Through the Storm (Promosi)

1.8K 116 61
                                        


Part 1

Alluca sebenarnya malas pulang ke rumahnya dan lebih suka tinggal di apartemen sebab mamanya selalu ribut soal kapan dirinya menikah. Beliau sangat takut kalau Alluca lebih menyukai pria. Ada-ada saja. Biarpun memiliki beberapa teman penganut jalur pelangi, Alluca masih normal. Ia lebih menyukai surgawi daripada lubang neraka.

Namun, langkahnya berubah pelan saat melihat perempuan muda membantu bundanya masak. Apa kali ini wanita itu yang akan dijodohkan sama bundanya? “Bun.” Ia menyapa Bu Sani, memeluknya lalu menciumnya. “Papa ke mana?” Ia mencomot udang goreng tepung, mengunyahnya dengan cepat. “Bun, tolong buatin kopi, dong.” Ia menarik simpul dasi yang terasa mencekik lehernya. Menggulung lengan kemeja hingga di bawah sleeve garter. Ia benar-benar lelah dan ingin segera tidur tapi meninggalkan bundanya sendiri juga tidak mungkin.

“Papa tahlil di rumah Pak Broto,” jawab Bu Sani. “Al. Ini Shanum. Dia anak temen kecil Bunda dulu.” Bu Sani meletakkan cangkir kopi di meja depan putranya. “Orang tuanya sudah meninggal semua. Dia ke sini mau cari kerja. Kira-kira di tempatmu ada lowongan nggak?”

Alluca memperhatikan Shanum yang berdiri tak jauh dari kompor. Perempuan itu mengangguk singkat menyapanya sebelum kembali fokus pada masakannya. “Coba nanti aku tanya Riko, Bun.” Ia menuang kopi panas ke lapik agar sedikit mendingin. Namun, ekor matanya memperhatikan setiap gerak gerik wanita itu, tampak luwes, mungkin terbiasa membantu pekerjaan rumah. “Umur berapa?” tanya Alluca.

Shanum berhenti di depan Alluca saat akan menyajikan sayuran yang baru dimasaknya. Mungkinkah pria itu bertanya padanya?

“Kamu itu nanya sama siapa? Shanum apa Bunda?” komentar Sani. “Shanum?” imbuhnya. “Berapa, Nduk, umurmu?” Akhirnya ia yang mewakili Alluca bertanya.

“23, Bu.” Shanum menyajikan masakan terakhir yang diolahnya. Ia juga menyiapkan piring dan gelas untuk Bu Sani dan putranya. Kebetulan hari ini pembantu rumah keluarga ini izin pulang kampung jadi ia pun membantu Bu Sani.

Hanya dua? Bu Sani pun memanggil Shanum yang hendak ke belakang. “Num. Mau ke mana? Sini makan bareng sini. Ambil satu set piring lagi buatmu.” Ia segera duduk di sisi kanan putranya. “Duduk sebelah Al situ, Num.” Ia menunjuk kursi kosong di kiri Alluca. “Kamu itu bukan pembantu di sini, Num. Ngapain makan di belakang.”

“Ndak, Bu, saya di belakang saja,” tolak Shanum.

“He! Nggak. Ambil satu set lagi. Duduk di samping Al.”

“Tapi, Bu ....”

“Nggak ada tapi, Num. Cepetan.” Bu Sani memaksa.

Shanum menuruti perintah Bu Sani. Ia meletakkan piring, sendok, dan gelas di sisi Alluca dengan sangat pelan. Namun, ia tidak langsung duduk sebab merasa tidak layak.

Seolah tahu keraguan Shanum, Bu Sani kembali memerintahkan anak temannya itu duduk. “Duduk, Num. Kursinya nggak bakal kotor kalau kamu duduki. Buruan duduk.”

Ia pun duduk dengan ragu-ragu lalu menunggu Bu Sani dan putranya mengambil makanan barulah ia berani mengambil makanan tersebut.

“Kok dikit banget, Num, ambilnya. Kamu diet?” tanya Bu Sani.

Gadis muda tersebut menggeleng. “Ndak, Bu. Segini saja sudah cukup.”

Tanpa banyak bicara, Bu Sani menambahkan nasi dan lauk ke piring Shanum. “Habiskan, Num. Kamu itu terlalu kurus. Nggak usah sungkan-sungkan di sini. Anggap rumah sendiri. Makanen wes. Nggak usah takut habis, nanti bisa masak lagi.”

Shanum mulai makan dengan sangat hati-hati jangan sampai menimbulkan suara sedikitpun. Dan semua itu tak lepas dari pengamatan dua orang lainnya, Alluca dan Bu Sani. Keduanya saling pandang dengan pertanyaan yang sama secara tersurat yaitu kenapa seperti itu?

Cerita CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang