Extra Part 2

429 8 0
                                        


Hai kangen ga sama cerita ini??

Aku kayanya bakal tambah
extra part 3 deh😂

6k kata nihh ramein yaaa🔥🔥🔥

So hope you like it
Happy Reading!

***

5 tahun yang lalu...

Anaya tidak tahu sudah berapa lama dirinya berada di kamar itu. Duduk dalam diam, di bawah selimut yang makin terasa menyesakkan. Waktu seolah berhenti. Mungkin pagi. Mungkin siang. Tapi tidak ada bedanya. Semua hanya bayangan yang samar, tidak nyata.

Kepala Anaya terus memutar ulang fragmen kejadian di apartemen Galvin—dinding yang terasa menekan, pintu yang terbuka paksa, cahaya yang terlalu terang, dan napas yang tercekat di tenggorokan.

Ada suara, tapi bukan suara manusia. Lebih seperti gema trauma yang terus-menerus menghantam dari dalam. Anaya ingat tubuhnya gemetar hebat saat ditemukan, ditarik dari sudut ruangan dengan selimut membungkus tubuhnya yang kaku. Tangisnya nyaris tanpa suara, dan bibirnya hanya bergerak tanpa kata.

Setelah itu, semuanya kabur. Ketika bangun Anaya hanya berbalut selimut, tanpa busana, pintu dibuka paksa dan melihat Rafael menyuruh seorang wanita memakainya baju dan membawanya pulang, ke rumah sendiri yang kini terasa asing.

Langkah kaki di luar kamar membuat dada Anaya terasa penuh. Bukan karena rindu. Tapi karena takut. Takut akan hal yang tak bisa disebutkan, karena bahkan bayangannya pun terlalu menyakitkan untuk dihadapi.

Suara Thomas terdengar lagi di luar kamar. Terdengar cemas. Panik yang dipendam dalam nada bicara yang ia kenal sejak kecil. Tapi Anaya tidak sanggup menyambutnya. Tatap mata saja terlalu sulit. Terlalu berisiko. Jika dia menatap mata orang lain, Anaya takut dirinya akan hancur berkeping-keping. Atau lebih buruk—tidak merasa apa-apa sama sekali.

Lalu ada suara lain. Seorang wanita. Tenang, lembut, penuh kehati-hatian. Ketika pintu dibuka dan suara itu mulai mengajaknya bicara, Anaya hanya menarik selimut lebih erat, seperti berlindung dari dunia yang terus menyakitinya.

"Anaya, kamu merasa lebih baik sedikit hari ini?"
Tidak. Tapi Anaya tetap diam. Lidahnya seperti terikat. Nafasnya pendek, gemetar. Ia hanya ingin menghilang.

Dia berkata lagi dengan nadanya yang lembut. "Anaya, saya tahu ini berat, tetapi kamu tidak perlu melalui ini sendirian."

Sendirian. Kata itu terdengar menyakitkan. Anaya sudah merasa sendirian sejak hari itu. Sejak segalanya mulai rusak.

Suara Thomas terdengar kembali, kini berdiskusi dengan suara perempuan itu, Miya. Nama yang pernah didengar, tapi kini hanya terasa seperti bunyi asing yang tidak bisa dijangkau oleh pikirannya yang berkabut.

"Anaya mengalami gejala yang sangat khas dari PTSD..."

"...Trauma yang dia alami sangat mendalam..."

"...perawatan di RSJ Sevielle..."

RSJ. Rumah sakit jiwa.

Seharusnya ada rasa takut. Malu. Atau perlawanan. Tapi Anaya tidak merasakan apa-apa selain kehampaan. Jika ini yang harus dilalui, mungkin itu lebih baik. Mungkin jika dia berada di tempat yang terpisah dari semua ini, di tempat di mana ada orang yang mengerti, dia bisa kembali menjadi dirinya sendiri.

Tubuh Anaya merasa kembali gemetar. Entah karena kenangan. Entah karena rasa lelah yang begitu dalam. Segalanya terasa seperti labirin tanpa pintu keluar.

GALANDRA - (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang