2,6k untuk kalian✨
Yg masih baca, kalian nggak mau gote komen apa ramein lapak ini🥹
Happy Reading!
***
"Mas, bangun, kok tidur di luar?"
Andra mengerjapkan dan mengucek matanya, berusaha mengembalikan kesadaran setelah ia tahu bangun-bangun sudah ada di depan pintu kamar Anaya. Dan dipandangi dari dekat oleh ibu-ibu paruh baya berseragam OB.
"Ah iya maaf, saya ketiduran, Bu," ucapnya pada salah seorang petugas kebersihan dan bangkit.
"Ada-ada nih Masnya, kemarin si mbak depan kamar yang ketiduran depan pintu, sekarang masnya," ungkap wanita itu mundur perlahan meraih peralatannya. "Kalo lagi berantem diomongin baik-baik, kasian kan sama-sama sakit dua-duanya."
"I-iya, Bu, makasih sarannya, ucap Andra yang langsung bangkit dan melangkah memegangi knop pintu.
"Saya permisi kalo gitu, Mas," pamitnya.
Selepas kepergian petugas kebersihan, Andra bergegas masuk untuk bersiap berangkat kerja lebih pagi karena Andra dan Chris akan pergi mengantar Lalita dijemput oleh orang suruhannya kembali ke head office.
Baru saja Andra membuka pintunya dan hendak berangkat, Clara sudah berada di depan pintu kamar Anay dan menoleh padanya, tatapannya tak berekspresi, ketus dan malah membuang muka. Andra yakin wanita itu pun sama bencinya melihat perilakunya kemarin terhadap rekan kerjanya.
Tak menghiraukan perilaku Clara, Andra bergegas lebih dulu pergi hingga beberapa saat tiba di kantor, beberapa orang menyapanya dengan ramah, mereka tidak tahu tentang kejadian kemarin karena prang yang mengetahuinya cukup Chris, Lalita, Clara serta Andra dan Anaya saja yang masih di tempat di luar jam kerja.
"Pagi Pak Marcel, tumben pagi banget berangkatnya." Salah seorang bawahannya, seorang pria paruh baya menyapa.
"Saya cuma nyimpen berkas kerja karna mau mengantar sekretaris saya kembali ke pusat."
"Ohh iya, hati-hati di jalannya, Pak Marcel!"
Sebagai tanda menghargai rekan kerja, Andrs membalas dengan anggukan lalu beralih pergi usai menaruh sesuatu di atas meja kerja Anaya. Andra kembali menuju hotel dan masuk ke lobi, Chris sudah bersamaan dengan Lalita yang pagi ini menggerutu kesal.
"Dra, dia nggak mau pulang," ungkap Chris.
"Kenapa gue aja yang pulang? Nggak adil banget Chris malah nemenin lo disini." Lagi-lagi Lalita protes, bukan pada Chris lagi melainkan pada Andra langsung.
Andra sedikit menghela napasnya gusar, alasannya menyuruh Lalita pulang karena keberadaan Lalita membuat kondisi tidak nyaman, bukan pada mnya melainkan pada Anaya. "Gue butuh dia buat ngurusin masalah IT di Villa," ucap Andra terus terang beralasan dengan logis.
"Tapi lo juga butuh gue sebagai sekretaris, Andra!" protes Lalita tidak terima.
"Gue kan udah bilang, gue bisa handle, lo atasin secara daring aja, Ta. Nanti gue infoin tiap meeting jam 2," putus Andra, ia melirik Chris lalu ke arah koper yang sudah disiapkan. "Chris, tolong bantu bawain koper Lalita ke bagasi!"
Chris menarik koper tersebut, mematuhi perintah yang Andra suruh padanya. Pria itu berjalan menekan bagasi mobil yang otomatis terbuka lalu menaruh barang tersebut di sana dan ditutup kembali sebelum pergi.
"Lo nurut aja sama gue, Ta, jangan bikin gue pusing." Andra menepuk bahu Lalita, lalu menitipkannya ke pria di sampingnya. "Lo anter Lalita, ya?"
"Gue... sendiri?" tunjuk Chris pada mukanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GALANDRA - (COMPLETED)
Romance(Sevielle Series #1) Menjadi mahasiswa unggulan dan idaman para gadis tidak membuat Andra menjadi sosok playboy di kampusnya, bahkan dari ribuan mahasiswi Sevielle ia malah lebih baik mengencani Gaby, sahabatnya sendiri. Liburan semester genap yang...
