71 | A Bet

313 9 2
                                        

Khusus part ini diketik 3k+🔥

Ditunggu dukungannya🙌🏻

Happy Reading!

***

Anaya tersadar merasakan sesuatu di lehernya seperti sedang menindih sesuatu yang begitu keras dan besar selain bantal, meskipun matanya masih terpejam Anaya tak menghiraukan hal itu dan berbalik berniat memeluk guling, anehnya kali ini guling tersebut menjadi berukuran besar ... dan berotot.

Tapi tunggu, di kamarnya tidak ada guling yang begitu, Anaya berusaha mengumpulkan nyawanya untuk bangun, matanya terbuka perlahan langsung disuguhi oleh dada bidang yang tertutup oleh sebuah pakaian oblong hangat berwarna soft grey dengan dua kancing sebagai hiasan.

Kepala Anaya mendongak, menemukan sosok pria yang merasa buat tidur Anaya nyenyak dan tidak gelisah lagi. Mata Anaya mengerjap, berkali-kali pikirannya bertanya, apakah dirinya ini mendadak kembali ke masa lalu atau bukan?

Pandangannya melihat ke sekitar, jelas bukan, ini kamar hotel yang sama seperti kamarnya, tapi dari segi desain sedikit berbeda, dirinya lalu terperanjat untuk duduk, melihat ke dalam selimut demi mengecek pakaiannya masih lengkap atau tidak, helaan napas terdengar, bersyukur kali ini masih lengkap.

Namun rasanya Anaya tidak menyangka, kenapa Anaya bisa ada di sini, bersama Andra tidur dengannya, apakah terjadi sesuatu semalam? Atau Andra berusaha mencelakainya supaya bisa mamanfaatkan Anaya agar bisa di sini, kembali bersamanya? Brengsek!

Pikiran Anaya isinya negatif semua, mengumpat terus dalam hati bisa sekamar dengan Andra dalam kondisi kerja proyek begini. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 6 pagi, Anaya sebaiknya harus pergi sebelum ada orang yang melihat dirinya keluar dari kamar pria.

"Masih pagi, Nay." Baru saja beranjak hendak turun, tangan kekar itu hinggap di pinggangnya menarik Anaya kembali hingga tubuh Anaya jatuh tepat di samping Andra, pria itu dengan sengaja mencium bibirnya. "Mau kemana, hm?"

"Brengsek!" Anaya mendorong kuat-kuat tubuh Andra dan bangun dari kasur, sambil berdiri emosinya memuncak usai mengusap bibirnya secara kasar. "Kenapa gue di sini, lo ngapain gue semalem?!"

"Kamu lupa?" Andra bangun, menyandarkan tubuhnya pada headboard. "Kamu sendiri tidur di kamar aku, kamu sendiri yang nggak mau aku anter pulang ke kamar, kamu sendiri yang peluk aku, cium ak—"

"Stop-stop, berenti ngarang!" Anaya tidak habis pikir, apa maksud semuanya? Dirinya mabuk begitu sampai bisa berakhir di kamar Andra? "Gue nggak ngerti semua omongan lo, gue nggak mabuk ya, semalem!" ucapnya dengan yakin dengan nada penekanan.

"Beberapa hari ini ... aku selalu jagain kamu tiap kamu sleep walking, Anaya." Andra akhirnya berterus terang.

"Gue nggak percaya!" Anaya merasa dibohongi, mana ada dia terkena gejala seperti itu, gejala itu sudah berhenti sejak ... setahun yang lalu.

Tangan Andra mengusap wajahnya, lalu beralih mengambil ponsel di nakas, sibuk mencari sesuatu di dalamnya. "Aku ada buktinya kalo kamu nggak percaya." Andra memberikan ponselnya pada Anaya yang segera dia ambil untuk dilihat.

Itu adalah bukti rekaman CCTV di selesar kamar hotel mereka, terlihat Anaya berjalan dengan pandangan kosong dan Andra yang mengawasinya, sesekali Andra membantu supaya Anaya tidak menabrak sesuatu di depannya sampai diakhir video dimana Anaya memeluk Andra yang tengah berdiri di depannya.

Ponsel tersebut Anaya lempar ke kasur. "Lo memanfaatkan hal ini supaya gue masuk ke kamar lo, kan?" Anaya merasa kecewa, gejala sleep walking-nya memang terjadi dan dimanfaatkan oleh Andra supaya dirinya bisa tidur sekamar dengan pria itu.

GALANDRA - (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang