Retak (Promosi)

1.8K 183 34
                                        

Hallo! Aku spill 2 part di sini. Yang mau lengkap ada di Karyakarsa. Btw, aku udah nulis cerpen buat di sini kayak biasanya tpi kurang dikit hehehe. Sabar yak 🤣

Part 1

“Tadi Pak Yasin telepon, dia bilang kamu mau mengajukan gugatan cerai.” Raynar menatap lekat lawan bicaranya. Wanita itu tertunduk, memberi perhatian pada makanannya tapi Raynar yakin bahwa makanan itu tidak lagi menarik minat Sabira.

Tanpa banyak bicara, Sabira mengangguk. “Iya,” jawabnya lirih. Rasanya ia sudah tidak bisa lagi menatap pria itu sebab hanya ada benci dalam pandangan Raynar padanya.

Sungguh bukan tatapan penuh kebencian yang Sabira mau tapi ... bukankah ini risiko yang pasti ia terima ketika memaksakan pernikahan ini? “Mungkin mulai besok aku kembali ke rumah Opa.”

Sejujurnya berat sekali keluar dari rumah ini tapi Sabira tidak mempunyai hak sama sekali sebab ini adalah rumah Raynar. “Om.” Wanita itu mengangkat pandangan, melihat lurus pria yang sudah satu setengah tahun ini menjadi suaminya. ”Maaf sudah egois mengikat Om dalam pernikahan ini. Aku tahu ini mungkin terlambat tapi hanya ini yang bisa aku lakukan sekarang ini.”

“Kenapa baru sekarang?” Raynar membalas tatapan Sabira dengan penuh makna. Perasaannya saja atau memang benar kalau Sabira terlihat kurus dari biasanya?

Pertanyaan yang terucap dengan lugas dan dingin itu menyentak kesadaran Sabira bahwa perpisahan ini yang ditunggu oleh Raynar. “Karena aku yakin bisa bikin Om cinta sama aku tapi ... mau kayak gimana pun usahaku ternyata nggak bisa bikin Om cinta sama aku.” Sabira memaksakan senyum kecil untuk menutup kesedihannya akibat patah hati dan patahannya begitu dalam.

“Mungkin aku nggak akan datang ke persidangan buat mempercepat persidangan kita.” Setelah mengatakan keperluannya, ia mengambil tas dan mengeluarkan kunci rumah, kartu kredit, kartu debit, dan cincin nikah yang sudah ia lepas sebelumnya. Sabira meletakkan semuanya di meja. “Ini aku kembalikan. Kartu-kartu itu nggak pernah aku pake. Aku pamit, Om.”
Sabira harus segera pergi sebelum pertahanannya jebol. Tangis yang ia tahan sedari tadi sudah tidak terbendung, Dan benar saja, belum sampai di pintu restoran, air mata Sabira sudah berlinang. Ia kalah.

###

“Yakin mau pisah?” Ini sudah kesekian kalinya Leora bertanya akan keputusan Sabira berpisah dengan Raynar.

Sabira mengangguk. “Kenapa, sih? Nggak bosan tanya itu terus?” Ia coba makan secuil roti pisang yang ia minta pada Leora.

Kawan dari Sabira itu menghela napas dalam kemudian menatap iba pada Sabira. “Kamu tahu jelas maksudku.”

Kini Sabira yang menarik napas besar lalu bersandar di kepala ranjang. “Justru karena aku tahu makanya aku pilih pisah, Ra. Udah cukup selama ini aku nyiksa Om Ray dan aku nggak mau semakin menyiksanya. Lagian sekarang harapanku sama dia udah tipis banget, setipis tisu dibagi enam terus dikasih air alias ambyar. Dan kayaknya benar sih yang orang-orang bilang, pria itu cintanya habis pada cinta pertamanya, selanjutnya hanya meneruskan hidup. Dan cinta Om Ray udah habis sama Cantika. Beruntung banget Cantika dicintai ugal-ugalan sama Om Ray.”

Namun, sayangnya Cantika tidak berumur panjang. Usia pernikahan mereka hanya bertahan dua tahun tanpa dikaruniai anak. Temannya itu mengalami kecelakaan bersama keluarganya dan meninggal di tempat.

“Sekarang rencana kamu gimana? Nggak mungkin kan kamu terus-terusan ....”

“Kayaknya aku perlu keluar dari sini deh, Ra.” Sabira memotong ucapan Leora. “Rumah Opa nanti aku sewain terus aku pindah ke mana gitu. Ke desa mungkin? Cari suasana baru. Rasanya capek bener hidup di kota.”

Cerita CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang