78| Still Yours

1.1K 14 0
                                        

Akhirnya bisa update lagi
Semoga ending ini bisa sesuai dengan ekspektasi kalian yah

Happy Reading!

***

Sirine meraung bersahut-sahutan, bersamaan dengan suara baling-baling helikopter yang mendarat di helipad darurat. Kabar tentang Andra yang datang dalam kondisi kritis membuat semua mata terarah ke langit.

Tak lama kemudian, deretan dokter dan suster mendorong brankar memasuki ruang IGD. Anaya berdiri di tengah lorong, napasnya terengah, wajahnya pucat pasi. Dia nyaris tak mampu berdiri tegak saat melihat kerumunan tenaga medis berlarian, bergerak cepat seolah berpacu dengan maut.

Lalu, di sela-sela kesibukan itu, matanya menangkap sosok seseorang.

Pria berkemeja hitam lusuh, tubuhnya kurus dan tampak lelah. Wajahnya penuh luka, ada perban di kepala dan lebam di sekitar pelipis. Dia tidak terbaring di atas brankar, tidak dibawa masuk ke IGD—dia berdiri.

Anaya terpaku. Mata mereka bertemu. Dia tersenyum, meski wajahnya tampak penuh sakit.

Air mata Anaya jatuh tanpa suara. Tangannya menutup mulut, tubuhnya gemetar hebat. Hanya beberapa langkah. Hanya beberapa langkah lagi untuk menjangkau pria yang selama ini Anaya pikir tak akan kembali.

Andra berjalan perlahan, matanya tak lepas dari wajah perempuan itu.

Di belakang Anaya, Raka, Chris, Lalita, Gaby, dan Neo berdiri membeku. Mereka menatap Andra seakan melihat hantu, tapi satu demi satu, senyum bahagia merekah di wajah mereka.

"Aku kembali, Nay," ucap Andra pelan, suaranya serak namun jelas. "Maaf kalau aku bikin kamu khawatir. Aku—"

Kalimat itu tak sempat selesai. Anaya melangkah maju, berdiri berjinjit, dan langsung mencium bibir Andra. Tanpa izin siapa pun. Tanpa aba-aba. Tanpa peduli berapa pasang mata menatap keduanya. Karena ini bukan sekadar ciuman, tapi ada rindu dan luka yang butuh Anaya obati saat itu juga.

Di belakang mereka, suasana haru itu pelan-pelan diselingi oleh kekacauan kecil yang tak bisa dihindari. Emosi yang sejak tadi ditahan, kini meledak jadi gumaman geli dan reaksi spontan dari para sahabat yang menyaksikan semua adegan tadi secara langsung.

"Ya ampun," desis Gaby, menutup mulut dengan tangan, antara syok dan geli melihat keberanian Anaya yang spontan mencium Andra di depan umum—dan di depan anak mereka sendiri.

"Waduh Natan, masih kecil! Jangan liat!" seru Raka panik, buru-buru maju dan menutup mata Natan dengan kedua tangannya.

Namun, sudah terlambat.

Natan hanya tertawa kecil, lalu melepas tangan Raka dari wajahnya dengan polos. "Natan tahu kok. Mama sayang Papa."

Raka menatap bocah itu dengan napas berat, lalu berbalik ke arah Chris. "Ini anak terlalu pinter atau terlalu cepat dewasa, sih?"

Chris berdiri di samping Lalita, mengangguk pelan sambil bersandar ringan ke tiang terdekat. Matanya masih terpaku ke arah pasangan yang kini sedang dikelilingi cahaya lampu rumah sakit.

"Wah... bisa gila gue. Pro ketemu pro," gumamnya sambil menggeleng, kagum sekaligus nyaris tak percaya.

Raka terkekeh, lalu menggeleng-geleng tak percaya. "Gue nggak nyangka Andra beneran punya pawang," katanya lirih tapi jelas. "Lengah dikit, keknya abis tuh dimakan. Mana nggak dikasih kesempatan ngomong pula, maen sikat aja kaya tahanan kabur dari penangkaran."

Anaya akhirnya menarik diri, napasnya masih terengah, wajahnya basah oleh air mata. Andra menatapnya dengan mata berkaca.

"Nay..., " Andra tersenyum tipis, setengah berbisik. "Aku rasa aku belum siap bales kamu di sini sekarang," katanya, separuh menggoda. "Lima orang di belakang kamu udah kayak singa natap garang aja kaya lapar."

GALANDRA - (COMPLETED)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang