Genggaman Yang Terlepas

1.2K 171 14
                                        

Halaooo! Lama kagak update dimari yeee.

🌷🌷🌷

"Jadi kalian beneran putus?" Erika meletakkan secangkir minuman cokelat hangat di meja depan Maya—pantry kantor. "Kamu udah jelasin sama dia, kan?"

Maya mengangguk lemah.

"Tapi Andra nggak mau denger?" ujar Erika.

Maya kembali mengangguk. Pria itu bahkan mengatakan dirinya pembohong dan pengkhianat seperti kekasih Andra yang dulu.

"Emang susah sih ngomong sama orang cemburuan itu."

Wanita 27 tahun itu membenarkan ucapan Erika. Andra dan cemburunya satu paket lengkap yang kombo dahsyatnya.

Erika menarik napas panjang melihat sahabatnya ini bermuram durja. Kasihan tapi dirinya tidak berani berkata macam-macam. "Terus sekarang kamu gimana?"

"Nggak tahu," ujar Maya lemah. Tidak hanya pikirannya yang membuatnya lemah tapi juga fisiknya. Sekarang ini sedang demam tapi memaksakan diri untuk masuk. Ia perlu bertemu banyak orang untuk mengalihkan pikirannya. "Mas Yadi, ada obat demam nggak, ya? Ia bertanya saat ob kantor datang.

"Mbak Maya sakit toh?" Yadi mencari obat di laci. Seingatnya ia pernah beli untuk dirinya sendiri tapi ada sisanya. "Ini Mbak."

"Makasih ya, Mas." Maya mengantongi obat tersebut yang akan ia minum nanti.

"Tahu sakit, masih aja masuk," komentar Erika. Kalau dirinya pasti akan milih tidur tanpa diganggu siapa pun.

"Aku kalo nggak masuk bisa makin edan Mbak. Bawaannya mellow aja. Mending gini, denger kalian ngobrol tuh obat buatku."

"Mana ada kayak gitu, May. Ngeles aja. Bilang aja pengin lihat Andra." Erika yang tahu titik kelemahan Maya mencibir alasan temannya yang tidak masuk akal itu.

Mungkin yang dikatakan Etika benar,  rasanya akan beda jika tidak melihat Andra. "Aku bucinnya kebangetan ya, Mbak? Udah diputusin tapi masih aja pengin lihat dia." Ia menempelkan kepalanya di meja pantry, rasanya seperti mau meledak.

Erika menghela napas, turut prihatin melihat Maya yang sedih, wanita itu layaknya bunga yang diputus dari batangnya, layu dan mati. Ia pun mengelus punggung kawannya itu sebagai bentuk dukungan bahwa dirinya akan selalu ada di samping Maya. "Enggak. Itu wajar aja. Setahun barengan terus putus, ya masih susah ngubah kebiasaan."

"Iya, Mbak." Maya sudah putus asa mencoba menjelaskan bahwa semua itu salah paham. Ia tidak selingkuh tapi pria itu adalah temannya sewaktu kuliah dulu.

"Nanti pulang, langsung tidur. Nggak usah nongkrong atau apa. Cepet sehat biar bisa ikut gathering nanti. Rugi nggak ikut, nggak bisa cuci mata lihat cowok-cowok dari divisi lain."

Oh ya, hampir saja Maya lupa jika weekend ini mereka akan gathering ke pantai. Mereka menyewa vila. Acara tahunan yang selalu perusahaannya agendakan.

###

Sabtu pagi, langit cerah seperti perkiraan cuaca di layar ponsel, Maya dan rombongan menuju Ancol untuk menyebrang ke salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Dermaga 16 Marina Ancol pagi itu penuh sesak oleh rombongan dari perusahaan Maya, seperti sesak di dada wanita itu menahan kesedihannya. Kegembiraan rekan kerjanya, riuhnya penumpang lain, panggil dari informasi, serta bau solar yang tercium dari mesin speedboat, semakin menambah sesak di dada Maya yang sejak semalam ia rasakan, atau itu hanya perasaannya saja?

Ramai . Riuh tapi seolah berdiri di ruang hampa dan sunyi, tanpa cahaya. Layak orang buta, semuanya hitam. Di sana, pria yang ia cintai tengah sibuk dengan ponselnya, mengabaikan dirinya atau sekedar meliriknya pun tidak, seakan mereka tidak saling mengenal.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cerita CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang