22. Sidang

1.5K 164 6
                                        

Seperti biasa harus nunggu ada WiFi dulu baru bisa up (⁠ ⁠ꈨຶ⁠ ⁠˙̫̮⁠ ⁠ꈨຶ⁠ ⁠)

Ngakak banget aku bacain komenan kalian di chapter sebelumnya😂

Targetnya masih samaaa, 50 vote & 10 komentar.

ԅ۝✧GENG DREAM✧۝ԅ

Rizan menundukkan kepalanya enggan melihat sahabat-sahabatnya yang menatapnya bak predator ingin memakan mangsanya. Ia duduk di sofa, kakinya rapat dan kedua tangannya berada di atas paha dengan jari-jarinya bertautan.

Ketegangan terasa jelas di antara mereka, suasana terasa mencekam hingga Rizan merasa seperti tercekik. Rizan hanya bisa duduk diam tanpa mengatakan apapun begitupula dengan sahabat-sahabatnya yang hanya diam sembari menatapnya.

"Rizan."

Suara ketua geng Dream terdengar memanggil namanya dan entah kenapa Rizan merasa sedikit takut ketika mendengar itu.

"Ya?" Rizan memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap Mada, meskipun takut, attitude sopan tetap nomor satu.

"Habis dari mana?"

Dengan takut-takut Rizan menjawab, "Mall."

"Ngapain?"

Rizan diam sejenak sembari menundukkan kepalanya lalu kembali mengangkatnya, "Belanja." Lirihnya.

Tetapi, karena sunyi sedang melanda ruang tengah maka, mereka bisa mendengar lirihan Rizan membuat mereka tak habis pikir.

Jemian menarik napasnya dalam-dalam dan dihembuskan dengan pelan.

"Sebelum ke mall lo habis dari mana?" Tanya nya.

"Kost temen." Jawab Rizan.

"Sebelumnya lagi."

"Hotel X..."

Kini giliran Jafin mengangkat suaranya, "Lo tau kalo hotelnya kebakaran?"

Rizan menganggukkan kepalanya pelan, "Tau."

"Terus kalo udah tau, lo gak mau pulang gitu? Sengaja bikin kita khawatir? Iya?"

Rizan menggeleng-gelengkan kepalanya heboh menyangkal tuduhan Jafin.

"Enggak! Gue gak bermaksud bikin kalian khawatir." Sanggahnya.

"Terus apa? Kenapa lo gak langsung pulang? Lo tau gak, lo udah bikin kita khawatir setengah mati!! Lo dicariin gak ketemu, ditelpon gak bisa, dichat centang satu, GPS gak bisa dilacak. Pas kita lagi kalang kabut nyariin lo, lo malah enak-enakan belanja di mall?!"

Napas Jafin memburu, tenggorokannya sedikit sakit setelah mengatakan kalimat panjang itu, ia tidak bisa menahan emosinya yang meledak-ledak.

Rizan terdiam kaku, napasnya tercekat, degup jantungnya bertalu-talu tidak nyaman, matanya mendadak terasa panas dan pandangannya mengabur.

Jafin berdiri dari duduknya dan menghampiri Rizan, tangan besarnya mencengkram dagu Rizan dan mengangkatnya sehingga matanya bertatapan dengan mata Rizan.

Heaven In VillaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang