77| Final Secrets

475 6 2
                                        

4K+ kata nihhh
Mana dukungannya🔥🔥🔥

Greget bgt sama part kali ini
Semoga suka yaa sampai akhir sama cerita ini

Happy Reading!

***

Pagi itu, langit di luar jendela tampak kelabu. Udara masih membawa sisa embun malam, dan aroma roti panggang memenuhi dapur kecil tempat Anaya dan Natan duduk berhadapan. Suasana di dalam rumah yang biasanya dipenuhi suara tawa atau obrolan ringan kini sunyi, hanya diselingi suara detik jam dinding dan derit halus sendok menyentuh pinggiran piring.

Di hadapannya, Natan menunduk. Sendok yang digenggamnya hanya dimainkan pelan, tanpa benar-benar menyentuh makanannya. Matanya kosong, menatap ke arah roti yang tak tersentuh, seolah pikirannya sedang berada jauh dari meja itu.

Anaya, yang berdiri di dekat wastafel, menuangkan susu ke dalam gelas kecil. Ia mencoba bersikap biasa, menjaga nada suaranya tetap ringan meski dadanya terasa sesak. Tapi dari sudut matanya, ia tahu—anak itu memendam sesuatu. Anaya bisa merasakannya dari cara Natan diam terlalu lama, dari cara anak itu menghindari tatapannya sejak mereka duduk.

"Sayang, hari ini masuk sekolah baru sama anaknya Tante Clara, kan, ya?" Anaya membuka percakapan dengan suara ceria yang dipaksakan. "Namanya siapa?"

Natan hanya mengangguk pelan, tak menatap. "Valetta." Lalu, dengan nada yang datar dan agak berat, ia berkata, "Hari ini Buna yang anter, Natan sekolah?"

Pertanyaan itu membuat Anaya terdiam sesaat. Ia tak menyangka akan mendengar nada harap seperti itu dari Natan. Ia berusaha tersenyum, meski tak sepenuhnya berhasil, lalu menjawab dengan lembut, "Natan maaf, hari ini Om Rafael yang anterin, ya? Buna harus ke kantor lebih pagi."

Keheningan kembali turun. Natan tetap tersenyum tipis dan menunduk, matanya kini mengarah ke sisi meja, entah menatap apa. Lalu perlahan, terdengar suaranya lagi, lebih pelan, nyaris berbisik.

"Buna, Natan boleh tanya sesuatu?"

Anaya menoleh, menatap wajah putranya yang masih dipenuhi sisa embun pagi dan kepolosan yang menyesakkan.

"Tentu boleh, Sayang. Tanya apa?"

"Natan ada salah, ya, sama Buna?" Suaranya parau. "Apa Natan bikin Buna sedih?"

Dada Anaya terasa dihantam dari dalam. Ia bergegas menghampiri Natan dan meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, memeluknya erat seolah ingin melindungi bocah itu dari dunia dan luka yang tak seharusnya menjadi miliknya.

"Enggak, Sayang... kamu nggak salah. Sama sekali nggak salah," ucap Anaya, suaranya pecah.

"Terus kenapa?" Natan menengadah. Mata kecilnya yang berkaca-kaca menatap lurus ke mata ibunya. "Kenapa Buna sedih terus? Kenapa Buna nggak mau cerita?"

Anaya terdiam. Untuk sesaat ia hanya bisa menatap anak itu, menelan rasa bersalah yang tak kunjung habis. Betapa ia berharap bisa menjelaskan semuanya tanpa melukai.

"Buna juga bingung harus ngomong apa, Natan. Kadang, Buna juga sedih. Tapi nggak tahu cara nunjukinnya tanpa bikin Natan khawatir..."

Mereka saling menatap, dan Anaya bisa melihat dengan jelas—betapa anak itu memendam semuanya sendirian, betapa ia tumbuh lebih cepat hanya karena mencoba mengerti kesedihan yang tak pernah dijelaskan.

"Aku tahu mungkin Buna masih nganggap aku anak kecil," kata Natan perlahan, menunduk kembali. "Tapi aku bisa ngerasa kalo beberapa bulan ini Buna makin beda, Buna seperti orang lain."

GALANDRA - (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang