76| Undone Promises

412 10 1
                                        

Sekedar baca ulang ternyata ada part yang kepotong, untuk masih ada di draft hp, pantes kayak ada yang kurang😭🙏🏻

Btw nggak banyak kata yang ditulis dipart ini tapi cukup merasakan bagaimana dua orang keras kepala ini menentukan pilihan🥹

Aku harap kalian jatuh cinta dengan cerita ini, meskipun bukan kisah nyata tapi ada aku didalamnya merasakan luka yang sama seperti Anaya.

Jangan lupa dukungannya, ya💗

Happy Reading!

***

Anaya menatap Andra lama. Wajah itu masih sama—lelah tapi selalu bisa bikin hatinya tenang. Ia menahan napas sejenak sebelum bicara, suaranya nyaris berbisik, "Aku masih kangen... Boleh nggak kita diem kayak gini dulu? Aku takut kamu tiba-tiba kaya semalem."

Andra hanya diam. Tubuhnya kaku, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Tapi Anaya tahu, kalimat "aku juga" seharusnya ada di sana—menggantung di udara, tertahan di balik sorot mata yang tak sanggup berbicara.

Pelukan itu perlahan mengendur. Andra melepaskannya dengan lembut, lalu mengangkat wajah Anaya dengan kedua tangannya. Sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Nyaris seperti angin yang berlalu. Namun bagi Anaya, hangatnya terasa seperti pertanda... perpisahan.

Kesadarannya pulih seketika saat mereka masih berdiri di lorong rumah sakit. Refleks, Anaya memukul pelan bahu Andra. "Andra! Nanti kalau ada yang lihat gimana?!"

Nada suaranya spontan, memadukan panik dan malu. Tapi di ujungnya, ada tawa kecil yang menyelinap—tanda betapa gugupnya ia saat pria itu terlalu dekat.

Andra tertawa kecil. "Ya emang kenapa?"

"Malu tau..." Anaya mengalihkan pandangan. Pipinya memerah. Andra memang selalu berhasil membuatnya menjadi versi dirinya yang paling polos.

"Aku pergi sekarang ya," ucap Andra pelan. "Mau ke lab bentar. Habis itu urusin yang lain."

Jantung Anaya berdebar lebih cepat. "Tes DNA sekarang?" Terdengar mendadak karena Anaya tahu Andra sendiri baru sembuh dari sakit semalam.

Andra mengangguk. "Iya, soalnya udah buat jadwal."

"Mau aku temenin?" tawarnya, pelan. Ada kekhawatiran yang tak bisa Anaya sembunyikan. Dia ingin tahu semua prosesnya, ingin memastikan Andra tidak melewati ini sendirian.

Andra menggeleng pelan. "Aku sama Neo aja. Nggak lama kok."

"Hasilnya kapan?"

"Mungkin tiga sampai enam jam udah bisa dapet hasil." Andra menggenggam tangannya, erat. "Nanti aku ke sini lagi."

Anaya mengangguk. Tapi matanya menyimpan kecemasan yang sulit ditutupi. "Kabarin aku." Napasnya berat. "Apapun hasilnya... kita tetap sama-sama, kan?" katanya. "Aku mau ngenalin kamu ke Natan. Sama Papa, Om David, Om Miller dan Rafael. Dengan status kita sekarang."

Lagi-lagi Andra diam. Lama. Pandangannya menerawang, seolah menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat Anaya. Sesuatu yang tersembunyi, mungkin berat. Mungkin menakutkan.

Tak ingin membiarkan keheningan memanjang, Anaya mendekat dan berjinjit. Anaya mengecup bibir Andra lebih dulu. Ciuman itu singkat, tapi sangat bermakna. Di dalamnya, ia ingin menyampaikan semuanya—rindu, sayang, dan rasa takut.

Wajah mereka masih dekat saat Andra menarik napas dalam. Namun ada jeda yang membuat Anaya sadar—sesuatu sedang menjauh.
"Kamu kenapa?" bisiknya, mencoba mencari jawaban. "Ada yang salah dari omongan aku?"

GALANDRA - (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang