Meskipun telat, tapi aku tetep mau ngucapin minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin🙏🏻
Kalo kalian gak vote nanti Rizan ngambek. Kalo kalian gak komen nanti Carel tantrum.
Oh ya, aku saranin kalo baca cerita ini itu pake font Serif atau Source Sans Pro biar enak pas baca. Tapi kalo kalian udah nyaman pake font yang lain juga gapapa (◍•ᴗ•◍)♡
ԅ✧GENG DREAM✧ԅ
"Badan gue sakit semua." Semua orang yang ada di dapur kompak menatap Haikal yang memijat lengan atasnya sembari memasang wajah berkonflik.
Pagi-pagi Haikal bangun dengan tubuh yang pegal dan sakit di beberapa area membuatnya tidak ingin menjalankan aktivitas sehari-harinya. Padahal luka yang ia dapat ketika kecelakaan kemarin masih belum pulih sepenuhnya.
Sepertinya ini karena dia terkena angin malam saat mencari Rizan yang tiba-tiba 'menghilang' dan akibatnya berdampak pada tubuhnya.
Rizan yang mendengar keluhan Haikal langsung murung dan merasa bersalah, ia yakin penyebab Haikal merasa tidak enak badan karena dirinya. Rizan menghampiri Haikal yang masih diam di tempatnya sambil memijat lengannya dengan mata terpejam.
"Maafin gue..."
Haikal sontak membuka matanya, ia menaikkan sebelah alisnya melihat raut wajah Rizan yang nampak bersalah.
"Kenapa lo minta maaf?" Tanya Haikal, dia tidak paham mengapa sahabatnya ini meminta maaf kepadanya.
"Lo sakit gara-gara gue." Jawab Rizan lalu memijat lengan atas Haikal.
Haikal dapat mendengar jawaban temannya itu dan langsung membantah, "Bukan gara-gara lo, imun gue aja yang menurun. Jangan salahin diri lo sendiri."
Setelah mengatakan itu, Haikal memeluk Rizan yang tubuhnya lebih kecil darinya dan mengelus-elus punggung Rizan seakan menegaskan perkataannya bahwa Rizan tidak bersalah.
Sementara itu, Jemian dan Carel yang sedari tadi memperhatikan adegan haru biru keduanya pun kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.
Haikal melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Rizan, ia menatap dalam mata Rizan yang menurutnya sangat cantik dan indah, mata Rizan terlihat berkilau seakan ada bintang yang terpancar di dalam sana.
"Jangan salahin diri lo sendiri, oke? Gue sakit gak ada hubungannya sama lo, ini murni karena imun gue aja yang lagi lemah."
Rizan hanya mengangguk kecil dan mengalihkan pandangannya seraya menurunkan tangan Haikal dari pipinya, dia tidak sanggup melihat wajah serius Haikal yang menatapnya dalam.
"Kal, mending lo siap-siap buat berangkat kuliah." Jemian menginterupsi Haikal yang masih menatap Rizan.
"Tapi kalo badan lo beneran sakit mendingan libur sehari lagi."
"Iya." Sahut Haikal singkat.
Rizan melirik Haikal yang menyempatkan diri untuk mengelus kepalanya sebelum pergi ke kamarnya.
"Abang Rizan bantuin, dong."
"Ha?"
"Bantuin goreng mendoannya."
"Ooh oke."
Ketiga juru masak itu fokus mengerjakan tugas mereka, yaitu membuat hidangan lezat yang nantinya akan dijadikan sebagai sarapan yang dapat menghasilkan energi dan stamina semua orang di villa supaya dapat memulai aktivitas dengan baik.
Sedangkan di salah satu kamar member geng Dream, si pemilik kamar nampak sedang tidak baik-baik saja, tangannya mencengkram pelan handphonenya dan matanya menatap tajam ke depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Heaven In Villa
Fan-FictionTujuh laki-laki tampan dengan persahabatan erat yang tinggal satu atap di sebuah villa. • • • • • Ini hanya fiksi, jadi jangan dianggap serius apalagi dibawa ke real life! Bukan genre BL/BxB/GAY! Start: Rabu, 3 Juli 2024 End:
