51| Not the End

574 14 2
                                        

Ketemu lagi kita pas malming.
Happy Reading!

***

Andra melakukan aktivitas kembali seperti biasa,  kini ia balik menjadi most wanted Sevielle. Setelah kasusnya selesai sebagai laki-laki sejati yang berani menyerahkan diri untuk penyelidikan dan nama baiknya kembali. Statusnya kini menjadi single, banyak gadis yang mengantri ingin menjadi pacarnya, tapi Andra memutuskan untuk fokus terhadap karir ke depannya.

Menurutnya, mencari seorang pasangan dihidupnya suatu hal yang sulit, perlu banyak pertimbangan sebab pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan menjadi akibat yang tidak pernah Andra lupakan.

Kalian tahu siapa yang Andra maksud, kan? Sakit yang Andra rasakan dikhianati oleh seseorang yang ia sayang, padahal Andra sudah memahami perasaan Anaya kala itu, memaafkan segala kebohongannya. Namun, ia gunakan sebagai senjata untuk merusak masa depannya dan membuat Ayahnya jatuh sakit.

Sudahlah, lupakan hal itu. Mari memulai lembaran hidup baru, anggap saja tidak pernah terjadi hal itu. Kelak Andra akan lebih berhati-hati mencari pasangan baru.

"Dra?"

"Neo?" Andra melirik kesana-kemari. "Gaby mana?"

"Masih ada kelas."

"Loh? Tumben lo nggak ada kelas jam segini?"

"Agak siangan nanti." Neo membenarkan tas ranselnya untuk digendong usai mengeluarkan kunci mobil. "Ayo gue anter. Lo nggak bawa mobil, kan?"

"Bentar gue nggak paham, lo mau nganter gue kemana?"

"Anter lo nemuin pelaku kasus pembunuhan Aleya." Neo menatap Andra yang bergeming tak berjalan beriringan di belakangnya. "Lo nggak dihubungin sama Pak David?"

"Ponsel gue lowbat," ucap Andra. Ia lupa menchargenya semalam saat mengerjakan tugas.

"Pantes, gue disuruh Pak David temenin lo ke kantor polisi."

"Neo?" Andra menarik lengan Neo agar melihat ke arahnya. "Siapa pelakunya?" tanya Andra penasaran. Neo tak menjawab apa-apa, hanya mengatakan jika nanti ia akan tahu saat mereka sudah sampai di sana.

***

David membereskan beberapa file yang berserakan di atas meja kerjanya, file tersebut terkait kasus pembunuhan keponakannya yang ditenggelamkan di laut. David tidak pernah berpikir gadis pembuat onar itu akan berakhir meninggal dengan tragis, dengan tubuh membiru sampai tidak terkenali wajahnya. Dan juga tak pernah menduga bahwa pelakunya ada disekitar.

Air mata David menetes sesaat, namun langsung ia usap dengan kedua telapak tangan. Pikirannya tertuju pada satu orang sekarang, korban selanjutnya setelah Aleya. Kenapa nasibnya juga sama, apa ia gagal mendidik kedua gadis kecil tersebut. Ditambah sang kakak yang kini lumpuh tak berdaya, semua ini peristiwa beruntun yang disebabkan oleh satu orang yang sama.

Ketukan pintu membuat David berhenti berlarut terlalu lama. "Pak, ada tamu, Andra dan temannya."

"Sebentar lagi saya keluar."

Di depan Andra sudah menunggu bersama Neo, mendapati David menemuinya. Pria itu menyapa dengan ramah dan sebaliknya. David pun sudah tahu tujuan Andra datang adalah menemui seseorang yang kini sudah di dalam jeruji besi menunggu sidang perdana atas kasus-kasus yang dilakukannya.

"Kalo boleh tahu sekarang, siapa pelakunya, Pak?"

"Saudara kamu, Galvin" Antara syok dan percaya jika ternyata benar dugaannya beberapa hari belakangan ini. "Dia buronan setelah kita temuin rekaman CCTV dari foto yang ada di laptop kamu itu. Kita juga geledah apartemennya dan nemuin bom rakitan yang sama ketika terjadi ledakan basement yang menimpa kakak saya, Thomas." David dan kedua anak laki-laki itu menyusuri lorong, melewati beberapa sel penjara. "Jadi target yang dituju tidak cuma Aleyautamanya, ada Thomas dan kamu, Andra." Ada rasa tertahan dalam diri David ketika tak menyebutkan nama Anaya masuk ke dalam daftar trget tersebut, ia pikir ini satu-satunya cara agar keduanya bisa saling melupakan satu sama lain meskipun salah satu dari mereka caranya dengan membenci.

GALANDRA - (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang