir dengan teman ponakannya ini, bisa-bisanya semudah itu minta dinikahi seperti minta permen saja. Apa dikira nikah hanya soal kelonan? Astaga. "Kerja yang bener dulu baru nikah. Kerja juga baru kemarin dah mau nikah aja."

Soraya balik badan melihat Danta yang sedang mengambil minuman di belakangnya. "Ya nggak' apa-apa. Emang ada larangan nggak boleh nikah karena baru kerja? Perasaan nggak ada," bantah Soraya. "Apa aku langsung bilang aja ke Mama Om kalau aku minta dilamar?"

Danta sontak menatap tajam Soraya. "Jangan ngaco kamu. Nikah itu nggak main-main kayak goreng tahu bulat dadakan. Kalaupun aku mau nikah juga belum tentu kamu yang aku pilih."

Soraya merentak berdiri, berjalan cepat menghampiri Danta, dan berdiri di hadapan pria itu. Ia mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. "Kenapa?" tanyanya. Dadanya bergemuruh kuat sampai-sampai akan pecah.

"Bukan urusanmu."

Wanita itu mengangguk. Bibirnya menyeringai sengak. "Apa karena Kayara?" Semoga saja bukan, batin Soraya. Tapi melihat reaksi Danta sepertinya tembakan benar. Ia pun menarik napas panjang lalu tersenyum kecut. "Ok." Soraya berlalu dari hadapan Danta, mengambil tasnya lalu pergi.

Pria 35 tahun itu menatap kepergian Soraya dengan kening berkerut. Ada apa dengannya? Mengapa tidak ada perlawanan seperti biasanya? Apa dia sedang sakit atau ... Danta kembali ke meja dengan minuman yang baru saja diambilnya, melupakan sejenak tingkah laku aneh Soraya dan kembali memeriksa dokumen yang kerjasama yang akan diajukan.

###

"Ay udah Ay. Lo udah mabok parah ini." Anjela menyingkirkan gelas yang akan diraih Soraya. "Kita pulang."

Soraya mengurai cengkeraman Anjela, mendorongnya agar menjauh darinya. "Nggak mau." Ia menegak minuman keras itu. "Tambah lagi," perintahnya pada bartender.

"Ay udah Ay." Anjela hampir jatuh dari kursinya karena Soraya kembali mendorongnya. "Lo ada masalah apa sih kok gini." Sambil menunggu jawaban Soraya, ia mengirim pesan pada om-nya untuk menjemput Soraya. Anjela pikir hanya Danta yang bisa mengatasi temannya ini.

"Masalah?" Ia menatap Anjela. "Gue?" Soraya menunjuk dirinya sendiri. Lalu menghadap ke depan, berkedip-kedip lucu disertai dengan mimik wajah bingung. "Gue ok kok." Lalu menatap Angela lagi dan tertawa. "Tapi bo'ong hehehe. Sakit hati tapi dikit." Ibu jari dan telunjuknya menempel, membentuk  tanda sedikit lalu mulai menitikkan air mata dan meraung. "Gue sakit hati tapi nggak ada yang mau perhatiin gue," adunya. "Om lo juga. Gue benci dia. Benci banget. Dia nggak mau nikahin gue, maunya Raya. Hiks. Kenapa selalu dia? Papa, Mama, Abang cuma sayang dia."

"Lo anak pungut kali," celetuk Anjela. Niatnya menggoda tapi tangis Soraya menjadi. Anjela menahan tawa lalu memeluk temannya itu. "Cup. Cup. Cup."

Bukannya diam, Soraya makin meraung. Hatinya benar-benar sakit tapi tidak ada satu pun yang mengerti dia. "Pantesan mereka nggak pernah sayang gue. Ternyata gue anak pungut. Huaaa."

Cerita CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang